Master Of Elements

Master Of Elements
ME 58 Arthur


__ADS_3

John berjalan menuju ke arah lapangan yang ada di depan istana. Di sana sudah banyak tenda-tenda besar yang besok akan dijadikan tempat melakukan seleksi awal penerimaan murid baru Akademi Andradius.


Beberapa meter sebelum mereka mendekati tenda, seorang laki-laki menghentikan langkah John. Laki-laki tersebut membawa sebuah pedang di pinggangnya.


Meski tidak memakai baju zirah, laki-laki itu memakai baju yang cukup tebal dengan pelindung dada yang terbuat dari logam. Pelindung dada tersebut memiliki gambar sebuah pedang berwarna perak dengan lima bintang mengelilingi pedang tersebut.


“Kau berhenti di situ. Ini bukan area yang bisa Kau datangi semudah itu. Ini adalah tenda milik Akademi Andradius. Jika Kau ingin mencari jalan pintas agar anggota keluargamu bisa diterima di Akademi Andradius, maaf kami tidak melakukan hal semacam itu. Jadi kembalilah.” Jelas pemuda tersebut.


John hanya tersenyum kecil melihat hal itu. Setidaknya pemuda di depannya ini bersikap sangat sopan. Ia tidak langsung bertindak kasar kepada mereka hanya karena mereka melakukan ‘kesalahan’. Pemuda itu masih mengingatkan mereka dengan sopan.


“Kau tidak perlu khawatir anak muda. Aku datang kemari tidak untuk mencari jalur belakang agar angggota keluargaku di terima di Akademi Andradius. Aku hanya ada sedikit urusan dengan orang yang bertanggung jawab atas seleksi besok.” Jawab John.


John lalu mengeluarkan sebuah batu giok dengan sebuah symbol tergambar di sana. Ia kemudian melemparkan batu giok tersebut kepada laki-laki di depannya, yang dengan mudah ditangkap oleh laki-laki tersebut.


“Berikan token ini kepada penangung jawab seleksi ini. Ia pasti akan tahu siapa aku. Sementara Kau masuk ke dalam aku akan menunggumu di sini.”


Laki-laki tersebut sedikit mengernyitkan dahinya. Ia tidak menyangka masih saja ada yang seperti ini. Ia bisa menebak bahwa orang tua ini akan ‘menyuap’ penanggung jawab seleksi kali ini, agar meloloskan anggota keluarganya.


Padahal, dia sudah memperingatkan orang tua ini bahwa mereka tidak menerima seseorang lewat jalur belakang. Apa yang dilemparkan oleh orang tua pasti sesuatu untuk menyuap penanggung jawab seleksi.


Laki-laki ini sudah banyak menemui hal ini. Sepanjang pagi ini saja ini orang tua ini adalah orang kelima yang ingin bertemu dengan penanggung jawab  seleksi. Dan semuanya sudah diusir oleh laki-laki tersebut.

__ADS_1


Laki-laki itu yakin, semakin dekat dengan waktu seleksi, maka semakin banyak pula jumlah orang yang mencoba menyuap penanggung jawab seleksi. Jika begini, maka dirinya perlu memperketat penjagaan.


Jika sampai ada yang menyusup dan menemui penanggung jawab seleksi, maka dirinya akan terkena masalah. Hukuman sudah pasti akan menantinya di akademi nanti.


Laki-laki tersebut berniat memarahi dan kembali mengusir laki-laki tua di depannya ini. Namun niatnya itu ia urungkan setelah melihat apa yang tergambar di batu giok tersebut.


“Apa ini benar-benar milikmu Tuan?” Pemuda itu menatap John dengan tatapan menelisik.


“Tentu saja itu adalah milikku. Kau tinggal memperlihatkan token tersebut kepada penanggung jawab seleksi ini. Dia akan tahu harus berbuat apa setelah ini.”


“Ah, baiklah kalau begitu Tuan. Tunggulah di sini sebetar sementara aku memberikan token ini kepada tetua yang menjadi penanggung jawab seleksi kali ini.” Setelah berkata demikian, pemuda tersebut bergegas menuju ke tenda yang ada di sana.


