
Pada akhirnya Matthew hanya memakan dua porsi daging bakar. Itu adalah porsi daging bakar yang bisa mengenyangkan orang dewasa. Tetapi bagi Matthew yang berusia sepuluh tahun, seharusnya tiga perempat dari daging bakar itu sudah mengenyangkannya.
Matthew berpikir ini ada kaitannya dengan dirinya yang merasa sedikit lagi bisa berteman dengan elemen ruang.
Setelah makan dan kenyang, Matthew kemudian keluar dari kedai. Ia ingin melihat barang yang dijual oleh para pedagang. Anak laki-laki itu sudah ijin kepada John menganai hal ini. Matthew tidak mau hanya duduk di dalam kedai dan menunggu tiga orang lainnya menghabiskan makanan mereka yang tidak juga cepat habis.
Kereta pertama yang Matthew tuju adalah kereta yang menjual bumbu masakan. Banyak bumbu yang Matthew beli dari sana. Dirinya yakin dengan bumbu-bumbu ini Matthew bisa membuat makanan lezat yang tidak kalah dengan daging bakar dikedai tadi.
Ia menghabiskan lima puluh koin perak untuk membeli semua bumbu itu. Apa yang Matthew lakukan ini berhasil menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana. Mereka adalah seorang preman desa yang sering melakukan kejahatan kecil seperti mencuri dan merampok mereka yang lebih lemah.
Usia Matthew yang masih muda, penampilannya yang tidak menunjukkan bahwa dia adalah anak orang kaya yang memiliki pengawal, membuat para preman itu memiliki niat jahat terhadap Matthew.
Mereka pikir Matthew memiliki uang yang cukup banyak. Entah dari mana dia mendapatkannya, yang jelas mereka yakin Matthew membawa uang banyak. Lihat saja dia dengan mudahnya menghabiskan lima puluh koin perak dalam satu waktu untuk membeli bumbu masakan.
Tidak hanya itu, para preman itu sekarang melihat Matthew yang tengah berjalan menuju ke arah kereta pedagang yang membawa senjata. Matthew terlihat memilih beberapa senjata yang ada. Dari ekspresi yang mereka lihat, para preman itu tahu bahwa Matthew memiliki niatan untuk membeli beberapa senjata di sana.
“Bos sepertinya anak itu adalah mangsa yang bagus. Lihat dia tidak memiliki pengawal. Jadi, akan sangat mudah bagi kita untuk mengambil seluruh hartanya.” Ucap salah seorang preman.
“Kau benar. Maka dari itu, hubungi yang lain dan suruh mereka bersiap. Setelah ini kita akan menyergap anak itu.” Ucap pimpinan preman.
Beberapa preman juga mulai menyebar. Mereka mengawasi Matthew dari segala arah. Jadi, ketika Matthew pergi nanti mereka bisa mengikutinya dan menghadangnya tanpa takut kehilangan Matthew.
Sementara itu, Matthew sendiri masih sibuk memilih di kereta senjata. Ia tidak sedang mencari senjata atau apa pun itu. Matthew tahu bahwa senjata yang dijual di sini hanyalah senjata biasa. Ia tidak melihat adanya bola elemen di sekitar senjata tersebut.
Biasanya senjata yang dipakai oleh para profesional bisa memiliki elemen tertentu. Seperti halnya pedang besar milik ayahnya yang memiliki elemen api. Matthew tidak menemukan pedang seperti itu di sini.
__ADS_1
Saat ini dirinya hanya mencari pisau pendek untuk perlindungan diri bagi dirinya dan kedua adiknya. Lebih baik mereka memiliki senjata seperti ini untuk keadaan memaksa yang mungkin saja mereka alami.
Ketika berada dikereta yang menjual senjata, tiba-tiba Matthew tertarik pada sebuah pedang yang hanya tinggal pangkalnya saja. Pedang tersebut diletakkan begitu saja di tumpukan paling bawah senjata. Itu karena pedang itu sudah karatan.
Yang menarik perhatian Matthew bukan karena pedang itu yang karatan. Tetapi, dia merasakan keberadaan elemen di pedang itu setelah dirinya memperhatikan lebih lanjut. Elemen Kehidupan. Elemen yang sangat sulit ditemukan di benua Andradius.
Matthew ingin sekali membeli pedang tersebut. Tetapi dia tidak langsung mengatakan ingin membelinya. Bisa jadi pedagang akan menaikkan harga dari pedang itu jika tahu dirinya menginginkan pedang itu.
“Berapa harga dari pedang pendek ini?” Tanya Matthew kepada pedagang.
Di tangannya kini sudah ada sebuah pedang dengan panjang tiga puluh sentimeter. Pedang itu memiliki desain yang biasa. Tidak ada hiasan apa pun. Namun, ketika Matthew mengeluarkannya dari sarung pedang, ia bisa melihat bahwa pedang tersebut sangat tajam.
