
Keringat dingin langsung mengalir di punggung Matthew ketika mendengar semua pembicaraan itu. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang yang berada di sebelah kamarnya adalah mereka yang berasal dari Black Shadow, organisasi yang membuat dirinya dan kedua adiknya harus terpisah dengan orang tua mereka.
Tidak hanya itu saja, ada hal yang lebih menakjubkan lagi yang Matthew ketahui dari kegiatan mengupingnya ini. Ia mendengar bahwa besok mereka akan melakukan rencana yang cukup besar, dan ini ada kaitannya dengan Akademi Andradius, akademi yang akan menjadi tujuannya.
Matthew tidak bisa membiarkan rencana mereka berhasil bergitu saja. Ia harus memberitahukan hal ini kepada seseorang.
Tetapi, Matthew tidak berani bergerak sedikit pun dari tempatnya berada sekarang. Matthew takut jika dirinya bergerak, ranjang tempatnya duduk ini akan berderik membuat suara gaduh. Sudah pasti mereka akan mengetahui keberadaan Matthew di sini.
Memanggil kedua adiknya kemari malah akan memperparah keadaan. Itu malah membuat orang yang berada di kamar sebelah tahu bahwa Matthew adalah tetangga kamar mereka. Keduanya pasti akan curiga bahwa Matthew menguping pembicaraan mereka.
Bisa saja Matthew meminta kedua adiknya datang dan berpura-bura tidak ada Matthew di kamar ini. Tetapi bagaimana dengan John? Apa yang akan mereka jelaskan kepada laki-laki tua itu?
John pasti curiga mengenai cara berkomunikasi antara dirinya dan adik-adiknya. Rahasianya sudah terbongkar cukup banyak. Matthew tidak mau rahasia mengenai dirinya yang bisa bertelepati dengan kedua adiknya juga ikut terbongkar.
“Ah apakah itu perutmu yang sedang berbunyi Han?” tanya Ron.
“Ya aku sudah lapar. Bagaimana jika kita mengisi perut kita terlebih dahulu. Kita puaskan diri kita dulu sebagai perayaan kemenangan kita esok hari.” usul Han.
“Ide bagus itu. Bagaimana jika kita ke rumah Bordil Sutra Merah. Akus dengar wanita di sana cukup cantik-cantik. Daripada hanya makan berdua saja, lebih baik kita makan dengan ditemani oleh wanita-wanita cantik bukan.”
“Hahaha.” Han tertawa cukup keras. “Itu malah lebih bagus lagi. Aku sudah lama tidak menyentuh wanita. Jadi idemu ini bisa membantuku mengurangi kepenatan yang aku rasakan.”
Tidak lama kemudian, Matthew mendengar suara pintu dibanting dari kamar sebelah. Langkah kaki yang berat juga terdengar semakin lama semakin memelan suaranya. Pertanda bahwa pemiliknya sudah berjalan menjauh
Meski begitu, Matthew tidak langsung bergerak dari tempatnya berada. Ia takut kedua orang tersebut kembali ke kamar mereka untuk mengecek apakah ada yang menguping pembicaraan mereka atau tidak. Jika mereka kembali dan Matthew bergerak, itu akan mengumumkan keberadaannya kepada mereka.
Benar saja tidak lama kemudian ada suara pintu yang kembali dibanting. Ini berarti hanya salah satu dari dua orang tadi yang pergi. Salah satu di antara mereka tetap tinggal di kamar untuk mengetahui apakah ada orang lain yang menguping atau tidak.
“Ck.” Matthew mendengar suara orang mendecakkan lidahnya. “Jika saja ada Sein di sini pasti semuanya bisa lebih mudah. Dia bisa membuat barier untuk menghalau suara pembicaraan kita agar tidak terdengar oleh orang lain.” Gumam seseorang.
__ADS_1
Matthew tidak lagi mendengar suara apa pun. Matthew baru bisa bernafas lega setelah lima belas menit tidak mendengar suara apa pun. Matthew merasakan tubuhnya basah karena keringat yang ia hasilkan.
Dua puluh menit tadi adalah dua puluh menit paling menegangkan dalam hidup Matthew. Ia bisa saja dibawa oleh anggota dari organisasi Black Shadow jika tadi sampai ketahuan. Yang lebih parah lagi, nyawanya bisa saja menghilang.
Matthew tidak langsung membersihkan dirinya dari keringat. Ia memilih membaringkan tubuhnya diranjang dan menenangkan diri setelah apa yang ia lalui.
