
Ellie membawa Matthew ke tempat John berada. Pemandangan yang Matthew lihat pertama kalinya adalah John yang tengah melahap bagian paha dari monster berkaki empat. Monster tersebut dimasak dengan cara diputar-putar di atas bara api.
Lebih mirip seperti kambing guling sepertinya. Matthew melihat daging tersebut dilumuri banyak bumbu. Entah bumbu apa pun itu yang dilumurkan di atas daging tersebut, berhasil membangkitkan nafsu makan Matthew hanya dengan bau hrumnya saja.
“Kau sudah bangun rupanya.” Ucap John dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Saudaramu tadi tiba-tiba saja meninggalkan makanannya dan berlari menuju kereta. Aku kira ada apa. Ternyata Ellie tadi datang untuk menjemputmu.”
“Ayo Matt kita makan. Daging masakan Paman George sangat enak Matt, sungguhan. Kau harus mencobanya. Ini lebih enak dari makanan yang kita makan di kedai kemarin siang.” Ucap Jasper dengan mulut yang penuh dengan daging.
Sementara itu Ellie lalu mendorong pelan Matthew untuk bergabung di kerumunan kecil tersebut. Ellie memilihkan untuk Matthew duduk di antara dirinya dan John.
“Kau terlalu menyanjungku Tuan Muda. Masakanku tidak sehebat itu. Masih banyak perlu aku pelajari untuk membuat makanan enak.” Ucap seorang laki-laki paruh baya yang Matthew tebak bernama George tersebut.
Meski terlihat tidak mau menerima pujian dari Jasper, tetapi laki-laki bernama George itu tersenyum lebar hingga menampilkan barisan gigi putihnya. Terlihat sekali jika bangga menerima pujian itu.
“Tapi memang daging masakanmu sangat enak Paman George. Aku sama sekali tidak bohong. Kau harus mencobanya sendiri Matt.” Ucap Jasper menawari.
Mendengar ucapan Jasper, George dengan tanggap memotong daging masakannya. Ia memberikan potongan yang cukup besar di piring yang ia berikan kepada Matthew. Ia ditugaskan Simon untuk memuaskan perut keempat orang di depannya ini.
Dari Ron, Simon mengetahui bahwa ketiga orang ini memiliki nafsu makan yang besar. Oleh karena itu Simon memerintahkan Lucas memburu seekor monster pagi ini. Simon lalu meminta George, juru masak yang selama ini sudah mengikutinya selama lima tahun terakhir ini, untuk membuat masakan terbaiknya dari monster hasil buruan Lucas.
Sepertinya keputusan yang Simon ambil ini tepat. Ini adalah salah satu cara yang bisa ia lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang yang telah menolong karavannya ini.
Simon juga berencana memberikan beberapa barang kepada keempat orang ini. Mungkin ia bisa memberikan sesuatu untuk kedua anak di depannya ini. Sepertinya mereka akan mengikuti seleksi dari Akademi Andradius.
Daripada memberikan hadiah kepada John, Simon rasa lebih baik ia menunjukkan niat baiknya itu dengan memberikan hadiah kepada kedua anak tersebut. Bukan apa-apa tetapi Simon yakin barang koleksinya tidak berarti apa-apa bagi John.
__ADS_1
Simon sudah melihat cincin ruang yang ada di jari John. Ia yakin cincin itu adalah cincin ruang dengan tingkat tinggi. Ia yakin setidaknya luas dari cincin ruang tersebut adalah puluhan kubik meter. Ia pernah melihat cincin yang mirip yang dipakai oleh tetua keluarga Rensburg.
Selai itu, Simon juga mendengar dari Lucas bahwa John merupakan pengguna elemen ruang. Sudah pasti kekayaan yang dimilikinya jauh di atas Simon. Daripada hadiahnya dipandang remeh, lebih baik ia memberikan hadiah sebagai bentuk rasa terima kasihnya untuk kedua anak yang ikut bersama John. Itu adalah keputusan yang cukup aman bagi Simon.
*****
Matthew mengucapkan terima kasihnya setelah menerima piring makanan dari George. Anak laki-laki itu kemudian membuat potongan kecil dari daging yang ada di depannya. Matthew mengunyah dengan pelan mencoba menikmati rasa yang ada dari makanan tersebut.
Mata Matthew berbinar ketika merasakannya. Makanan ini benar-benar enak. Ini tidak jauh berbeda dari rasa yang sangat dikenalnya. “Masakanmu benar-benar enak Paman George. Aku malah penasaran bumbu apa saja yang Kau pakai. Apa Kau punya stok bumbu yang banyak Paman? Jika boleh aku ingin membeli beberapa bumbu masakan.” Ucap Matthew setelah menelan makanannya.
“Kau ingin membeli bumbu? Tentu saja, tentu saja. Kami bisa memberikan beberapa bumbu kepadamu. Kau tidak perlu membayarnya Tuan, anggap saja bumbu-bumbu itu adalah hadiah dariku.” Ucap Simon.
