Master Of Elements

Master Of Elements
ME 41 Rumah Gadai Pak Tua Tom (1)


__ADS_3

John menghentikan langkahnya di pintu nomer sembilan. Kemudian laki-lakiitu mengetuk pintu itu dengan irama yang sama seperti ketika dirinya mengetuk meja kasir.


Tok, tok.


Tok.


Tok, tok, tok.


Tok, tok.


Tok.


Tidak ada jawaban yang muncul setelah John mengetuk pintu tersebut. Setelah tiga menit menunggu pun tidak ada respon yang terlihat. John terlihat tidak sabaran melihat hal itu.


“Kalian mundurlah beberapa meter dariku.” Ucap John kepada kedua anak di belakangnya.


Mendengar nada ucapan John yang cukup serius, Matthew menarik mundur kedua saudaranya. Ia melangkah mundur hingga mereka terpaut sejauh dua puluh meter dari tempat John berdiri.


Melihat keduanya sudah cukup jauh darinya, John langsung membuka pintu di depannya. Setelah John membuka pintu tersebut, angin kencang berhembus dari balik pintu. Lalu setelahnya suara teriakan muncul dari balik pintu tersebut. Dari suaranya, Matthew yakin yang berteriak adalah seorang laki-laki.


“Siapa yang sudah mengganggu waktu tidurku.”


Begitulah teriakan yang Matthew dengar. Teriakan tersebut cukup keras menurutnya. Mungkin ini alasan laki-laki di depan tadi mengingatkan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya. Tetapi meski mereka sudah mengetuk, mereka juga masih mendapatkan sambutan seperti ini.


“Sudah jam segini Kau masih  saja tidur Pak Tua Tom.” Ucap John. “Jika Kau tidak keluar, aku akan masuk dan mengosongkan semua koleksi arakmu.”


“John? Kau kah itu?” tanya sebuah suara dari dalam ruangan.


Tidak lama kemudian suara langkah kaki mulai terdengar. Dari dalam ruangan nomer sembilan itu keluarlah laki-laki paruh baya dengan rambut yang acak-acakan. Pakaiannya pun terlihat kusut di sana sini menandakan bahwa laki-laki ini benar-benar tengah tidur sebelumnya.


“Heh.” Laki-laki itu mengendus pelan. “Dari baunya, Kau memang benar-benar John. Kenapa Kau datang menemuiku dengan cara seperti ini. Biasanya Kau kan langsung masuk ke ruanganku dan menyiramku dengan air. Tidak biasanya Kau seperti ini.” Ucap laki-laki itu.

__ADS_1


“Hemm… tunggu dulu. Sepertinya aku mencium bau orang lain bersamamu.” Ucapnya sembari mengendus udara di sekitar.


“Kau datang bersama dengan siapa? Aku mencium bau tiga orang asing. Siapa mereka?” Tanya laki-laki itu yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Matthew dan kedua adiknya berada.


John melambaikan tangannya ke arah Matthew dan kedua adiknya. Meminta mereka untuk mendekat ke arah John. “Mereka akan aku bawa ke Akademi, Tom. Bisa dibilang mereka adalah calon murid baru.” Ucap John.


“Yang berbau bumbu masakan bernama Matthew, yang berbau keringat bernamaa Jasper, dan yang terakhir bernama Ellie.” Jelas John.


Sebelum ini, Matthew memang memasak untuk sarapan mereka. Lalu Jasper juga melakukan latihan rutinnya. Jadi ucapan John memang ada benarnya. Samar di tubuh Matthew tercium bau bumbu dan tubuh Jasper memiliki bau keringat.


“Perkenalkan diri kalian anak-anak. Ini adalah Tom teman baikku. Dia tidak bisa melihat namun dia bisa mengenali kalian dari bau yang ada di tubuh kalian.” Imbuh John.


Tidak bisa melihat? Pantas saja laki-laki bernama Tom itu mengendus-endus udara di sekitarnya. Ia mengenali orang dengan bau mereka. Pantas saja tadi Tom seolah tidak melihat keberadaan kedua bersaudara itu. Semua itu juga menjawab cara aneh John yang mengenalkan mereka melalui bau tubuh.


“Aku Ellie.”


“Aku Jasper.”


“Namaku Matthew. Senang bertemu denganmu Tuan.”


Dari dekat sini juga Matthew mengetahui elemen yang dimiliki oleh Tom. Salah satu di antaranya adalah elemen yang selama beberapa hari perjalanan ini ia teliti. Tom memiliki tiga elemen, yaitu elemen udara, elemen air dan elemen kehidupan. Benar elemen kehidupan. Elemen yang katanya sangat langka ditemukan di benua Andradius.


Matthew tidak menyangka dirinya bisa berkesempatan bertemu dengan pemilik elemen kehidupan dalam perjalanannya menuju Akademi Andradius.  Ini kebetulan yang sangat luar biasa menurut Matthew.


Saat itu juga Matthew memutuskan, jika dirinya nanti kesulitan “berteman” dengan elemen kehidupan dengan cara normal, atau eksperimennya menggunakan senjata yang memiliki elemen kehidupan, ataupun kesulitan untuk bertemu dengan pemilik elemen kehidupan di Akademi Andradius nantinya, maka dia akan menemui orang bernama Tom ini, untuk mempelajari elemen kehidupan.



