Master Of Elements

Master Of Elements
ME 79 Permintaan Matthew


__ADS_3

“Akus bersumpah, tidak akan berbelanja bersama dengan perempuan setelah ini,” ucap Josh yang saat setelah mereka membeli barang yang diinginkan oleh Clarissa.


“Kau benar, Josh. Aku tidak akan mau berada di toko itu lagi. Apa Kau melihat tadi tatapan para perempuan ketika kita menunggu di luar? Beberapa wanita tua yang ada di sana memandang kita dengan tatapan lapar,” imbuh Draven.


“Tetapi, bagaimana Kau bisa paham apa yang dimaksud oleh Clarissa, Matt? Apakah Kau sudah memiliki pacar sekarang?” tanya Josh tiba-tiba.


“Eh … apa?” tanya Matthew kaget. Ia tidak menyangka Josh tiba-tiba menanyakan hal ini padanya. Lalu, Josh tadi mengatakan bahwa Matthew memiliki pacar?


“Bicara apa Kau, Josh? Aku sama sekali tidak memiliki pacar. Aku masih sangat muda. Aku masih ingin fokus belajar di Akademi Andradius.”


“Jika Kau tidak memiliki pacar, bagaimana bisa Kau paham apa yang dibutuhkan Clarissa?” tanya Josh sekali lagi.


“Kau tahu, ehm … itu … ah ya ibuku seorang perempuan. Dia selalu membeli sesuatu seperti ini setiap bulannya. Aku tahu ini dari sana.”


Matthew sedikit bernafas lega bisa menemukan alasan yang tepat. Tentu saja ia tidak tahu apa yang dipakai oleh Elisa selama ia datang bulan. Elisa sendiri belum memberitahukan itu pada Matthew. Bahkan, Ellie pun masih tidak memiliki pengetahuan apa pun mengenai hal ini. Ini berarti, Matthew nanti harus menjelaskan hal ini kepada adiknya.


Semua pengetahuan itu Matthew dapatkan sebagai penduduk Bumi yang mengenyam pendidikan dua belas tahun. Jika saja dirinya hidup di dunia ini tanpa ingatan masa lalunya, maka Matthew tidak akan paham menegani apa yang dicari Clarissa.


“Ah seperti itu rupanya,” ucap Josh.


Tidak lama kemudian, rombongan Matthew melihat adanya keributan di jalan depan. Banyak murid Akademi Andradius yang berdiri berjajar di sana. Entah apa yang membuat mereka melakukan hal ini.


Draven yang penasaran, langsung menghentikan salah satu murid berjubah biru. Merasa seseorang menarik jubahnya, murid tersebut memasang wajah garangnya. Ia berniat memarahi siapa pun itu yang sudah menari jubahnya.


Namun, ketika melihat Draven-lah yang melakukan hal itu, raut wajahnya langsung berubah. Ia segera memasang wajah seramah mungkin. Murid tersebut mengucapkan syukur dalam hati karena tidak mengumpat ketika jubahnya ditarik. Jika ia sampai mengumpat, maka ia akan mendapatkan masalah.


“Hey, ada apa itu? Kenapa semua orang berkumpul di sana?” tanya Draven.


“Senior Draven, mereka sekarang melepas kepergian murid-murid yang sebelum ini dijadikan budak oleh Keluarga Johanson. Banyak dari mereka yang memilih mengkhianati Keluarga Johanson. Akibatnya, mereka kehilangan elemen yang mereka miliki.”


“Sekarang mereka akan pulang ke kampung halaman masing-masing. Padahal, akademi sudah menawarkan pekerjaan lain untuk mereka, tetapi mereka menolak,” jelas murid tersebut.

__ADS_1


“Seperti itu rupanya. Baiklah Kau boleh pergi.”


Matthew dan yang lain bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan oleh Draven dan murid tadi. Jadi, ketika murid tadi pergi, Matthew dan yang lain saling memandang satu sama lain.


“Jadi, apakah kalian ingin melihat apa yang terjadi di sana? Aku penasaran dan ingin melihat apa yang sedang terjadi,” ucap Matthew.


“Baiklah. Kita bisa mampir untuk melihatnya. Lagi pula, kita tidak sedang terburu-buru untuk. Kita nanti akan menaiki Purve untuk kembali.”


Mereka berenam lalu berjalan mendekat ke arah kerumunan. Bisik-bisik dari murid yang berkumpul terdengar semakin jelas sekarang.


“Kasihan sekali dia. Sebelum ini, dia dianggap sebagai seorang genius. Sekarang, ia terlihat seperti pecundang,” ucap salah satu murid yang tidak miliki niatan untuk memelankan suaranya. Apa yang ia ucapkan ini terdengar dengan jelas oleh murid-murid lain.


“Hush …. Pelankan suaramu itu. Tidak seharusnya Kau berkata seperti itu. Kalau pun Kau ingin mengatakan hal seperti itu, seharusnya Kau memelankan suaramu agar tidak terdengar oleh orang lain,” bisik salah satu temannya.


“Untuk apa aku mengecilkan suaraku? Memang itu buktinya bukan? Mereka dulu adalah murid genius, sekarang mereka hanyalah pecundang. Tidak ada yang salah dengan ucapanku. Lalu, jika mereka tidak suka dengan ucapanku pun, mereka tidak bisa melakukan apa pun padaku. Sekarang, mereka hanyalah orang biasa.”


Matthew mengerutkan keningnya mendengar ucapan murid ini. Ia sangat tidak menyukai bagaimana murid ini membicarakan mereka yang kehilangan kekuatannya, seolah mereka adalah orang yang tidak berguna.


