Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 28


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 28


Senja dan Tami tidak banyak bicara setelah mendengar Ibu Siti bercerita. Mereka berdua meringkuk tidak terlalu jauh dari api unggun. Udara malam di ruang terbuka, membuat dingin menusuk kulit hingga menembus tulang. Walaupun mereka telah menggunakan celana panjang, juga jaket tebal, rasa dingin tidak terasa ringan.


“Gimana nih, Ja? Apa kita pura-pura sakit aja?” Ujar Tami memelas.


Senja hanya menatap Tami tanpa menyahutinya.


“Senja, lo dengar enggak, sih?”


“Iya, gue dengar. Kita bisa apa? Gue bawa tali kok. Nanti kita ikat tangan supaya enggak misah, gimana?” Saran Senja untuk menenangkan teman sekelasnya itu. Kebetulan mereka berada dalam satu kelompok, yaitu kelompok tujuh.


“Boleh juga ide lo. Tapi, kalau kejadian dulu terulang lagi, gimana?”


“Kita bicara yang baik-baik aja, ya. Biar enggak kepikiran kesana terus.” Senja melirik pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. “Sekarang kita tidur dulu. Nanti kalau dibangunin untuk jurit malam, kita ada tenaga. Enggak ngantuk-ngantuk amat lah.” Sambung Senja.


Tami menganggukkan kepala. Mereka berjalan menuju tenda. Mereka akan menempati tenda yang sama dengan satu orang perempuan lainnya. Nampaknya Sagita masih berada di dekat api unggun bersama yang lain.


Senja dan Tami memang mendengar desas-desus anak hilang yang terjadi dua tahun yang lalu. Hal itu membuat mereka menjadi gelisah dan juga khawatir. Tidak ada konfirmasi dari pihak sekolah tentang pembenaran atau penolakan isu ini. Semua hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut saja.


Tami dan Senja merebahkan diri diatas matras tipis di dalam tenda. Senja menambahkan selembar kain untuk mengalasi matras. Dia takut jika matras itu akan membuat tubuhnya gatal-gatal.


Sesaat kemudian Sagita masuk ke dalam tenda.


“Kak Senja dan Kak Tami sudah tidur?” Tanya Sagita siswa kelas 5-B.


“Belum,” Sahut Senja dan Tami kompak.


“Mumpung Sagita ada di sini, gue cabut dulu ke kelompok dua ya. Mau liat bocah, kasihan dia baru pertama kali jauh dari keluarga.” Ucap Senja.


***


Sena masih duduk di depan tenda bersama Elano, Doni, dan Danti. Mereka berempat membuat api unggun kecil untuk menerangi pengelihatan, serta agar terasa lebih hangat.


Sena memegang perutnya. Tiba-tiba rasa lapar memanggil dari dalam perut. Dia merutuki makhluk yang tinggal di dalam sana. Kenapa harus disaat begini makhluk itu terbangun.


Samar Sena melihat Senja mendekat.

__ADS_1


“Belum pada tidur kalian?” Tanya Senja sesaat setelah sampai di antara Sena dan yang lain.


Doni menoleh, “Woi, ngapain lo di sini? Enggak istirahat?”


“Gue bawa mi seduh buat bocah. Tapi gue bawa cuma satu. Ini ada coklat. Kalian ada yang mau?” Balas Senja.


Wajah Sena berubah cerah saat melihat tangan Senja menyerahkan segelas mi seduh. Rasa hangat menyebar melalui sterofoam menuju tangan Sena. Senja meletakkan tubuhnya di antara Sena dan Elano.


Doni dan Elano meraih coklat yang diberikan oleh Senja.


“Kakak enggak minta?” Sahut Sena.


“Enggak, aku udah kenyang. Makan yang banyak. Jangan nyisa.” Balas Senja.


“Ternyata lo Kakak yang baik ya, Ja.” Ucap Doni dari seberangnya.


“Ya iya lah, punya adik satu-satunya ini.”


“Lo cuma punya satu adik? Bukan dua?”


“Bukan. Kenapa? Lo mau jadi adik gue?”


“Eleh! Siapa yang sudi?”


Sena memerhatikan Doni dalam diam sambil melahap mi pemberian Senja. Sena merasa curiga jika Doni bisa melihat anak kecil yang mengikutinya sejak sore tadi.


“Iya, Pak. Lagi sebentar kami istirahat.” Sahut Doni.


“Yang lain sudah di dalam?” Balas Pak Guntur.


“Ada yang sudah, ada juga yang masih main di tetangga, Pak.” Jawab Elano sambil menahan dingin.


