
Tiga hari bergitu saja. Tidak banyak persiapan yang dilakukan oleh Matthew dan kedua adiknya. Mereka hanya mempersiapkan beberapa potong pakaian. Selama tiga hari ini mereka tidak melakukan latihan apapun. Albert melarang mereka latihan karena ia ingin ketiganya menyimpan tenaga mereka.
Perjalanan yang akan mereka lakukan adalah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Menurut perkiraan Albert, jika mereka terus melakukan perjalanan ke Akademi Andradius dan hanya melakukan pemberhentian ketika malam untuk beristirahat, mereka masih membutuhkan waktu dua minggu. Itu pun jika mereka memakai portal teleportasi yang biasa ada di kota besar.
Albert masih sanggup untuk membayar portal telportasi untuk mempersingkat waktu yang mereka habiskan dalam perjalanan. Namun tidak banyak kota memiliki portal teleportasi. Hal itu berarti mereka harus berjalan kaki selama perjalanan. Jika memang demikian, mereka membutuhkan waktu lima minggu dalam perjalanan.
Jika kepala akademi bisa menemukan monster yang cukup jinak untuk mereka gunakan sebagai kendaraan, maka perjalanan mereka bisa lebih dipersingkat. Namun tetap saja itu membutuhkan waktu. Mereka masih tetap harus melakukan perjalanan tiga sampai empat minggu dengan cara ini.
Untuk itulah Albert melarang ketiga anaknya latihan. Jasper banyak menghabisakan tiga hari ini di kandang Cosen Cow milik mereka. Anak laki-laki itu seolah enggan berpisah dengan penghasil susunya selama sepuluh tahun ini. Ia tidak bisa membayangkan kedepannya bagaimana kehidupannya tanpa meminum susu Cosen Cow.
Selama sepuluh tahun ini, Ken memang meminum susu Cosen Cow setiap harinya tanpa ada jeda sekalipun. Hal itu jugalah yang membuatnya merasa berat berpisah dengan monster tersebut. Kini Ken berdiri di depan kandang Cosen Cow, seolah memberikan salam perpisahan terakhir.
“Sudahlah Jas. Kita bisa mencari pengganti Cosen Cow nantinya. Sebentar lagi kita akan pergi dari sini. Aku yakin kita bisa menemukan makanan-makanan lain yang lebih lezat. Siapa tahu kita bisa merasakan susu dari monster tingkat platinum nantinya.” Matthew menepuk pelan pundak Jasper.
Matthew mencoba menghibur saudara kembarnya itu. Sejak mengetahui fakta bahwa kerakusan adik-adiknya adalah efek samping dari elemen yang mereka miliki, Matthew tidak lagi mempermasalahkan kerakusan mereka. Ia sekarang bisa memaklumi hal itu.
“Tetapi aku tidak akan lagi bisa menikmati susu mereka Matt. Kau dengar bukan, Ayah bilang setidaknya kita membutuhkan waktu beberapa minggu untuk pergi ke Akademi Andradius. Waktu yang paling cepat adalah tiga minggu. Kau bisa bayangkan itu Matt, tiga minggu tanpa susu Cosen Cow, bagaimana jadinya hidupku.”
Matthew memutar bola matanya mendengar perkataan Jasper. “Jangan berlebihan seperti itu Jas. Kau tidak akan mati meski Kau tidak meminum susu Jas.”
“Tidak bisakah Kau sedikit bersimpati padaku Matt? Aku sedang bersedih saat ini. Apalagi sejak besok kita tidak akan lagi bisa makan masakan Ibu” ucap Ken sedikit marah. “Aku tidak yakin kita bisa makan enak jika kita bersama Pak Tua itu.” Jasper sedikit berbisik ketika mengatakan hal ini.
__ADS_1
“Tidak bisakah Kau berhenti marah padanya Jas. Demi Dewa, itu hanya segelas susu. Kau masih saja memusuhi Kepala Akademi sampai saat ini.”
“Tidak akan ada maaf untuk dia. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang sudah merebut makananku. Sehebat apapun dia aku tidak takut padanya.”
“Terserah Kau saja Jas.”
“Tetapi apa yang di katakan Jasper ada benarnya Matt. Aku juga tidak akan memaafkan siapa pun yang merebut makananku. Itu adalah hidupku.” Imbuh Ellie yang sedari tadi diam mendengarkan perdebatan antara Matthew dan Jasper.
“El sudah ada di timku sekarang Matt, dua lawan satu.” Ucap Jasper yang sekarang sedang melakukan gerakan tos dengan Ellie.
“Apa kalian sudah selesai?” Sebuah suara menghentikan percakapan keketiga bersaudara itu. Dari kejauhan terlihat Elisa berjalan mendekati mereka. “Apa kalian sudah siap?” tanya Elisa yang kini sudah berdiri di depan ketiga anaknya itu.