Sepuluh menit kemudian, dari tenda terbesar yang ada di sana, seorang laki-laki paruh baya berjalan dengan sedikit tergopoh gopoh menghampiri John. Di belakangnya laki-laki yang sebelumnya menghadang John, mengikuti langkah laki-laki paruh baya tersebut.


Nampak dahi laki-laki paruh baya tersebut dipenuhi keringat. Perasaan khawatir dan was-was nampak tergambar di wajah laki-laki tersebut. Laki-laki paruh baya itu berhenti lima langkah di depan John. Ia kemudian sedikit membungkukkan kepalanya kepada John.


“Kepala akademi, aku tidak tahu jika Anda akan berkunjung kemari. Anda seharusnya membemberitahuku jika ingin kemari supaya aku bisa memberikan sedikit penyambutan kepada Anda.” Ucap laki-laki itu dengan suara yang cukup pelan, suara yang hanya bisa didengar oleh ketiga orang yang ada di sana.


Laki-laki yang berdiri di belakang laki-laki paruh baya tersebut nampak kaget mendengar pernyataan barusan. Ia tidak percaya bahwa di depannya kini berdiri Kepala Akademi yang terkenal dengan keeksentrikannya. Ia sering mendengar bahwa Kepala Akademi sering berkelana di luar akademi


Beberapa seniornya mengatakan bahwa mereka pernah bertemu dengan kepala akademi, ketika menjalankan misi. Mereka yang bisa bertemu dengan kepala akademi akan berbangga diri. Pasalnya, kepala akademi akan selalu mengubah wajahnya setiap dua bulan.

__ADS_1


Hal itu membuat mereka sulit mengenalinya. Biasanya, siapa pun yang pernah bertemu dengan kepala akademi di luar, akan menceritakan hal itu kepada teman-temannya dan menyobongkan diri betapa beruntungnya mereka.


Pemuda tersebut tiba-tiba tersadar sudah bertindak lancang dengan memandang langsung ke arah Kepala Akademi. Ia langsung mendudukkan kepalanya dengan sedikit rasa takut.


Meski dari yang ia dengar Kepala Akademi bukanlah orang yang kejam, dan tidak akan menghukumnya hanya karena masalah sepele, tetapi laki-laki itu merasa tidak pantas melihat Kepala Akademi secara langsung.


Bisa dibilang, bukan rasa takut yang menjadi alasan utama pemuda ini tidak berani memandang John. Melainkan rasa kagum yang cukup besar kepada John. Dirinya yang lemah ini tidak pantas untuk memandang langsusng ke arah John yang seperti gunung besar itu.


“Aku tidak menyangka yang menjadi penanggung jawab seleksi ini adalah Kau Arthur. Kau tidak perlu merasa cemas seperti itu ketika aku datang. Kebetulan aku berada di Kota Greenwood dan mendengar besok akan diadakan seleksi. Jadi aku ingin mampir melihat. Kau tidak perlu bersikap seperti itu Arthur.”


John tidak langsung mengatakan maksud kedatangannya. Ia ingin mengatakan semua itu kepada Arthur setelah mereka berada di tempat yang lebih sepi.


Laki-laki bernama Arthur itu sedikit bernafas lega mendengar ucapan John. Setidaknya ini bukan inspeksi mendadak dari John. Meski begitu masih ada rasa khawatir dalam diri Arthur.


Memang semuanya sudah ia persiapkan dengan matang. Arthur rasa tidak akan ada masalah besar yang terjadi. Tetapi Arthur tidak mau lengah begitu saja. Apalagi ada John di sini.


“Kalau begitu, ayo masuk ke dalam tendaku. Kita bisa mengobrol di dalam Kepala Akademi.” Ajak Arthur.


Arthur mempersilahkan John untuk memasuki tenda yang ia tempati. Setidaknya mereka bisa sedikit berbicara dengan lebih leluasa di dalam tenda daripada di sini.


“Tentu. Ada hal lain juga yang perlu kita bicarakan mengenai acara besok.” Jawab John.

__ADS_1


__ADS_2