Ia kira ia akan cukup bingung memilihkan hadiah untuk mereka. Kenapa dirinya bisa lupa. Keempat orang ini memiliki nafsu makan yang besar. Jadi dia bisa memberikan hal yang disukai mereka. Selain Simon akan menanggung makanan mereka selama perjalanan, dia bisa memberikan beberapa bumbu masakan atau bahkan bahan makanan yang cukup langka.
Bagaimanapun juga dia tidak memiliki uang banyak. Ia bukanlah pemilik Karavan Gold Mine, jadi tidak banyak harta yang dimilikinya. Selain bumbu-bumbu tersebut, Simon bisa juga meminta tolong George untuk mengajari anak laki-laki ini memasak.
Sepertinya dia sangat berminat untuk memasak. Jika tidak dia tidak akan menanyakan soal bumbu masakan bukan?
“Memangnya Kau bisa memasak?” tanya John tiba-tiba.
“Aku sudah beberapa kali memasak makan yang cukup enak. Jika Kakek John tidak percaya, coba tanyakan saja kepada kedua adikku.” Ucap Matthew dengan bangga.
Meskipun masakannya tidak seenak masakan seorang chef, tetapi masakannya bisa dikonsumsi dan cukup enak. Jadi Matthew cukup bangga dengan kemampuannya yang satu ini. Ia juga pernah beberapa kali meminta saran seorang chef saat dirinya menjadi pelayan kafe. Sedikit banyak Matthew sudah memiliki kemampuan memasak yang bisa dibanggakannya.
“Aku tidak yakin makanan yang Kau masak bisa dikonsumsi.” Ucap John dengan tidak yakin.
__ADS_1
“Kenapa Kau tidak sepercaya itu padaku Kakek John?”
“Masakan Matt cukup enak Kakek John. Kau perlu mencobanya.” Ucap Ellie mencoba membela Kakaknya.
“Jika Kau memakannya Kau pasti akan ketagihan Kakek John. Jangan salahkan Matt jika nanti dia tidak memberimu makanan karena ini.” Imbuh Jasper.
Keduanya sudah merasakan kreasi masakan dari Matthew. Jadi mereka tahu bahwa masakan yang Matthew buat tidak buruk. Mereka tidak terima John meremehkan masakan Matthew.
Seolah sebuah kebetulan membantunya, Simon ikut bergabung dengan pembicaran mereka. Dengan begini dirinya akan sangat mudah untuk menyampaikan hal ini.
“Bagaimana jika selama perjalanan kita ini Kau belajar memasak dengan George, Tuan Muda. Aku rasa dia bisa mengajarkanmu beberapa resep makanan yang cukup mudah untuk dibuat. Apa Kau tidak keberatan dengan hal itu George?” tanya Simon yang kini memandang ke arah George.
Melihat kode yang diberikan oleh Simon, George menanggapinya. “Tentu saja aku tidak keberatan untuk mengajarimu Tuan Muda. Ada banyak resep masakan yang cukup mudah untuk pemula sepertimu. Aku yakin selama seminggu kedepan Kau bisa menguasai resep tersebut.” Ucap George.
Tidak ada salahnya ia melakukan hal ini. George sendiri bukanlah seorang juru masak hebat yang menjaga ketat resep yang mereka miliki. Toh resep yang akan George ajarkan kepada Matthew kemungkinan besar adalah resep-resep masakan yang cukup umum. Jadi George tidak akan rugi sedikitpun.
“Kau dengar sendiri kan Tuan Muda? Kau bisa belajar memasak dengan George selama perjalan kita menuju kota Suiria. Dengan begini Tuan John, tidak perlu lagi mengkhawatirkan apakah masakan yang dimasak oleh Tuan Muda ini bisa dimakan atau tidak. Dengan berlatih bersama George aku rasa dia bisa memasak satu dua masakan yang pantas untuk dikonsumsi meskipun dia seorang pemula sekalipun.”
“Ah… aku setuju dengan ucapanmu itu.” John kemudian memandang ke arah Matthew. “Jadi anak muda, Kau harus belajar dengan baik selama perjalanan ini. Jika Kau benar-benar bisa memasak makanan lezat, maka tugas memasak selanjutnya akan berada di tanganmu.”
Ehm…. Kenapa Matthew merasa ada yang salah dengan ucapan John. Dirinya sekarang seperti dimanfaatkan John sebagai chef pribadinya. Tapi sudahlah. Tidak ada salahnya dia belajar memasak. Mungkin saja di dunia ini ada resep yang tidak ada di dunianya yang dulu.
Lagi pula, memang ini adalah keinginan Matthew untuk memasak untuk mereka berempat bukan? Ia ingin berterimkasih kepada John karena sudah mau melindungi dirinya dan Ken dan membawa mereka ke Akademi Andradius.
“Tidak masalah Kakek John. Aku akan belajar masak dengan baik.”
__ADS_1