
“Apa yang ingin Anda pesan Tuan?” tanya seorang pelayan yang kini menyodorkan buku menu kepada keempat orang tersebut.
“Kakek John, Kau sudah pernah kesini bukan? Apakah Kau punya saran makanan apa yang perlu kami coba.” Tanya Ellie.
Melihat berbagai macam makanan yang ada di menu, membuat liur menetes di sudut bibir Ellie. Ia tidak sabar untuk mencoba makanan baru. Jasper juga tidak jauh berbeda. Ia bahkan memandang beberapa gambar yang ada di menu dengan sangat serius.
“Kau bisa mencoba sub iga, sup iga milik mereka sangat enak.” Ucap John memberi saran.
“Kau benar sekali Tuan. Sup iga buatan kami dipilih dari bahan-bahan berkualitas. Sup ini dimasak langsung oleh koki kami ketika pesanan masuk jadi rasa dari masakan ini akan terjamin.” Ucap pelayan memberikan dukungan atas pernyataan yang John buat.
“Baiklah. Aku pesan tiga mangkuk sup iga, satu keranjang roti dan tiga gelas besar susu dari monster apa pun yang kalian punya.” Ucap Ellie.
“Jadi tiga mangkuk sup iga dan dua keranjang roti? Apa ada tambahan?” tanya pelayan tersebut ingin memastikan kembali pesanan yang Ellie buat.
“Itu tadi hanya pesanan saudaraku. Aku juga pesan sama seperti saudaraku.” Imbuh Jasper.
“Aku juga sama. Berikan aku jumlah yang sama seperti pesanan mereka. Jika kurang, mungkin nanti aku akan pesan lagi. Kakek John kami sudah memesan, Kau mau memesan apa?” Tanya Matthew sembari memandang ke arah John.
“Samakan seperti mereka.” Jawab John singkat.
Pelayan tersebut sedikit tidak percaya mendengar jumlah pesanan dari pelanggan di depannya. Ia kira gadis kecil ini memesan makanan untuk mereka berempat. Tetapi tidak, itu adalah makanan yang ia pesan untuk dirinya sendiri. Apakah dia sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu?
“Jadi, pesanan kalian adalah dua belas mangkuk sup iga, empat keranjang roti dan dua belas gelas besar susu. Apa semua itu benar?” tanya sang pelayan mencoba memastikan kembali pesanannya.
“Iya. Tidak ada yang salah. Mungkin itu cukup untuk saat ini. Jika kurang kami akan memesan lagi.” ucap John.
“Ehm… baiklah Tuan. Akan saya sampaikan pesanan Anda ke dapur. Mohon bersabar menunggu.”
John menggelengkan kepalanya melihat pelayan yang terlihat kaget dengan banyaknya pesanan yang mereka buat.
__ADS_1
“Ini selalu saja terjadi. Setiap aku makan di sebuah kedai, mereka pasti akan bertanya beberapa kali padaku untuk memastikan kembali jumlah makanan yang aku pesan. Ini sangat merepotkan.” Ucap John ketika pelayan tadi sudah tidak lagi terlihat.
“Memang terlihat sangat merepotkan Kakek John. Untung saja Matthew bisa memasak. Jadi nanti ketika di akademi, aku bisa dengan mudah makan makanan enak dan banyak tanpa perlu melakukan hal merepotkan seperti ini.” Jawab Jasper.
“Sial. Kau jadi mengingatkanku pada hal itu. Setelah kalian berada di akademi aku tidak akan lagi bisa makan dengan nyaman ketika bepergian.”
“Aku harus sekalu menyetok makan dengan jumlah banyak ketika menemukan kedai dengan makanan lezat. Aku tidak lagi bisa merasakan makanan segar ketika bepergian.” Keluh John.
“Meski aku makanan-makanan yang disimpan di dalam cincin ruang tidak basi, tetapi itu tidak memuaskan. Membayangkan memakan makanan yang sudah berumur belasan hari kadang menurunkan nafsu makanku.” Gerutu John.
“Kenapa Kau tidak memasak sendiri makananmu Kakek John? Bukankah Kau juga bisa mendapatkan makanan segar jika Kau memasaknya sendiri?” tanya Ellie.
“Aku tidak bisa memasak. Masakanku selalu saja gagal. Jika tidak terlalu asin, makanan yang aku masak pasti terlalu manis. Semuanya tidak enak.” Ungkap John.
John sudah berkali-kali mencoba memasak selama ia berpetualang. Ia tidak pernah berhasil membuat makanan layak makan. John selalu menyetok makanan di cincin ruangnya. Terkadang, jika makananya di cincin ruang habis, John terpaksa memakan daging monster hambar tanpa bumbu apa pun.