“Kamu kedinginan, El?” Pak Guntur lalu merogoh minyak kayu putih, dan menyerahkannya kepada Elano.


“Terima kasih, Pak. Nanti jurit malam, Bapak nemenin kita, enggak?” Balas Elano.


“Nanti di sini akan dijadikan sebagai Pos 1, dari Pos 1 menuju Pos 2 kalian jalan tanpa saya. Dari Pos 2 menuju Pos 3 baru deh saya temenin. Karena di dalam kebun, kami takut ada bahaya.” Pak Guntur memberikan kisi-kisi mengenai jurit malam nanti.


“Memangnya jam berapa mulai jurit malam, Pak?” Tanya Danti.

__ADS_1


“Rahasia, dong. Makanya kalian istirahat dulu. Supaya nanti enggak ngantuk. Tahu-tahu malah ketiduran di kebun, nanti ditangkap serigala.” Ucap Pak Guntur menggoda anak-anak.


“Kalau ada serigala, biar saya tendang dia, Pak!” Balas Doni semangat. Beberapa bulan ini, Doni memang memantapkan latihannya dalam bidang olah raga karate.


“Iya deh, yang atlet karate. Nanti Bapak tolong dijagain ya, Doni.” Balas Pak Guntur selaku guru olah raga mereka di sekolah.


Pak Guntur kemudian melihat Senja. “Kamu kok di sini?”


“Iya, Pak. Jalan-jalan sebentar.”


“Berani balik ke tenda? Bapak antar, ya?” Ajak Pak Guntur.


“Ayo, Pak!” Senja bergegas bangkit dan mendekati Pak Guntur yang berjongkok di antara Doni dan Danti.


***


“Pak, nanti di Post satu akan ada yang jaga enggak, ya?” Tanya Senja ketika berdampingan menuju tenda di kelompok tujuh.


“Pasti ada. Cuma, saya belum tahu siapa yang akan bertugas. Kenapa?” Tanya Pak Guntur balik. Nampak rahang dewasa pada wajah Pak Guntur yang membuatnya terlihat gagah. Senja sempat mengagumi walaupun hanya sedetik. Pak Guntur memang terkenal dikalangan siswa-siswa. Guru muda yang selalu bersikap ramah dan akrab kepada siswa, membuatnya menjadi guru terfavorit beberapa tahun belakangan ini. Wajahnya yang cukup tampan dan selalu bersih, membuat Pak Guntur menjadi idola. Walaupun usianya kini memasuki angka dua puluh tujuh tahun, belum pernah terdengar jika Pak Guntur memiliki seorang kekasih.


“Siapa tahu ada teman-teman yang enggak bisa lanjut berkegiatan, kan ada yang menemani di sini, Pak.” Balas Senja.


“Umur kamu berapa, sih?” Tanya Pak Guntur.


“Sebelas tahun, Pak. Memangnya kenapa?” Balas Senja.


“Masih kecil banget, ya. Tapi kamu perhatian sama yang lain.” Jawab Pak Guntur.


Senja bersemu mendengar pujian dari Pak Guntur.


“Ini tenda saya, Pak. Terima kasih ya sudah menemani.” Ucap Senja.


“Sama-sama. Saya juga mau ngecheck yang lain dulu. Selamat istirahat, ya.”


“Selamat malam, Pak.” Pamit Senja yang disambut dengan lambaian tangan dari Pak Guntur.


Senja tidak segera masuk ke dalam tenda. Dia melihat ke sekitar lapangan. Keadaan sudah semakin sepi. Walaupun sisa api unggun masih menyala, tidak banyak yang bisa dilihat karena malam semakin larut.


Suara siswa-siswi yang sudah masuk ke dalam tenda masih terdengar riuh. Senja beranjak membalikkan tubuhnya dan memasuki tenda. Tami dan Sagita sudah tertidur pulas. Senja menutup pintu tenda dari dalam. Lalu, tanpa sengaja matanya menangkap gerakan di seberang sana. Nampak samar Pak Hartanto yang sedang berjalan menuju toilet di ujung lapangan, dekat dengan sekolah dan juga kebun pisang. Senja menghentikan kegiatan awal yang hendak menutup pintu. Dalam diam Senja memperhatikan gerak-gerik Pak Hartanto dan terkesiap menahan napas. Beliau berjalan bukan ke toilet. Namun masuk ke dalam kebun pisang.

__ADS_1


Dari kejauhan, Senja juga melihat Ibu Siti sedang memperhatikan pergerakan Pak Hartanto.


***


__ADS_2