
"Aku sama sekali tidak mengenalinya." jawab Matthew.
"Aku juga." imbuh Jasper.
"Memangnya asal kalian dari mana? Kenapa kalian tidak tahu mengenai monster itu? Padahal, monster itu cukup terkenal di seluruh penjuru Benua Andradius. Aku tidak menyangka kalian tidak mengenalnya."
"Ehm ... itu, kami tinggal cukup jauh dari sini, di sebuah desa dekat dengan Hutan Morento. Orang tua kami jarang mengijinkan kami pergi keluar rumah. Kami tahu sesuatu hanya dari buku." jelas Matthew.
"Ah seperti itu rupanya. Baiklah aku akan menjelaskan kepada kalian apa makhluk ini. Ini adalah Ardleigor, makhluk mitos yang ada di Benua Andradius. Ada sebuah legenda yang mengatakan, Ardleigor adalah penguasa Benua Andradius, dia yang melindungi Benua ini."
"Katanya, jika Benua Andradius dalam bahaya, maka Ardleigor akan keluar untuk melindungi. Lalu, seseorang yang bertemu dengan Ardleigor akan memiliki nasib yang baik dalam hidupnya. Apalagi jika dia sampai diakui oleh Ardleigor." jelas Leonard.
"Ah, rupanya ada monster yang seperti itu di sini. Aku tidak menyangka monster ini memiliki legenda yang hebat." ucap Jasper kagum.
Jika Jasper sudah kagum dengan patung tersebut, maka Matthew tidak. Baginya legenda-legenda seperti itu sudah biasa ia dengan. Di dunianya dulu, ada beragam makhluk mitos, mulai dari yang berasal dari Asia, Eropa, dan Afrika. Semua tempat pasti memilikinya.
"Memangnya di mana Ardleigor tinggal? Jika melihatnya saja membuat seseorang memiliki keberuntungan, maka akan banyak orang yang mencarinya bukan?" tanya Matthew, sembari tetap menatap ke arah patung Ardleigor.
"Aku tidak tahu. Bukan hanya aku saja, banyak yang tidak tahu itu. Menurut buku legenda Ardleigor yang pernah aku baca, monster ini memiliki banyak rupa, ia hanya akan menunjukkan rupa aslinya kepada orang-orang yang ia kehendaki."
"Oleh karena itu, mereka yang melihat langsung bentuk asli Ardleigor, akan memiliki nasib baik dalam hidupnya. Keberuntungan akan menyertai hidup mereka." jelas Leonard.
Mereka lalu tidak berlama-lama di sana. Saat ini Ellie dan Clarissa pasti sudah menunggu kedatangan Matthew dan Jasper.
"Matthew, Jasper." sapa Ellie ketika mereka sampai di asrama perempuan.
"Akhirnya Kau datang juga Matt, aku sudah sangat lapar. Ayo kita pergi ke kantin akademi. Aku dengar kantin di sini makanannya enak." Ucap Ellie.
__ADS_1
"Jadi, yang mana yang saudara kembar kalian?" tanya Leonard.
Ada dua gadis di depannya tetapi Matthew dan Jasper mengatakan bahwa mereka mempunyai satu saudara kembar lagi. Itu berarti salah satu dari mereka adalah saudara kembar Matthew dan Jasper.
"Ah ... siapa dia?" tanya Ellie.
Ellie baru menyadari bahwa kedua kakaknya datang bersama dengan orang lain. Ia terlalu sibuk memikirkan makanan apa yang cocok untuk sarapan sehingga tidak terlalu fokus.
"Dia Leonard Hunt, panggil saja Leo, dan Leo ini adalah adik kami Ellie, dan ini teman kami Clarissa."
"Senang berkenalan dengan kalian." ucap Leonard. "Kalian tadi ingin pergi ke kantin bukan? Aku akan membawa kalian ke sana. Kebetulan aku juga ingin sarapan." jelas Leonard.
Dalam perjalanan menuju kantin, rombongan lima orang itu banyak berpapasan dengan murid Akademi Andradius. Setidaknya Matthew melihat ada tiga warna jubah yang dipakai oleh para murid. Biru, merah, dan ungu.
Banyak murid yang memakai jubah warna biru menyapa Leonard. Sepertinya pemuda ini cukup terkenal di sini.
