
"Sial." Umpat Arthur dengan keras.
Arthur seolah lupa bahwa di depannya kini masih ada John. Ia begitu kesal setelah mendengar penjelasan John mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Tenanglah Arthur, jangan terlalu emosi. Kita perlu memikirkan hal ini dengan kepala dingin. Jika kita terlalu emosi, maka keputusan yang akn kita akan ambil akan merugikan kita. Jadi, Kau perlu menenangkan ditimu." Ucap John.
Mendengar ucapan John, Arthur menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Benar kata John, emosi tidak akan menyelesaikan masalah ini. Yang harus ia lakukan adalah bersikap tenang dan menyusun rencana untuk membalas orang-orang dari Black Shadow itu.
Dengan begitu, kekesalannya akan hilang nantinya. Lalu dia jug bisa membantu mengurangi kekuatan dari Black Shadow.
"Maafkan aku Kepala Akademi. Aku terlalu emosi mendengar penuturanmu tadi. Aku tidak menyangka aku akan dijadikan target rencana dari Black Shadow. Mereka bahkan sudah berani menargetkan anak-anak yang akan kita rekrut.”
“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan Kepala Akademi? Tidak mungkin bukan kita membiarkan mereka bebas begitu saja. Kita perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi ini.”
“Itulah alasan aku kemari. Aku ingin Kau dan beberapa orang dari akademi bersiap. Malam ini kita akan menghabisi orang-orang dari organisasi Black Shadow itu. Mereka akan mengikuti lelang di Rumah Lelang Ateoviel. Jadi bersiaplah.” Jelas John.
“Baguslah, aku bisa melampiaskan kekesalanku kepada mereka malam ini. Tenang saja Kepala Akademi, aku akan mempersiapkan semuanya agar rencana malam ini berjalan dengan lancar.”
…
Suasana di rumah lelang sudah cukup ramai ketika mereka sampai di sana. Di rumah ini terdapat bilik-bilik khusus bagi peserta lelang yang ingin membeli barang lelang. Tetapi mereka yang bisa menempati bilik-bilik tersebut hanyalah orang yang memiliki status.
John bisa saja membawa mereka ke bilik-bilik khusus itu. Sebelumnya Arthur sudah menawarkan hal itu kepada laki-laki itu. Tetapi John tidak ingin mendapatkan telalu banyak sorotan. Hal itu membuat laki-laki itu lebih memilih duduk di kursi yang disediakan di aula.
__ADS_1
Menurut John di mana pun mereka duduk itu sama saja. Yang menentukan pemenang barang lelang adalah mereka yang bisa menawarkan harga lebih tinggi dari yang lain. Bukan mereka yang duduk di bilik khusus atau di aula. Jadi menurut John mereka tidak perlu duduk di bilik khusus.
Apalagi dirinya sekarang ingin mengetahui siapa saja orang-orang dari organisasi Black Shadow itu. John pikir mereka tidak akan berada di bilik-bilik tersebut. Mereka pasti berbaur dengan yang lainnya di aula.
Dengan identitas mereka, orang-orang itu tidak bisa dengan terang-terangan meminta bilik khusus untuk mengikuti lelang ini. Tidak mungkin bukan mereka mengumumkan identitas mereka begitu saja.
“Kakek John, apakah ada barang yang ingin kau beli?” tanya Jasper ketika mereka sudah duduk di kursi yang kosong.
“Aku belum tahu Jas. Jika ada barang yang bagus, maka aku akan membelinya. Jika tidak aku hanya akan mengamatinya saja. Angap saja ini sebagai hiburan.” Jawab John santai.
“Tetapi, ingat juga fokus kita malam ini apa. Aku minta Kau memasang telingamu baik-baik Matt, coba cari tahu siapa dua orang yang tadi pagi berada di sebelah kamarmu.” ucap John mengingatka.
“Tentu Kakek John, aku mengingatnya. Jangan khawatirkan hal itu.” jawab Mattthew.
“Selamat malam Tuan dan Nyonya sekalian. Selamat datang di Rumah Lelang Ateoviel. Dalam lelang kali ini, saya Harry akan menjadi pemandu lelang. Akan ada tiga puluh barang yang akan di lelang malam ini. Harap mengakat tangan kalian sebelum menyebutkan nominal uang yang kalian tawarkan.”