John selalu saja iri dengan mereka yang pandai memasak. Mereka bisa menyiapkan makanan enak apa pun yang mereka inginkan.
“Itu juga sangat merepotkan Jas. Waktuku terbuang banyak untuk belajar memasak nantinya. Daripada belajar memasak, lebih baik aku menggunakan waktu yang aku punya untuk mencari kedai yang menjual makanan terenak.” Jawab John.
“Bukankah jika kita bisa memasak, kita tidak perlu mencari makanan enak. Yang perlu kita lakukan adalah mencari resep makanan enak. Di mana pun kita berada jika kita bisa memasak, kita bisa memakan semua makan enak.” Imbuh Matthew.
“Bukankah akan sangat membuang waktu untuk bepergian mencari kedai-kedai yang menjual makanan itu Kakek John?”
Sekali lagi, John dikalahkan dalam debat dengan kedua anak di depannya. “Jika Kau berkata seperti itu Matt, maka aku tidak akan lagi bepergian. Tetapi selama di akademi, Kau harus mengajariku masak hingga mahir.”
“Aku kan ke akademi untuk belajar, bukan menjadi guru memasak. Kenapa aku harus mengajarimu memasak?” Protes Matthew.
Tidak hanya John saja yang waktunya sangat berharga. Dirinya juga begitu. Waktu miliknya juga begitu berharga. Ia ingin fokus belajar menjadi lebih kuat, bukan mengajari seseorang memasak.
__ADS_1
“Tidak perlu berdebat lagi, semua sudah diputuskan. Selama semingu tiga kali Kau akan mengajariku masak.” Ucap John memutuskan.
“Tidak bisa begitu Kakek John. Kau tidak bisa memutuskannya secara sepihak seperti itu.”
“Tenang saja aku akan membayarmu untuk mengajariku memasak. Kau tidak akan dirugikan sama sekali. Justru Kau akan mendapatkan keuntungan dari transaksi ini.” Jawab John.
“Semua bahan akan aku persiapkan, Kau hanya perlu mengawasi dan memberiku instruksi saja. Bagaimana dengan hal itu?” Tawar John.
“Hem…. Baiklah aku terima tawaranmu itu Kakek John. Tetapi, jika nanti tawaranmu itu merugikanku, aku bisa membatalkan kerja sama ini kapan pun juga. Jika Kau tidak bisa memberiku jaminan itu, maka aku tidak mau mengajarimu memasak.” Jelas Matthew.
“Tentu-tentu.”
Sementara keempat orang itu mengobrol dan berdiksusi, terjadi sebuah keriutan kecil, di sudut lain di The Snoring Turtle.
Seorang remaja berjalan dengan angkuh mendekati seseorang yang merupakan pelayannya. Dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas, remaja tersebut berkata dengan nada yang tidak kalah angkuhnya.
“Bagaimana? Apakah Kau berhasil mendapatkan kamar?” tanya remaja tersebut.
“Maafkan saya Tuan Muda, saya gagal mendapatkan kamar terakhir di sini. Seseorang telah terlebih dahulu memesan kamar terakhir yang ada di sini.” Ucap pelayan tersebut dengan kepala yang menunduk, tidak berani memandang sang majikan yang terkenal kejam itu.
Plak.
Suara tamparan yang cukup keras terdengar di sana. Remaja tersebut menampar keras pelayan yang ada di depannya hingga pelayannya tersebut jatuh tersungkur.
“Bodoh. Tugas sekecil itu saja tidak bisa Kau selesaikan. Dasar tidak becus. Keluargaku sudah menggajimu dengan tinggi. Tetapi tugas sekecil ini saja Kau gagal melaksanakannya.”
“Kenapa Kau tidak memakai kaki jelekmu itu untuk berlari? Jika saja Kau berlari Kau bisa saja bisa mendapatkan kamar tersebut dan tidak didului orang lain.” Bentak remaja tersebut.
“Lalu, jika seperti ini bagaimana? Aku harus menginap di mana? Jika tidak di sini, apakah ada tempat lain yang paling cocok untuk menjadi tempat menginap seorang anak Earl. Jawab aku?” Remaja tersebut menendang pelayannya yang masih tersungkur di lantai dengan keras.
__ADS_1
Pelayan itu tidak berani berdiri. Jika dia belum diijinkan berdiri, maka bisa jadi nyawanya melayang di tangan majikannya ini.
Lebih baik seperti ini. Ia hanya perlu menahan rasa sakit ini daripada harus kehilangan nyawa. Pendahulunya sudah banyak dan hanya kesalahan kecil mereka kehilangan nyawa. Pelayan ini tidak mau memiliki nasib sama seperti orang-orang tersebut.