Entah berapa lama Matthew bertahan dalam posisi ini. Yang jelas ia merubah posisinya menjadi duduk ketika kedua adiknya datang. Matthew mencium bau yang cukup lezat ketika Ellie membuka pintu kamarnya.
“Matt, aku membawakanmu roti isi yang cukup lezat. Ya meski roti isi ini masih kalah dengan buatanmu, tetapi rasanya lebih enak dari roti isi lainnya yang dijual di pasaran.” Ucap Ellie.
“Kau bilang Kau akan menemui kami. Tetapi setelah kami tunggu cukup lama, Kau tidak juga muncul. Jadi hanya roti isi ini yang kami bawakan. Jangan salahkan kami jika roti ini sudah tidak lagi hangat.” Imbuh Ellie.
“Eh Kau kenapa Matt?” tanya Jasper yang kini melihat Mattew tidak dalam kondisi baik.
Rambut Matthew terlihat sedikit acak-acakan. Pakaiannya pun terlihat sedikit basah. Jasper heran dengan kondisi Kakaknya saat ini.
“Maksudmu apa?” Tanya Ellie bingung.
Matthew hanya beristirahat di dalam kamar. Bagaimana mungkin dia bilang baru saja melewati kematian? Apakah seseorang bisa mati hanya karena tidur di pagi hari?
Bukankah tadi baik-baik saja ketika menghubungi mereka? Ia terdengar baik-baik saja. Matthew bahkan berniat menemui mereka dipekan belanja bulanan. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Matthew benar-benar telah melewati kematian?
Matthew tidak menjawab pertanyaan adiknya. Ia malah bertanya balik kepada kedua adiknya.
“Apakah Kakek John sudah kembali?” tanya Matthew.
“Ya. Dia sudah kembali ke kamarnya. Apakah Kau mamiliki urusan dengan dia?” tanya Jasper.
Sekali lagi Matthew tidak menjawab pertanyaan adiknya. Ia memilih bangkit dari tempat duduknya dan pergi untuk menemui John di kamarnya. Ia harus memberitahukan kepada John mengenai temuannya.
__ADS_1
Melihat tingkah Matthew yang cukup aneh, Jasper dan Ellie langsung mengikutinya dari belakang. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti dengan ikut Matthew ke kamar John, keduanya bisa tahu alasan dibalik semua sikap aneh Kakak mereka.
Tidak lama setelah Matthew mengetuk kamar John, laki-laki tua itu membuka pintunya. Ia memicingkan matanya memandang Matthew dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Apakah Kau sakit? Kenapa penampilanmu buruk sekali.” Ucap John.
Baru kali ini John melihat Matthew dengan penampilan acak-acakan. Biasanya John melihat Matthew menampilkan penampilan terbaiknya. Ia memakai pakaian rapi dan bersih. John bahkan beberapa kali mecium aroma wewangian dari tubuh Matthew.
Sekarang ini, keadaan Matthew tidak hanya acak-acakan, tetapi badannya pun berbau keringat. Mereka berada di penginapan yang memiliki akses air bersih selama dua puluh empat jam. Jadi, Matthew tidak memiliki alasan menunda mandinya hanya untuk menemui dirinya bukan?
Kecuali, ada sesuatu yang sangat penting yang tidak bisa ia tinggalkan.
“Aku tidak sakit Kakek John. Ada sesuatu hal yang penting yang perlu aku beritahukan padamu.” Jawab Matthew.
“Bisakah kita bicara di dalam?” Pinta Matthew.
“Masuklah.”
Matthew dan kedua adiknya langsung masuk ke dalam kamar yang John tinggali. Mereka memilih duduk di satu-satunya ranjang yang ada di sana. Lalu John sendiri duduk dikursi yang ada.
“Jadi apa yang ingin Kau bicarakan padaku Matt?”
“Kakek John, bisakah Kau buat barier pelindung? Aku tidak mau pembicaraan kita di dengar oleh orang ke lima. Apa yang akan aku sampaikan ini menyangkut nyawa orang lain. Bahkan ini ada hubungannya dengan Akademi Andradius.” Jawab Matthew cukup lirih.
Meski begitu, John masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Matthew ucapkan. Dari ucapan Matthew tersebut John tahu bahwa pembicaran dengan Matthew ini adalah sesuatu yang penting. Jika tidak anak laki-laki itu tidak akan memintanya membuat barier.
“Tentu aku akan melakukannya.”
Setelah berucap demikian, John langsung mengetukkan tongkat miliknya dua kali ke lantai. Langsung saja cahaya tipis menyelubungi ruangan tersebut. Hal itu membuat apa yang akan mereka bicarakan, tidak bisa didengar oleh orang lain.
__ADS_1