Matthew bisa melihat beberapa murid yang kehilangan kekuatannya, hanya bisa memandang orang yang menghina mereka dengan tatapan penuh amarah. Tetapi, tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang. Murid-murid ini, atau mungkin lebih dipantas para mantan murid Akademi Andradius ini, sudah menjadi orang biasa sekarang.


Matthew lalu menarik lengan baju Josh. Ia juga meletakkan telunjuknya di bibir, meminta Josh untuk tidak banyak membuat suara.


Josh terlihat mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang Matthew inginkan. Tetapi, ketika Matthew mengajaknya secara diam-diam menjauhi kerumunan dan memasuki sebuah gang, Josh menurut saja.


“Ada apa, Matt? Kenapa Kau mengajakku kemari secara diam-diam seperti ini?” tanya Josh setelah mereka berada di dalam gang.


“Josh apakah Kau bisa membuat barier agar pembicaraan kita tidak terdengar orang lain?” pinta Matthew.


“Barier? Untuk apa membuat barier. Lagi pula, aku tidak bisa membuat barier. Hanya mereka yang memiliki kekuatan di tingkat Gold ke atas yang bisa membuat barier. Lalu, hanya orang-orang tertentu yang mempelajari diagram saja yang bisa membuat barier.”


Josh merasa aneh. Memangnya apa yang Matthew ingin bicarakan dengannya sehingga dia membutuhkan barier. Hanya pembicaraan serius dan bersifat rahasia saja yang memerlukan barier pelindung.

__ADS_1


Matthew tertegun mendengar ucapan Josh. Interaksi yang Matthew lakukan dengan John membuatnya terbiasa meminta barier pelindung untuk menutupi pembicaraan mereka. Rupanya tidak semua bisa membuat barier.


“Maafkan aku, Josh. Aku melupakan hal itu. Baiklah mendekatlah aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Apa yang aku bicarakan ini cukup rahasia. Aku harap tidak ada yang tahu mengenai permintaanku padamu.”


“Memangnya apa yang Kau inginkan?” tanya Josh sembari membungkukkan badan mendekat ke arah Matthew.


“Bisakah Kau mengumpulkan mereka yang sudah tidak memiliki kekuatan? Maksudku, mereka yang menjadi korban Keluarga Johanson. Bisakah Kau mengumpulkan mereka?” bisik Matthew.


“Mengumpulkan mereka? Untuk apa?” tanya Josh heran.


Josh rasa, Matthew sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan para murid yang menjadi korban Keluarga Johanson. Jadi, untuk apa Matthew tiba-tiba memintanya mengumpulkan mereka?


“Aku ingin membantu mereka. Mereka terlihat sangat kasihan. Jadi, bisakah Kau mengumpulkan mereka? Tetapi jangan bilang aku yang memintanya,” pinta Matthew.


“Membantu mereka?”


Sekarang Josh semakin terheran dengan permintaan Matthew ini. Memangnya apa yang akan Matthew lakukan untuk membantu mereka? Memberi mereka uang? Itu justru akan menyinggung mereka. Josh yakin meski murid-murid itu berasal dari keluarga sederhana sekali pun, sekarang mereka tidak kekurangan uang.


Menjadi seseorang yang terjun di dunia profesional memang membutuhkan uang banyak. Tetapi mereka juga bisa menghasilkan uang banyak dengan berburu monster dan mengambil inti monsternya. Yang mereka butuhkan adalah kekuatan mereka kembali. Tidak mungkin Matthew bisa mengembalikan kekuatan mereka bukan? Jadi, apa yang akan Matthew lakukan untuk membantu mereka?


“Ya aku punya cara untuk membantu mereka. Sebelum mereka semua pergi dari Kota Archdale, aku minta Kau hubungi mereka dan meminta mereka berkumpul di suatu tempat. Kau bisa menentukan tempatnya sendiri. Katakan pada mereka ada seseorang yang bisa memberi mereka kesempatan kedua,” jelas Matthew.


“Matthew, Kau sedang tidak main-main bukan? Apa yang Kau ucapkan ini akan memberikan harapan besar bagi murid-murid itu. Jika Kau tidak bisa melakukannya, maka itu akan membuat mereka semakin kecewa.”


“Mereka sudah menjadi korban, jangan buat mereka semakin kecewa. Lebih baik, Kau hentikan omong kosongmu ini,” ucap Josh dengan nada yang cukup serius.


“Aku berani bersumpah dengan seluruh elemen yang aku miliki, bahwa aku benar-benar ingin membantu mereka. Aku tidak ada niatan sedikit pun untuk mempermainkan mereka. Jadi, bisakah Kau membantuku mengumpulkan mereka?”


Josh terkejut mendengar Matthew yang bersumpah dengan elemen yang ia miliki. Sumpah menggunakan elemen bukanlah sumpah yang main-main. Mereka yang bersumpah dengan elemen mereka berarti tengah berbicara cukup serius.


Hal ini membuat Josh penasaran dengan apa yang akan Matthew lakukan untuk membantu murid-murid itu. Taruhannya adalah elemen yang dia miliki.

__ADS_1


“Baiklah aku akan membantumu mengumpulkan mereka. Aku akan meminta mereka kembali ke akademi. Kau bisa menemui mereka di akademi. Tetapi, aku tidak bisa berjanji bahwa aku bisa membawa mereka semua ke akademi,” jelas Josh.


“Tidak masalah. Bawa sebanyak mungkin orang yang mau mendengarkanmu. Aku tidak akan menyalahkanmu jika yang datang hanya satu orang sekali pun.


__ADS_2