Kantin yang ada di sini layaknya kantin pada umumnya. Mereka mengambil nampan dan bergerak menuju ke arah makanan yang tersedia. Ada seseorang yang akan membantu mereka mengambilkan makanan sesuai keinginan mereka.
"Sekarang ini masih musim liburan, banyak dari murid akademi yang pulang ke kerajaan masing-masing. Beberapa juga memperkuat diri dengan berkelana di Hutan Nordrhein. Beberapa juga seperti aku, memilih untuk tinggal di akademi dan melatih elemen."
"Jika kita ke kantin di masa semua murid kembali ke akademi, maka kalian tidak akan bisa menemukan tempat duduk dengan mudah di kantin. Semua pasti terisi penuh." jelas Leonard.
Seperti kata Leonard, kantin di depan mereka ini terlihat sepi. Jika dihitung, memang di kantin ini ada cukup banyak murid, mungkin seratus atau dua ratus murid. Namun, jika dibandngkaj dengan kapasitas kantin yang bisa menampung belasan ribu orang, ratusan orang memang terlihat sedikit.
"Jika kalian ingin makan di sini, kalian perlu membayar sendiri makanan yang kalian pilih. Karena kalian tamu di sini, aku akan mentraktir kalian makan. Pilih saja apa pun yang kalian inginkan."
"Benarkah?" tanya Jasper.
__ADS_1
Mata Jasper berbinar mendengar ucapan Leonard. Anak laki-laki itu tidak menyangka bahwa Leonard, orang yang baru saja mereka temui, mau mentraktir mereka makan.
"Kau tidak perlu membayari makanan Kami Leo. Kami bisa membayarnya sendiri." tolak Matthew.
Bagaimana mungkin Matthew membiarkan Leo membayar makanannya. Jelas Leonard akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk melakukan itu. Porsi makan Matthew, Jasper, dan Ellie jika digabung sama dengan porsi makan dua puluh orang dewasa. Mungkin juga lebih.
"Tenang saja biar aku yang membayar. Makanan di sini tida terlalu mahal, tetapi memiliki rasa yang enak. Aku masih sanggup membayarnya." ucap Leonard sembari menggoyangkan kantong uang yang ada di pinggangnya.
"Apa Kau yakin Leo? Kami tidak ingin membuatmu bangkrut. Jangan menyombongkan diri jika Kau tidak mampu. Kami takut Kau menyesal dan menangis nantinya."
Ellie mencoba melarang Leonard agar pemuda itu mengurungkan niatnya untuk mentraktir mereka. Jika dengan John itu tidak terlalu masalah, dia adalah Kepala Akademi Andradius yang tentunya memiliki uang banyak.
Tetapi ini adalah Leonard, seorang murid akademi yang Ellie yakini tidak memiliki cukup banyak uang. Mentraktir Ellie dan kedua saudaranya itu sama saja dengan membangkrutkan diri.di
Bukannya menuruti permintaan Ellie, Leonard justru tersinggung. Ia merasa Ellie merendahkannya dengan mengatakan dia akan bangkrut jika mentraktir mereka.
Ini membuat keinginan Leonard mentraktir mereka semakin tinggi. Leonard ingin mereka tahu bahwa uangnya lebih dari cukup untuk membuat mereka kenyang.
"Aku yakin, sangat yakin. Aku akan membelikan kalian apa pun makanan yang kalian inginkan. Kalian bahkan boleh memakan sepuasnya hingga kalian kenyang."
"Kau benar-benar yakin?" Kali ini Jasper yang bertanya.
Jasper juga mulai merasa tidak enak jika menguras kantong orang lain untuk membelikannya makanan. Jadi ia juga ikut bertanya untuk memastikan ucapan Leonard.
"Aku sangat yakin. Sudah jangan bertanya lagi. Lebih baik kita memilih makanan sekarang."
Di dalam hati Clarissa menyalakan lilin untuk mengungkapkan belasungkawanya terhadap kantong Leonard. Ia yakin kantong itu akan terkuras habis sekarang.
__ADS_1
Ketiga saudara kembar itu sudah berkali-kali menolak tawaran Leonard, tetapi dia bersikukuh untuk mentraktir mereka.
Matthew juga memilki pemikiran yang sama dengan Clarissa. Dia memutuskan untuk menyiapkan beberapa koin emas untuk diberikan kepada Leonard.