Master Of Elements

Master Of Elements
ME 15 Salam Perpisahan (3)


__ADS_3

Di depan rumah mereka sudah ada Albert dan Kepala Akademi menunggu mereka. Kepala Akademi masih dengan pakaian lusuhnya. Sepertinya laki-laki itu masih berniat memakai penyamarannya yang sekarang.


Dari pembicaraan yang ia dengar, Matthew mengetahui bahwa penampilan dari Kepala Akademi adalah salah satu dari sekian penyamarannya. Matthew dengar Kepala Akademi menghabiskan sembilan bulan dari setahun waktunya dalam pengembaraan dengan berbagai penyamaran. Sampai sekarang pun Matthew tidak mengetahui wajah asli dari Kepala Akademi.


Sementara Albert, kali ini ia berpenampilan berbeda dari biasanya. Sebuah baju zirah berwarna silver menutupi sebagian besar dari tubuh Albert. Pedang yang selama ini Matthew lihat pun berada di pinggang Albert.


Garis samar terlihat di beberapa bagian baju zirah tersebut. Matthew yakin itu adalah rune untuk meningkatkan daya tahan dari baju zirah yang dipakai oleh Albert.


Di bagian dada kiri Albert terlihat sebuah gambar sebuah moster yang Matthew tidak mengetahui monster jenis apa itu. Monster itu berkaki empat dengan cakar seperti cakar burung. Ekor dari monster itu seperti ekor dari hewan melata. Kepala monster tersebut seperti kepala dari unggas. Dan lagi monster itu memiliki sayap.


Matthew yakin gambar tersebut merupakan sebuah simbol yang menandakan identitas pemakai. Matthew sendiri tidak mengetahui apakah itu simbol untuk knight dari kerajaan Frantico, kerajaan dimana Albert berasal, atau merupakan simbol dari keluarga Dawnson, keluarga asal Ayahnya.


Adanya simbol tersebut memberikan aura yang berbeda pada baju zirah yang dipakai oleh Albert. Baju zirah yang dipakai Albert selama ini hanyalah baju zirah dengan rune tanpa tambahan simbol-simbol apapun. Matthew yakin aura berbeda itu disebabkan oleh simbol tersebut.


Kini Matthew juga baru menyadari bahwa Elisa berpakaian berbeda dari biasanya. Ia memakai sebuah jubah panjang. Jubah itu berwarna hijau dengan aksen emas di beberapa bagian. Matthew juga bisa melihat sebuah simbol yang sama dengan yang Albert miliki di bagian dada sebelah kiri dari jubah yang Elisa pakai.


Kini Matthew mengetahui bahwa symbol itu bukanlah simbol keluarga atau kerajaan. Simbol itu sudah pasti merupakan simbol dari Akademi Andradius. Matthew membuat sebuah catatan kecil dalam hati, bahwa dia harus mencari informasi mengenai monster yang menjadi simbol akademi itu.


“Apa kalian sudah siap?” Tanya Kepala Akademi.

__ADS_1


“Mereka sudah siap.” jawab Elisa.


Albert mendekat ke arah kedua anaknya. “Aku yakin Ibu kalian sudah memberikan banyak nasihat kepada kalian. Jadi aku tidak akan berbicara banyak. Aku hanya ingin kalian mempergunakan waktu kalian sebaik mungkin. Kalian jangan menyobongkan diri kalian hanya kalian memiliki banyak elemen.”


“Kita belum tau apakah setelah ini kalian akan diterima menjadi murid akademi. Jadi jangan menanggapi orang lain jika tidak penting. Pergunakan waktu kalian untuk latihan suapaya kalian benar-benar bisa menjadi murid dari akademi.”


“Kalian harus menjauhkan diri kalian dari perhatian orang. Kalian harus bersikap rendah diri. Jangan sampai menarik perhatian orang lain untuk saat ini. Yang terpenting untuk kalian saat ini adalah memperkuat diri kalian. Akan ada saatnya bagi kalian untuk menunjukkan seluruh kemampuan kalian kepada semua orang. Tapi tidak untuk saat ini.” Ucap Albert memberikan nasehat kepada ketiga anaknya.


“Kami paham semua itu ayah.” Jawab Matthew. Matthew memandangi ayahnya dengan pandangan yang cukup serius.