“Harry, cepatlah keluarkan barang yang akan di lelang. Jangan bertele-tele lagi.” Seseorang yang duduk di kursi yang di aula terdengar meneriaki Harry, sang pemandu lelang.
“Baiklah, baiklah. Sepertinya hadirin sekalian sudah tidak sabar ingin aku segera memulai lelang ini. Baik mari kita lihat barang pertama.”
Seorang wanita terlihat memasuki panggung dengan mendorong sebuah troli kecil menuju ke tengah panggung. Di atas troli tersebut terdapat sebuah benda yang tertutup kain berwarna merah. Setelah mendapatkan anggukan dari Harry, wanita tersebut membuka kain penutup yang menutupi barang yang akan di lelang tersebut.
Di balik kain tersebut terdapat sebuah pedang yang jika diperhatikan dengan seksama memancarkan cahaya samar berwarna emas. Pedang tersebut juga dibekali dengan rune yang secara samar. Kini suara Harry kembali terdengar. Laki-laki itu tengah menjelaskan secara singkat tentang pedang tersebut.
__ADS_1
“Ini adalah pedang tingkat emas karya pandai besi Master Antonio. Malam ini Master Antonio mempercayakan Rumah Lelang Ateoviel untuk melelang empat buah pedang dan empat buah tongkat sihir. Kedelapan senjata itu memiliki elemen api, elemen bumi, elemen air dan elemen udara. Jadi akan ada masing satu pedang dan satu tongkat sihir untuk keempat elemen tadi.”
“Untuk yang pertama kita akan melelang pedang dengan elemen api. Pedang ini dibuka dengan harga seribu lima ratus koin emas, dan kalian bisa menaikkan harganya minimal lima puluh koin emas lebih banyak dari harga yang di tawarkan sebelumnya. Baiklah lelang ini kita buka.” Harry mengetukkan palu yang ada di podium satu kali, sebagai tanda dimulainya lelang.
Matthew tidak menyangka bahwa senjata pun memiliki tingkatan tertentu. Dan lihat itu, harga yang ditawarkan sangatlah tinggi. Ini berarti harga pasar untuk senjata di tingkat emas jauh lebih tinggi dari dua hingga tiga ribu koin emas. Bisa jadi dua kali lipat dari harga awal yang ditawarkan pada awal lelang.
Menjadi seorang profesional memang membutuhkan biaya yang mahal. Senjata saja sudah semahal itu. Belum lagi untuk yang lainnya seperti membeli ramuan, pakaian khusus, dan semacamnya. Sekarang Matthew merasa apa yang orang tuanya berikan kepadanya tidak ada apa-apanya.
Matthew kira orang tuanya terlalu banyak memberikan uang saku untuk dirinya dan kedua adiknya, ternyata uang tersebut adalah persiapan bagi mereka yang mulai terjun dalam dunia profesional.
Memang dengan kekuatan mereka yang sekarang, uang itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi, jika Matthew tidak bisa mengatur keuangannya dengan baik, maka dalam waktu singkat uang tersebut akan habis.
“Seribu delapan ratus lima puluh koin emas.” Teriak seseorang.
“Seribu sembilan ratus tujuh puluh.”
Teriakan demi teriakan terdengar di aula rumah lelang tersebut. Harga dari pedang yang kini tengah di lelang naik dengan pesat. Namun ketika harga mencapai dua ribu empat ratus koin emas, tidak terlalu banyak yang mencoba menaikkan harga.
Sepertinya harga pasar dari senjata itu ada di kisaran dua ribu lima ratus hingga dua ribu tujuh ratus koin emas. Pada akhirnya pedang tersebut terjual kepada seorang laki-laki berambut merah dengan harga dua ribu enam ratus tujuh puluh koin emas.
Satu persatu barang lelang mulai di jual. Teriakan demi teriakan penawaran mulai terdengar di sana. Semakin malam, semakin keras pula teriakan yang memperebutkan barang-barang yang tengah di lelang.
Hingga pada lelang barang ke tujuh belas, Matthew yang sebelumnya agak mengantuk langsung tersardar. Ia lalu memandang ke arah John.
__ADS_1