
Ketika laki-laki bernama Leonard itu akan menyentuh Matthew, sebuah suara rendah penuh penekanan terdengar. Hal itu membuat mereka yang mendengar merasa ketakutan. Tetapi bagi Matthew, apa yang ia dengar itu adalah kabar gembira.
“Apa Kau sudah meminta ijinku untuk menyentuh anak itu?”
“Kakek John.” Ucap Matthew senang.
Matthew bersyukur John datang di waktu yang tepat. Ia tidak akan bisa membayangkan jika dirinya dibawa oleh orang-orang ini. Sudah pasti hidupnya akan sengsara. Akan sulit baginya kembali berkumpul dengan keluarganya.
John lalu mengangguk pelan ke arah Matthew yang masih berbaring di tanah. Sebenarnya John sudah tahu apa yang terjadi pada Matthew sejak awal. Tetapi, John tidak memiliki niatan untuk membantu Matthew.
John tidak sebodoh itu membiarkan Matthew pergi dari pengawasannya. Laki-laki itu menanamkan sedikit auranya di tubuh Matthew. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu kepada anak itu, John bisa mengetahuinya.
Tadi ketika dirinya tengah makan, ia merasakan sedikit fluktuasi dari aura yang ia tinggalkan kepada Matthew. Itu berarti Matthew dalam keadaan bahaya. Ketika dirinya datang, John melihat Matthew yang dikepung oleh lima laki-laki sekaligus.
John ingin melihat apa yang anak laki-laki itu lakukan dalam keadaan genting seperti itu. Apakah dia akan berlaari menuju kedai tempatnya berada untuk meminta bantuan, ataukah dia akan memberi John kejutan yang lainnya.
Nyatanya, Matthew memberinya kejutan yang luar biasa. Dia lebih memilih bertarung dengan orang-orang yang mengepungnya. Tidak hanya itu, Matthew juga bisa menggunakan elemen alam bertarung. Penggunaan elemennya cukup bagus pula.
Tetapi ada yang cukup mengherankan bagi John, dirinya sama sekali tidak merasakan fluktuasi elemen ketika Matthew menggunakan elemen-elemen tersebut dalam bertarung. Seingat John,Albert dan Elisa juga mengatakan bahwa mereka belum mengajarkan teknik penggunaan elemen kepada Matthew.
John juga tidak merasakan keberadaan rune pada diri Matthew ketika dirinya mengecek umur anak itu. Jadi, bagaimana anak itu bisa menggunakan elemen tanpa menggunakan Rune? John sendiri tidak pernah tahu ada manusia yang bisa melakukan hal seperti itu.
Selain selain ingin melihat pertarungan Matthew dengan lima orang laki-laki itu, John juga ingin menangkap bos mereka. Ia merasakan keberadaan orang lain yang juga mengawasi pertarungan Matthew. Ini lah alasannya John tidak segera menolong Matthew.
“Siapa Kau Pak Tua? Jangan ikut campur dalam urusan ini. Lebih baik Kau bersembunyi seperti yang lainnya.” Ucap Leonard.
Sebelum ini memang ada beberapa orang yang melihat Matthew dihadang. Tetapi, mereka lebih memilih bersembunyi daripada menolong Matthew. Ini karena mereka tahu diri. Penduduk desa ini sudah tahu kelompok siapa mereka.
__ADS_1
Dengan kekuatan mereka yang tidak seberapa, akan sangat sulit bagi mereka menolong Matthew. Yang ada mereka sendiri yang akan celaka. Kebanyakan penduduk desa ini adalah orang biasa, bukan seorang profesional.
“Kau masih terlalu muda untuk berbicara dengan nada itu padaku. Awalnya aku akan membiarkanmu hidup, tetapi aku merubah keputusanku itu. Aku akan membunuh kalian karena kalian berasal dari organisasi itu.”
“Membunuh kami? Heh.” Leonard mendengus mendengar ucapan John. “Itu tidak akan mungkin Pak Tua. Kau tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu.”
Leonard berkata demikian karena dirinya hanya merasakan fluktuasi kecil dari dalam diri laki-laki tua di depannya. Itu berarti, laki-laki ini memiliki kekuatan di bawahnya. Jika demikian, kenapa dirinya harus takut?
Laki-laki tua itu tidak akan bisa melakukan apa pun padanya. Membunuh? Itu bahkan tidak lagi pertanyaan siapa yang akan terbunuh terlebih dulu. jelas laki-laki tua ini.
“Rupanya Kau sangat ingin sekali mati ya. Baiklah aku akan menuruti permintaanmu itu.” Jawab John.
Setelah John berkata demikian, terjadi fluktuasi elemen yang cukup besar di sekitar John. Hal itu membuat Leonard langsung merasakan keringat dingin. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki di depannya memiliki kekuatan sebesar itu.
