
Mamaku Hantu
Part 14
Sena tertegun memandang surat pemberitahuan dari pihak sekolah untuk orang tua.
“Kenapa? Kan Sena senang berkemah. Bukannya Sena terus menunggu kesempatan ini?” Agia heran melihat anak bungsunya tidak terlihat antusias seperti teman-temannya yang lain.
“Aku takut, Ma.” Sahutnya berani karena kini dia hanya seorang diri di dalam kelas. Jika biasanya setelah makan siang dia akan bermain bersama teman-teman, sejak Agia koma Sena memilih untuk menyendiri.
“Takut apa?” Agia menaikkan alisnya heran.
“Takut aku bisa lihat yang seram-seram.” Sahutnya malas.
“Ah, enggak ada yang kayak gitu.” Balas Agia menenangkan Sena.
“Enggak usah ngerayu deh, Ma. Kan Mama tahu sendiri tempat kemahnya seperti apa. Mana mungkin engga ada kayak gitu.”
Agia mencuil pipi ranum Sena. “Selama Sena enggak usil, mereka juga enggak akan ganggu.”
Sena merengut mendengar jawaban Mamanya yang diplomatis.
Sekolah Senja dan Sena mengadakan acara akhir semester dengan berkemah di lapangan belakang sekolah. Tanah kosong yang dijadikan lapangan sepak bola oleh warga sekitar. Lapangan itu diapit oleh sawah dan hutan kecil di bagian timur dan selatan. Sementara bagian utara terlihat gunung yang sangat indah. Akses menuju lapangan itu hanya bisa melalui sawah. Oleh warga, dibuatkan jalan setapak selebar seratus dua luluh senti meter, agar mempermudahkan para petani meraih sawah yang mereka garap.
Di sebelah jalan setapak, terdapat sungai kecil untuk mengairi sawah. Jika pada masanya, akan banyak ada belut di sekitar sana. Otomatis warga sekitar akan ramai berada disekitaran sawah.
Sementara rumah warga berada sekitar dua kilometer di sebelah selatan sekolah dan juga lapangan.
Perkemahan ini hanya diperuntukkan kepada kelas empat, lima, dan enam saja. Guru-guru pun telah menyiapkan banyak sekali kegiatan demi menunjang keseruan para peserta kemah.
Ini kali kedua untuk Senja mengikuti kegiatan berkemah, tidak untuk Sena. Seperti biasa, Senja akan antusias terhadap apapun yang akan dia lakukan. Persiapan terkecil pun dia siapkan sendirian. Terlebih adiknya yang pertama kali akan bergabung mengikuti kegiatan, maka segala persiapan akan dikalikan dua.
Diantara teman-temannya, Senja memang terkenal memiliki ketelitian yang berlebihan. Jika bepergian pada musim kemarau, teman-temannya pasti akan tertawa saat mendapati payung lipat di dalam tasnya. Jika musim hujan datang, teman-temannya tertawa lebih keras saat melihat sandal dan juga pakaian cadangan di dalam tas Senja.
Seperti kegiatan kemah dua tahun lalu, seluruh peserta menertawakan Senja karena membawa gayung mandi. Namun apa yang terjadi berikutnya? Hampir semua orang silih berganti meminjam gayung mandi milik Senja.
Tanpa ada yang mengarahkan, Senja akan membawa ikat rambut cadangan, krim anti nyamuk, mantel hujan, bahkan gunting kuku.
Biarpun dirinya sering dikatakan sebagai orang ribet, tapi teman-teman tidak akan ragu menanyakan sesuatu yang pasti dibawa oleh Senja.
Perkemahan akan dilangsungkan sepuluh hari lagi. Namun, Senja sudah hampir selesai menyiapkan semua perlengkapan miliknya dan juga Sena.
“Kak, pikiran dari mana sih yang bisa bikin Kakak harus bawa colokan panjang begini?” Sena terlihat heran dengan tingkah laku kakaknya itu.
__ADS_1
“Ya kali aja nanti ada yang perlu untuk ngisi daya. Jaga-jaga apa susahnya sih?” Sahut Senja tanla menoleh adiknya.
“Terus ini kain untuk apa?”
“Alas tidur.” Sahut Senja santai.
“Bukannya kita tidur di dalam tenda?”
“Iya, emangnya gak dialasi? Nanti kulit kamu gatal-gatal!” Balas Senja galak.
“Ya Tuhan, Kak. Serius ini Kakak ada yang enggak beres sama otaknya.” Sena memutuskan untuk membongkar isi tas yang disiapkan oleh Senja.