Sudah pasti ketiga anaknya akan mengalami perubahan selama beberapa tahun kedepan bukan? Oleh karena itu Elisa ingin mengingat wajah dari ketiga anaknya. Ia ingin mengingat wajah lugu ketiga anaknya. Setelah melakukan perjalanan ini, Elisa yakin keluguan yang ada pada mereka akan hilang. Mungkin saja mereka akan melihat darah setelah ini.
“Kemarilah.” Ucap Elisa melambaikan tangannya kepada ketiga anaknya.
Tanpa menunggu lama Matthew mendekat ke arah ibunya ia mengetahui apa yang ingin ibunya lakukan. Seperti dugaan Matthew, Elisa memeluk erat tubuhnya. Jasper dan Ellie yang menyusul dibelakang Matthew, juga Elisa tarik ke dalam pelukannya.
Tidak ada suara dari keempat orang tersebut. Mereka diam seolah menikmati saat-saat terakhir ini sebelum mereka berpisah. Elisa melepaskan pelukannya kepada anak-anaknya. Ia memegang kepala Matthew dengan kedua tangannya. Dengan ibu jarinya Elisa mengelus pipi Matthew.
“Kau yang paling tua. Ibu tau Kau memiliki kecerdasan dan kedewasaan lebih tinggi dari anak-anak seusiamu. Ibu ingin Kau menjaga kedua adikmu ini. Jangan biarkan mereka bertindak ceroboh hanya karena untuk mengisi perut mereka. Ibu juga mau Kau berhenti memberikan jatah makanmu kepada adikmu. Kau juga masih membutuhkan nutrisi untuk tumbuh. Jangan manjakan adikmu.”
__ADS_1
Elisa sekali lagi memeluk singkat Matthew dan kemudian mencium kening anak sulungnya itu. Mata Elisa mulai berkaca-kaca ketika dirinya memandang ke arah Jasper. Ia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Matthew. Elisa meletakkan kedua tangannya di kepala Jasper.
“Kau harus menuruti perkataan Kakakmu. Jangan bertindak ceroboh. Meski kakakmu dewasa dia terkadang terlalu stres dalam memikirkan sesuatu. Kau harus bisa mengingatkan dia. Fisikmu lebih kuat dari kakakmu, Ibu mau Kau juga melindunginya.”
“Jangan hanya berpikir dengan perutmu. Sesekali Kau perlu berkonsultasi terlebih dahulu kepada kakakmu sebelum melakukan sesuatu. Kau juga jangan terus menerus meminta makanan kakakmu.”
Jasper menghapus air mata yang mengalis di pipi Elisa. “Jangan menangis Ibu. Jika Kau menangis, maka kecantikanmu akan berkurang. Ayah pasti akan memukulku jika melihatmu menangis seperti ini. Dia pasti berpikir aku sudah melakukan sesuatu padamu. Jangan menangis Ibu.” Jasper mencoba menenangkan Elisa.
Matthew menghapiri mereka dan memeluk Elisa dari samping. Ellie juga tidak mau ketinggalan ikut memeluk Ibu mereka yang sekarang sudah mulai menangis itu.
“Kami akan mengingat semua nasehatmu Ibu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami akan saling menjaga satu sama lain. Seperti halnya Ayah dan Ibu yang menjaga satu sama lain. Aku tidak akan membiarkan kejadian buruk menimpa Jasper dan Ellie.”
“Lagi pula Kepala Akademi akan menemani kami dalam perjalanan ini. Setidaknya dengan bersama dia kami akan baik-baik saja bukan? Setelah ini pun kami akan berada di akademi. Itu tempat teraman bagi kami saat ini bukan? Jadi Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku dan kedua adikku.” Matthew mencoba meyakinkan Ibunya.
Elisa menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Baiklah. Ibu akan berhenti menangis.” Ucap Elisa sembari menghapus air matanya.
Elisa lalu menyodorkan sebuah kantong kecil kepada Matthew. Menurut Matthew, bentuk kantong tersebut mirip dengan kantong uang pada jaman kuno di dunianya dulu. Kantong tersebut terbuat dari kulit monster.
Di kulit terluar kantong Matthew bisa melihat garis-garis samar yang membentuk sebuah rune. Setelah Matthew memusatkan perhatiaanya ke kantong tersebut, Matthew bisa melihat beberapa bola elemen berwarna silver di sekitar kantong. Sebuah pemikiran muncul begitu saja di benak Matthew ketika melihat hal tersebut.
‘Apakah ini yang namanya kantong portable yang memiliki ruang penyimpanan di dalamnya?’ gumam Matthew dalam hati.
__ADS_1