Tom mengernyitkan keningnya. “Kenapa Kau membawa mereka kemari? Tidak biasanya Kau membawa seseorang datang ke tempatku. Bahkan Kau tidak pernah membawa murid akademi ke tempatku. Sedangkan mereka hanya seorang calon murid. Apa yang membuat mereka berbeda sehingga Kau membawa mereka kemari.”


“Mereka jadi incaran Black Shadow. Jika mereka tidak, aku tidak perlu mengawal mereka untuk datang ke akademi.” Jawab John singkat.

__ADS_1


“Incaran Black Shadow? Apa Kau bercanda denganku John. Black Shadow hanya mengincar anak berumur dibawah sebelas tahun. Mereka akan masuk ke Akademi Andradius bukan? Jadi kenapa mereka mengincar kedua anak ini.”


“Mereka masih berusia sepuluh tahun Tom. Mereka ini ada cucu dari singa besar Frantico. Cucu dari Arnold.” Jelas John.


“Cucu dari Arnold? Hahaha….” Tom tertawa dengan cukup keras.


“Aku tebak ketiga anak ini adalah anak dari mereka bukan? Aku tidak percaya kedua anak itu kini sudah menjadi orang tua. Arnold pasti tidak akan menyangka bahwa putra kesayangannya yang pura-pura mati itu kini memberikan dua orang cucu.” Imbuh Tom.


“Dari mana Kau tahu mereka masih hidup?” Tanya John penasaran.


“Tentu saja aku tau. Anak laki-laki itu membayarku untuk membawa dia dan pacarnya melarikan diri. Jika tidak dengan bantuanku, Kau kira bagaimana mereka bisa melarikan diri begitu mudahnya tanpa ada yang melihat mereka. Tentu saja karena aku. Hahaha….” Tom kembali tertawa keras sembari memegangi perutnya.


“Sial. Jadi aku juga termasuk orang yang tidak tahu banyak tentang semua ini. Pintar  sekali kedua anak itu dalam merencanakan semua ini.” Ucap John kesal.


“Jadi, untuk apa Kau kemari? Ini bukan hanya soal mereka yang dikejar Black Shadow bukan? Bukankah Kau memiliki ramuan untuk mengubah wajah. Lalu, kenapa Kau datang kemari.” ucap Tom yang berubah menjadi sedikit lebih serius.


John mengelah nafas panjang. “Aku mengikuti sebuah karavan pedagang untuk melakukan perjalanan. Sialnya aku, karavan itu sepertinya menjalankan sebuah misi yang merupakan jebakan bagi mereka. Tentu saja aku harus turun tangan, karena aku tidak mau orang tak berdosa ikut terlibat. Tetapi sepertinya mereka malah menargetkan aku.”


“Apakah Kau semakin melemah John? Kenapa Kau terlihat takut untuk menghadapi mereka? Apa Kau tidak mampu untuk menghadapi mereka?” tanya Tom.


“Bukan begitu Tom. Jika yang mereka kirim adalah seseorang di tingkat platinum aku bisa dengan mudah menghadapi mereka meskipun aku masih harus melindungi kedua anak ini. Namun kali ini yang datang dua orang di tingkat Diamond. Memang aku masih bisa menghabisi mereka. Tetapi setelah itu, orang dibalik rencana jahat itu bisa saja membayar orang lain untuk membalaskan dendamnya.”


“Dari polanya saja orang ini sudah pasti pendendam. Jadi, aku tidak mau menarik masalah terlalu banyak selama kedua anak ini belum sampai ke akademi. Setelah aku menghabisi orang-orang di tingkat Diamond itu, bisa saja yang datang setelahnya adalah Black Shadow. Kau tahu bukan bahwa semua itu benar-benar bisa terjadi.”


“Sekarang saja Black Shadow sudah menyebar luas. Sebelum ini aku sudah menemukan adanya kaki tangan Black Shadow di desa kecil pinggiran hutan Morento. Merekalah yang bertugas menculik anak-anak berbakat dari keluarga mereka dan diserahkan ke Black Shadow.”


“Jadi aku menemuimu. Aku ingin Kau mengantar kami dengan Falcon milikmu. Jika Kau sibuk, Kau cukup antarkan kami sampai Greenwood. Di sana kami bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan teleportasi. Jika Kau memang luang, antarkan kami ke Akademi sekalian.”


Dari pembicaraan tersebut Matthew baru menyadari kenapa mereka mengubah rencana. Ini semua diawali dengan John ikut campur dengan menolong orang-orang dari Karavan Gold Mine dalam serangan bandit. Matthew tidak menyangka bahwa serangan bandit tersebut adalah serangan yang direncakanan untuk menghabisi orang-orang dari Karavan Gold Mine.


Tom memicingkan matanya. “Memangnya, berapa yang bisa Kau bayarkan? Dua tahun yang lalu saja Kau mengambil arak koleksiku tanpa membayar? Sekarang Kau memintaku mengantar kalian. Kau tau bukan aku tidak memberikan semuanya secara gratis. Jika Kau minta aku mengantarmu, Kau harus membayarnya.”

__ADS_1


“Ayolah Tom, apa Kau tidak mau menggratiskan yang ini? Soal arak itu, aku hanya meminjamnya darimu. Aku tidak membelinya. Tidak masalah bukan jika aku meminjamnya? Jika aku susah puas nanti, aku akan mengembalikannya.” Ucap John merasa tidak bersalah.


Matthew yang sedari tadi diam, kini tiba-tiba ikut berbicara. “Memangnya berapa yang perlu kami bayar? Apakah lima puluh elemen Kristal cukup?”


__ADS_2