“Ayah juga harus menjaga diri. Jika masalah ini sudah selesai, secepatnya kalian harus menemui kami. Kami akan menunggu kalian di akademi. Kami janji, kami akan menjadi jauh lebih kuat di pertemuan kita selanjutnya.”


Albert menganggukkan kepalanya, cukup puas dengan tanggapan yang diberikan oleh Matthew. “Bagus. Itu baru anakku. Kalian harus tetap bersemangat.” Albert mengalihkan pandangannya ke arah Elisa. “Apa kau sudah siap sayang?” Tanya Albert.


“Baiklah. Kepala Akademi kami akan berangkat duluan. Kau akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk pergi dari sini.” Ucap Albert.


“Tentu saja. Kalian harus tetap berhati-hati. Meskipun kalian memiliki kemungkinan untuk menang cukup besar, kalian tidak boleh lengah. Jangan meremehkan musuh meski mereka terlihat lebih lemah. Seekor ayam yang terpojok bisa berubah menjadi elang. Jadi berhati-hatilah.” Nasihat Kepala Akademi.


“Ya kami paham itu Kepala Akademi. Kami hanya berencana membawa mereka sejauh mungkin dari sini. Kami sama sekali tidak berniat bertarung dengan mempertaruhkan nyawa.” Jelas Elisa.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu. Setelah kalian berhasil mengalihkan semua musuh, kalian lebih baik melarikan diri. Sejam setelah kalian pergi aku akan pergi. Aku hanya butuh dua puluh menit. Setelah itu kalian bisa mundur dari pertempuran.”


“Baiklah.”


Albert mengeluarkan sesuatu dari cincin yang ada di tangannya. Melihat hal itu Matthew tidak terlalu kaget. Ia sudah menduga bahwa akan ada benda-benda lain yang memiliki ruangan di dalamnya.


Mungkin cincin, gelang atau bahkan kalung. Matthew yakin kantong ruang miliknya adalah tingkatan terendah dari benda yang memiliki ruang. Sudah pasti cincin milik Albert memiliki ruang yang lebih luas daripada kantong miliknya.


Barang yang diambil oleh Albert dari kantong ruang miliknya adalah sebuah boneka kayu. Tiga buah boneka kayu itu memiliki postur tubuh yang sama dengan Matthew dan kedua adiknya. Bahkan ketiga boneka itu juga memiliki rambut yang sama dengan ketiga saudara kembar itu.


Pakaian yang dipakai boneka tersebut adalah baju yang Matthew dan kedua adiknya pakai kemarin. Mungkin dengan baju itu, bau dari tubuh ketiganya akan cukup kuat. Bisa saja musuh memiliki seseorang atau monster peliharaan mereka yang ahli dalam mencium bau bukan?


Sebuah jubah juga dipakaikan kepada ketiga boneka tersebut. Jubah tersebut ditambahkan untuk menutupi beberapa bagian yang kurang meyakinkan. Seperti bagian wajah yang sangat terlihat bahwa itu adalah wajah dari benda mati. Tidak ada tanda kehidupan jika melihat wajah tersebut.


Sekarang Matthew mengetahui dari mana rasa percaya diri kedua orang tuanya ketika dengan yakin bisa mengalihkan perhatian orang-orang dari organisasi itu. Dengan melarikan diri membawa tiga boneka itu, Matthew yakin musuh bisa terkecoh. Matthew yakin mereka mengira bahwa Albert dan Elisa melarikan diri bersama dengan ketiga anaknya.


“Kalian benar-benar mempersiapkan semuanya rupanya.” Ucap Kepala Akademi sembari menganggukkan kepalanya. “Baiklah berangkatlah.”


“Jaga diri kalian.” “Hati-hati Ayah, Ibu.” Ucap Matthew dan kedua adiknya secara bersamaan sebelum Albert dan Elisa menghilang di balik gerbang rumah mereka.

__ADS_1


Halaman rumah itu hening ketika kedua pasangan suami istri itu pergi. Matthew dan kedua adiknya masih memandang lekat ke arah pintu gerbang yang tertutup. Mereka masih ingat nasihat kedua orang tua mereka. Mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk memperkuat diri.


Jika mereka lebih kuat, bukankah mereka tidak akan takut dengan organisasi itu bukan? Jika keluarga mereka memiliki kekuatan melebihi organisasi itu, maka mereka tidak perlu terpisahkan seperti ini. Matthew dan kedua adikny pun tidak perlu mengungsi seperti sekarang ini.


__ADS_2