Master Of Elements

Master Of Elements
ME 50 Penginapan


__ADS_3

“The Snoring Turtle”.


Begitulah papan nama yang tertulis di depan sebuah bangunan empat lantai. Kereta yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu masuk bangunan tersebut. Tanpa menunggu kusir membukakan pintu, John bergegas membuka pintu dan keluar dari kereta setelah kereta berhenti.


Bangunan di depan mereka ini memang cukup megah jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang mereka leihat selama perjalanan dari kota luar ke kota dalam. Pantas saja harga menginap semalam di sini jauh lebih mahal dari kota luar. Tarif masuk ke kota dalam saja sepuluh kali lipat dari kota luar, jadi tidak mengherankan jika para kusir tadi meremehkan mereka.


“Ini bayaranmu.” John melemparkan beberapa koin perak kepada kusir yang mengantarkannya.


“Terima kasih Tuan.” Ucap Kusir tersebut sembari tersenyum lebar.


Beruntung dirinya mau menerima tawaran laki-laki ini. sekali mengantar mereka saja sama dengan pendapatannya selama seharian. Dengan begini ia hanya perlu mengangkut beberapa penumpang lagi agar bisa membeli obat untuk istrinya.


Kusir tersebut pun segera melajukan keretanya. Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Tidak semua orang bisa berada di kota dalam.


Jika ia tidak segera pergi bisa saja keberadaannya menyinggung seseorang. Sudah pasti orang yang mungkin ia singgung adalah orang yang memiliki kekuasaan. Dirinya yang hanya seorang kusir tidak bisa menyinggung siapa pun saat berada di kota dalam.


Selepas kepergian kusir tersebut, John membawa Matthew dan kedua adiknya memasuki bangunan bernama The Snoring Turtle tersebut. Lantai dasar dari bangunan ini dipakai sebagai lobby dan kedai. Mungkin ini jugalah tempat pengunjung untuk makan di sini.


Lantai dua hingga empat dari bangunan ini dipakai untuk kamar penginapan. John berjalan ke arah resepsionis dari penginapan bernama The Snoring Turtle tersebut.


“Permisi Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis tersebut dengan ramah.


Sepertiya resepsionis ini tidak memandang mereka dari apa yang mereka pakai. Tidak seperti para kusir tadi, yang langsung saja menilai orang dari apa yang ia pakai.


“Apa kalian masih memiliki kamar kosong? Aku pesan tiga kamar dengan kamar mandi dalam, salah satu kamarnya dengan ranjang dobel. Jika bisa kamarnya bersebelahan. Apa kalian punya?” tanya John.

__ADS_1


“Kebetulan sekali Tuan, kamar yang tersisa cocok sekali dengan permintaan Tuan. Tiga kamar bersebelahan dengan salah satu kamarnya memiliki ranjang double. Anda butuh menginap berapa hari Tuan?”


John mengangguk-angguk pelan. “Aku akan menginap satu minggu di sini. Jika nanti kurang, aku akan menambah waktu bermalamku.” Jawab John.


“Baiklah Tuan. Tujuh koin emas dan  tujuh puluh tujuh koin perak untuk untuk kamar dengan dua ranjang, dan empat belas koin emas untuk kamar satu ranjang, semuanya jadi dua puluh delapan koin emas dan tujuh puluh lima koin perak untuk waktu satu minggu menginap.” Jelas resepsionis tersebut.


“Itu semua tidak termasuk makanan. Kami hanya akan menyiapkan air panas setiap paginya. Apa masih ada yang ingin Kau tanyakan Tuan?” tanya resepsionis tersebut.


“Tidak.” Jawab John.


Sebelum John membayar penginapan tersebut, Matthew terlebih dahulu menyerahkan dua puluh sembilan koin emas kepada resepsionis. “Ini kakak dua puluh sembilan koin emas. Kembaliannya untukmu saja.” Ucap Matthew.


Ada alasan lain kenapa Matthew memberikan uang tip sebanyak itu. Besok ia berencana berkeliling bersama dengan kedua adiknya ketika pekan belanja dimulai. Setidaknya dengan ada uang tip ini, Matthew bisa dengan mudah memperoleh beberapa informasi dari resepsionis tersebut.