Ini tidak adil bagi Leonard, kenapa laki-laki itu menyembunyikan kekuatannya seperti itu? Jika ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki kekuatan di atasnya, maka Leonard tidak akan memprovokasinya. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Sayangnya, harapan Leonard ini tidak akan bisa terlaksana. Dirinya baru melangkah beberapa meter ketika ia merasakan hawa panas di belakangnya. Ketika ia melihat ke belakang, Leonard mendapati bola api yang memiliki diameter tiga puluh sentimeter, bergerak cepat ke arahnya.
Belum sempat Leonard memberikan respon, bola api itu sudah mengenai tubuhnya. Api langsung menjalar di tubuhnya. Dalam waktu singkat api itu membakar habis Leonard. Yang tersisa hanyalah debu yang mulai berterbangan, tongkat sihir yang tadi dibawa oleh Leonard, dan sebuah kantong kecil.
Setelah membereskan Leonard, John lalu melakukan hal yang sama kepada anak buah Leonard yang lainnya. Semua itu cukup mudah bagi John. Ia hanya menggunakan kekuatan setara dengan seseorang yang memiliki kekuatan di tingkat Emas V untuk membunuh mereka semua.
Matthew yang melihat semua itu, langsung berkeringat dingin. Ini adalah pertama kalinya dia melihat sebuah pembunuhan. Apalagi ini bukan pembunuhan biasa. Semuanya terbakar habis tidak bersisa. Baru sekarang Matthew benar-benar ingin cepat merasa lebih kuat lagi.
Dunia di luar tembok rumahnya sangat-sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari yang ia kira. Jika dirinya tidak bisa lebih kuat lagi, maka yang menjadi debu bukanlah Leonard dan kelima anak buahnya, tetapi dirinya.
“Apa Kau tidak apa-apa?” Suara John menyadarkan kembali Matthew dari lamunannya.
__ADS_1
Tanah keras yang sebelumnya sudah mengukungnya, kini berubah menjadi pasir. Mungkin karena orang yang mengendalikannya sudah meninggal, sehingga tanah itu tidak lagi keras.
“A-aku baik-baik saja Kakek John. Terima kasih sudah menolongku.” Jawab Matthew yang kini sudah bangkit dari posisi berbaringnya.
John ingin sekali menanyakan rahasia di balik penggunaan elemen yang dilakukan oleh Matthew. Tetapi, melihat anak itu yang masih nampak terpukul atas kejadian yang baru dilihatnya, John menundanya. Ia bisa menebak bahwa ini adalah pembunuhan pertama yang dilihatnya.
“Ayo kita kembali ke adik-adikmu.” Ajak John.
Matthew pun mengikuti John kembali ke kedai. Sesampainya di sana, Matthew langsung menenggak satu gelas minuman yang ada. Sekarang dirinya jauh lebih tenang. Ketika melihat ke arah kedua adiknya, Matthew bisa melihat kecemasan di wajah mereka.
Matthew lalu bertekad untuk membantu kedua adiknya menjadi lebih kuat lagi. Jika mereka lebih kuat, maka mereka bisa bahu membahu untuk saling melindungi satu sama lain.
Tidak lama kemudian sesorang menghampiri meja dimana John, Matthew dan kedua adiknya berada. Orang tersebut adalah Ron yang diminta bosnya untuk memanggil mereka berempat. Sebentar lagi karavan mereka akan berangkat jadi mereka harus bersiap.
Ron tidak percaya dengan apa yang ada di meja mereka. Di sana ada tumpukan piring kotor. Sekilas Ron menghitung ada dua puluh lima piring di atas meja tersebut.
Tidak mungkin piring-piring tersebut adalah piring kotor bekas pelanggan yang lain. Pelayan di sini selalu membereskan piring-piring kotor setelah pelanggan pergi. Jika demikian piring-piring kotor itu adalah bekas
mereka bertiga.
Ron tidak meyangka mereka bisa menghabisakan makanan sebanyak itu. Sebesar apa perut mereka sehingga mampu menampung makanan sebanyak itu. Ini pertama kalinya Ron melihat orang dengan porsi makan sebesar itu.
“Tu… Tuan.” Ucap Ron sedikit terbata-bata. “Sebentar lagi karavan akan berangkat. Lebih baik Tuan bersiap. Kereta untuk Tuan sudah kami siapkan. Tuan bisa menunggu di dalam kereta.”
“Baiklah anak-anak saatnya kita pergi.” Ucap John ke arah ketiga anak di depannya. Setelah membayar semua tagihannya, John keluar dari kedai dan menuju ke arah karavan pedagang.
Ron masih dengan raut wajah tidak percaya mengikuti mereka keluar dari kedai. Ia sekarang percaya dengan ucapan bosnya. Bahwa ketiga orang ini bukanlah orang miskin. Sekali makan saja mereka menghabiskan enam puluh koin silver.
__ADS_1
Itu sama dengan gajinya selama enam bulan. Dan itu sama dengan uang yang mereka keluarkan untuk sekali makan. Ron benar-benar tidak bisa membandingkan kehidupannya dengan para orang kaya. Jika melakukannya yang ada akan sakit hati.