“Oh pedang itu. Pilihan yang bagus anak muda. Ini adalah pedang yang cukup kuat. Pandai besi yang membuat pedang ini memusatkan perhatiannya untuk membuat maha karya ini. Untuk dirimu, aku akan memberimu harga satu koin emas untuk pedang pendek ini.” Jelas pedagang tersebut.
Pedagang yang sekarang melayani Matthew tidak sama dengan pedagang yang pertama kali penyambut rombongan Matthew ketika mereka sampai di Desa Siendra. Pakaian pedagang di depannya ini juga terlihat lebih biasa daripada pedagang sebelumnya.
Maha karya seorang pandai besi? Itu sangat tidak mungkin. Tidak mungkin sebuah maha karya dijual begitu saja seperti ini. Dan lagi, pedagang ini memberinya harga satu koin emas. Itu terlalu mahal.
“Jangan mencoba menaikkan harga Paman. Meskipun aku ini masih remaja, tetapi aku tahu bahwa harga dari pedang ini tidak sampai segitu. Aku akan membelinya dengan harga sepuluh koin perak untuk satu buah pedang pendek ini.”
Meski Matthew tidak tahu harga asli dari produk ini, tetapi dirinya yakin harga jauh di bawah satu koin emas. Jadi, ia mencoba menurunkan harganya hingga sangat rendah.
“Jangan bercanda. Mana mungkin aku memberimu harga segitu. Itu terlalu murah. Aku tidak bisa melakukannya. Ini adalah sebuah maha karya, jadi tidak mungkin aku menjualnya dengan harga segitu.” Jawab pedagang tersebut.
“Jika itu adalah maha karya, maka pedang ini akan dijual pada lelang yang ada di kota besar tidak mungkin karavan pedagang seperti kalian menjualnya dengan mudah. Dan lagi, sebuah maha karya dari Master pandai besi biasanya jumlahnya terbatas. Lihat saja, ada banyak pedang pendek di keretamu.”
__ADS_1
Pedagang tersebut tidak menyangka bertemu dengan seorang anak yang cukup cerdas yang bisa mengetahui tipu muslihatnya. Memang pedang pendek ini bukanlah sebuah maha karya. Ini hanyalah pedang pedek yang diproduksi oleh pandai besi yang bekerja pada karavan merek.
“Jika Paman mau meberiku tiga pedang yang sama seperti ini, aku akan memberimu tiga puluh koin perak. Bagaimana?” Tawar Matthew.
“Tidak bisa. Jika Kau membelinya dengan harga segitu aku tidak akan mendapatkan keuntungan. Lima puluh koin perak untuk tiga pedang pendek ini. Kau tidak bisa lagi menawarnya.” Ucap pedagang tersebut sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Lihat bukan sekarang pedagang ini sudah menurunkan harganya hingga setengah dari harga sebelumnya. Tidak hanya itu, sekarang Matthew tidak hanya mendapatkan satu pedang pendek tetapi tiga pendek sekaligus.
Memang benar kata John, pedagang di dunia ini hanya fokus akan keuntungan. Semua hal yang bisa memberi mereka keuntungan, akan mereka lakukan.
Matthew tidak langsung mengiyakan tawaran dari pedagang itu. Ia sekarang terlihat berpikir keras mengenai tawaran dari pedagang itu.
“Tidak bisakah Kau menurunkannya lagi Paman? Aku ingin membeli ini untuk aku dan kedua adikku. Ini untuk perlindungan Kami selama perjalanan. Jadi, bisakah Kau memberiku potongan harga lagi?” Pinta Matthew.
“Tidak bisa. Ambil itu atau tidak sama sekali.” Jawab pedagang tersebut.
“Ehm baiklah.” Ucap Matthew yang terdengar sangat terpaksa.
“Tetapi apakah Kau bisa memberikan pedang usang itu sebagai bonus Paman?” Tanya Matthew sembari menunjuk sebuah pedang karatan yang menjadi tujuan utamanya.
“Tentu tidak masalah.”
Pedagang itu merasa mendapatkan untung yang cukup besar dalam transaksi ini. Sebenarnya pedang pendek itu biasanya dijual dengan harga delapan hingga sepuluh koin perak. Sekarang dirinya bisa menjualnya dengan harga lebih dari lima belas koin perak.
Keuntungan ini nantinya bisa masuk dalam kantong pribadinya. Dua puluh koin perak bukanlah angka yang kecil.
__ADS_1
Tidak hanya pedagang itu yang merasa mendapatkan keuntungan besar, Matthew juga merasakannya juga. Bagaimana tidak, ia bisa mendapatkan sebuah pedang yang memiliki elemen kehidupan di dalamnya hanya dengan lima puluh koin perak. Ini adalah transaksi menguntungkan untuk Matthew.
Anak itu bisa merasakan betapa besarnya elemen yang terkandung di senjata ini setelah memegangnya langsung. Matthew yakin, senjata ini bisa mmebatunya mempermudah mempelajari elemen kehidupan nantinya.