Matthew yakin bahwa sedikit banyak resepsionis tersebut bisa memberikan saran untuknya ketika mengunjungi pekan belanja.


Matthew melihat kunci yang kini ada di genggamannya. Salah satu kunci tersebut memang memiliki gantungan dengan nomor 203 di atasnya, sedangkan kunci yang lain memiliki nomor 205 dan 206.


“Sekali lagi terima kasih kakak. Sampai berjumpa lagi.” Pamit Matthew sembari menunjukkan sebuah senyum lebar.


Matthew sedikit melambaikan tangannya sebelum pergi meninggalkan meja resepsionis itu bersama dengan John, Jasper, dan Ellie. Mereka kini berjalan menuju area makan di lantai satu tersebut.


Kebetulan sekali mereka lapar jadi rombongan kecil ini berniat untuk mengisi perut mereka sebelum membersihkan diri di kamar yang mereka pesan.


Keempat orang tersebut tidak terburu-buru untuk membersihkan diri. Toh mereka sudah mendapatkan kamar. Mereka tidak khawatir lagi kehabisan kamar penginapan. Jadi keempat orang yang memiliki nafsu makan tinggi itu memilih untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kakek John, aku sudah membayar penginapannya. Sekarang ganti Kau yang membayar makanan ini nanti.” Ucap Matthew santai ketika mereka sudah mendapatkan tempat duduk di meja paling sudut di kedai tersebut.


Matthew bisa menebak bahwa makanan di sini jauh lebih mahal dari makanan di luar. Sudah pasti rasanya juga lezat. Mangkanya ia berinisiatif untuk membayar pengiapan, karena ia tidak mau harus mengeluarkan uang banyak untuk makan.


Bukannya tidak mau, tetapi porsi makan mereka berempat saat ini cukup besar. Akan banyak uang yang ia keluarkan untuk membayar semuanya.


“Heh.” John mendengus pelan. “Aku tidak menyangka Kau yang masih sangat muda ini selicik itu. Kau berani menjebakku untuk membayar makanan ini.” Ucap Johnketus.


Ia tidak menyangka anak-anak Albert dan Elisa akan menjebaknya dengan cara seperti ini.


“Matthew tidak licik Kakek John. Ini hanya cerdik. Kami bisa lebih menghemat uang dengan cara ini. Lagi pula, selama beberapa hari perjalanan bukankah Matthew yang membuat makanan yang Kau makan?” Tanya Ellie.


“Jadi tidak salah bukan jika kini giliranmu mengeluarkan uang untuk mentraktir kami.” Imbuh Ellie tanpa merasa bersalah.


“Terserah kalian sajalah.” Ucap John pasrah.


John tidak menyangka bahwa dirinya menyerah begitu saja ketika berdebat dengan anak-anak ini. Mereka memiliki berbagai macam alasan untuk mengelak perkataannya. Setelah mengamatinya, John sadar bahwa tiga anak ini jauh berbeda dari anak-anak, yang lain yang pernah ia temui.


Ini bukan hanya soal talenta mereka, tapi ini mereka secara keseluruhan. Mereka sangat berbeda dengan anak pada umumnya.


Memang mereka masih memiliki sedikit sifat kekanak-kanakan. Namun, keputusan yang mereka buat selalu saja didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang cukup matang. Mereka tidak bersikap seperti anak usia mereka pada umumnya.


Menurut John, dengan sikap mereka ini, ketiga anak ini bisa hidup mandiri meski tanpa orang tua mereka. Tetapi mereka tetap membutuhkan beberapa arahan.


Dari pengamatan John selama bersama mereka, ia bisa melihat bahwa pengetahuan mereka masih minim. Terutama pengetahuan mengenai dunia profesional. Mungkin Albert dan Elisa tidak memberikan pengetahuan lebih mendalam kepada anak-anak mereka, karena usia mereka yang masih sangat muda.

__ADS_1


John berharap, para tetua di akademi nantinya mau menerima mereka menjadi murid. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan bimbingan mendalam mengenai dunia profesional.


__ADS_2