“Ini tas segede ini untuk aku, Kak?”
Senja mengangguk mantap dan melampirkan senyuman pada wajah cantiknya.
“Kak! Yang benar aja. Kita kemah cuma semalam. Tapi Kakak persiapannya kayak kita mau pulang kampung selama tiga bulan, Kak.”
Senja tidak menyahut.
“What? Kapas kecantikan? Untuk apa aku bawa beginian?” Sena mengeluarkan seluruh isi tasnya. “Ini apa?” Sena mengeluarkan tiga mangkok plastik sereal instant dengan merk terkenal.
“Sarapan lah.”
“Nyiapin apaan? Nanti kita yang disuruh masak! Memangnya kamu bakalan kuat nahan lapar? Ya ganjel perut.”
Sena memutar bola matanya tidak habis pikir.
“Terus ini apa? Ngapain Kakak bawa pluit?”
“Itu lepri bukan pluit!”
“Buat apa, Kaaaaaak?” Tanya Sena sewot dengan memanjangkan kata Kak untuk Senja.
“Nanti kalau kita ada jurit malam, bisa aja tersesat. Tiup deh itu lepri. Udah deh. Kamu tinggal bawa aja tas itu. Nanti semua yang kamu perlu pasti nemu di dalamnya.”
“Luar biasa sekali Kakak ini. Kulkas sama jendela rumah enggak dibawa sekalian?”
***
“Pa, dua hari lagi ada pengambilan raport. Papa bisa datang?” Tanya Senja kepada Papanya saat sarapan. Pagi itu mereka sarapan bekal dari Nenek kemarin. Bagi tinggal menghangatkannya saja untuk sarapan.
“Loh, sudah habis satu semester? Cepat ya?” Bagi tidak menyangka bahwa hari berlalu begitu cepat.
__ADS_1
“Iya, Pa. Kita terlalu fokus sama keadaan Mama. Makanya jadi enggak terasa ya, Pa.” Balas Sena.
“Papa bisa ambil raport?” Tanya Senja sekali lagi.
“Jam berapa?”
“Biasanya sih jam sembilan pagi, Pa.”
“Ya sudah, Papa minta cuti kalau gitu.”
“Memangnya boleh?”
“Memangnya siapa yang melarang?”
“Enggak tahu. Kan Papa jarang cuti.”
“Iya, ya. Kok Papa jarang cuti ya?”
“Lah nanya kesini. Mana aku tahu!”
Tiba-tiba terdengar suara Silvia di pintu gerbang.
“Pa, ngapain Tante Silvi pagi-pagi ke rumah?” Tanya Sena dengan wajah tidak menyenangkan.
“Enggak tahu.” Bagi beranjak menuju depan rumah. Senja dan Sena pun turut serta.
“Selamat pagi, Kak Bagi. Saya ke sini mau ambil nota-nota yang Kak Bagi bawa beberapa waktu lalu.” Kata Silvia saat berhasil berhadapan dengan keluarga Agia.
“Oh, tidak usah, Sil. Nanti biar saya yang akan membuatkan laporannya. Nanti kamu kumpulkan saja nota-nota yang seharusnya ya.” Balas Bagi dari balik gerbang. Dia enggan membukakan pintu gerbang untuk Silvia.
Silvia diam mencerna perkataan Bagi. Wajahnya memerah menahan malu atas segala tindakannya.
“Saya juga akan buatkan nota khusus untuk penjualan. Nanti pada nota baru, akan langsung tercantum nomor nota. Jadi tidak akan ada penyelewengan uang yang masuk hampir enam ratus juta.” Lanjut Bagi sinis.
Senja dan Sena menoleh Bagi terkejut.
Silvia semakin tenggelam menahan rasa malu di hadapan keluarga Agia.
“Biar saya jelaskan dulu, Kak.” Silvia berusaha menyanggah tuduhan Bagi.
“Lain kali saja. Saya dan anak-anak akan segera berangkat.” Bagi menggurung Senja dan Sena meninggalkan Silvia seorang diri.
Tiba-tiba Bagi berhenti dan berbalik menghadap Silvia yang masih tertunduk. “Saya juga akan memasang CCTV di toko. Mungkin nanti sore saya akan ke toko bersama teknisi.” Bagi melanjutkan.
__ADS_1
Ingin rasanya Silvia pergi dari sana secepat mungkin. Dada Silvia bergemuruh mendengar ucapan Bagi.