
"Kakek John, itu mereka." Bisik Matthew kepada John yang ada di sampingnya.
"Mana orangnya?" Tanya John.
"Arah jam sepuluh dari kita, dua orang yang sedang mencoba menawar barang yang tengah dilelang. Yang satu memakai jubah warna biru, satunya lagi memakai baju zirah warna perak. Itu mereka."
John langsung mengarahkan pandangannya ke arah jam sebelas dari tempat mereka duduk. Ia melakukannya senatural mungkin agar dua orang itu tidak mencurigainya. John hanya memandang mereka sekilas, namun begitu ia sudah bisa mengingat menampilan mereka.
"Jangan lihat ke arah mereka agar mereka tidak curiga." Ucap John memperingatkan Mathew dan kedua adiknya.
"Lebih baik aku mengantar kalian ke tempat yang aman sekarang. Setelah ini aku perlu membereskan mereka." Ucap John setengah berbisik.
Kepergian mereka berempat tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Berberapa orang memang ada yang sudah meninggalkan Rumah Lelang Ateoviel meskipun lelang belum selesai.
Apalagi saat ini Matthew dan kedua adiknya menampilkan wajah mengantuk mereka. Hal ini membuat yang lain berpikir bahwa John pergi karena ingin mengantarkan tiga anak yang bersamanya pulang.
John membawa keduanya menyusuri jalan. Ia mengajak mereka memasuki sebuah gang yang tidak terlalu lebar, juga tidak terllau kecil. Gang ini cukup untuk dilewati dua buah kereta. Lebih kecil dari jalan utama.
Di sana sudah ada sebuah kereta yang menunggu mereka. Seorang laki-laki yang memakai jubah berwarna merah terlihat berdiri di dekat kereta tersebut. Ketika melihat kedangan mereka, laki-laki itu berjalan cepat mendekat.
"Kepala Akademi, apakah kita akan bergerak sekarang?" Tanya laki-laki itu.
"Tentu saja Arthur. Setelah ini Kita akan bergerak membereskan mereka. Tetapi, aku perlu mengamankan ketiga anak ini terlebih dahulu." Jawah John.
Baru sekarang Arthur menyadari keberadaan tiga orang anak yang bersama dengan John. Mereka terlihat sedikit mengantuk sekarang.
"Siapa mereka Kepala Akademi?"
"Cukup panjang jika aku menjelaskannya. Sekarang bawa ketiga anak ini ke tempat yang aman. Sementara itu Kamu ikut aku membereskan tikus-tikus itu." Jelas John.
Sekarang Arthur baru tahu alasan John memintanya menyiapkan kereta. Sudah pasti kereta ini untuk ketiga anak ini. Siapa pun mereka, Arthur yakin identitas mereka bukan sembarangan. Lihat saja mereka cukup akrab dengan kepala akademi sekarang.
__ADS_1
...
John, Arthur, dan beberapa orang terkuat dari Akademi Andradius yang ada, sudah bersiap di dekat Rumah Lelang Ateoviel. John sudah memberikan ciri-ciri dari dua orang yang menjadi anggota Black Shadow.
Selain orang-orang dari Akademi Ateoviel, beberapa prajurit Kota Greenwood juga ikut dalam penyergapan kali ini. Bagaimana pun juga Black Shadow adalah organisasi yang menjadi musuh bersama semua orang. Jadi mereka ikut serta dalam misi kali ini.
Dua puluh menit kemudian, lelang yang diadakan sudah selesai. Ini ditandai dengan makin banyaknya orang yang keluar dari dalam Rumah Lelang Ateoviel. Hal ini membuat mereka yang sudah berjaga, semakin meningkatkan kewaspadaan mereka.
Tidak lama kemudian, dua orang laki-laki keluar dari dalam Rumah Lelang Ateoviel. Salah seorang di antaranya memakai jubah warna biru dan satunya memakai baju zirah warna perak.
Melihat mereka keluar, John langsung bertindak. Dengan cepat ia berteleportasi sehingga sekarang dia berada di sebelah keduanya. Tidak hanya itu saja, dengan elemen ruang yang ia miliki, ia membuat sebuah barier yang menahan ruang gerak keduanya.
Kejadian itu begitu cepat. Kedua anggota organisasi Black Shadow itu tidak sempat melakukan apa pun. Mereka terperangkal dalam barier yang John buat.
Meski begitu Ron dan Han, dua orang anggota Black Shadow, tidak tinggal diam. Keduanya mulai mengeluarkan senjata masing-masing. Ron mengeluarkan sebuah pedang miliknya, sementara Han mengeluarkan sebuah tongkat.
Mereka lalu menggunakan energi jiwa yang mereka miliki untuk menggerakkan elemen yang nereka punya.
"Air blade." Teriak Ron keras sembari mengayunkan pedangnya ke arah barier milik John.
Pedang yang dipakai oleh Ron ini adalah pedang yang baru ia dapatkan dari lelang. Ron perlu mengeluarkan uang cukup banyak untuk bisa memiliki pedang di tinggkat platinum ini.
Sayangnya, meski pedang itu memiliki keuatan yang cukup besar, barier yang John buat tidak goyah sedikit pun. Sebuah retakan sekali pun tidak bisa Ron temukan.
Han, yang sedari tadi mengompres elemen miliknya, bersiap melakukan serangan sekarang. Di ujung tongkatnya kini sudah ada elemen air yang berkumpul menjadi satu. Dengan sedikit dorongan, Han melepaskan elemen yang terkumpul itu ke arah barier milik John.
Sayangnya itu tidak membuahkan hasil. Seperti serangan yang dilakukan oleh Ron sebelumnya, serangan dari Han ini juga tidak memberikan sedikit pun perubahan pada barier yang dibuat oleh John.
"Sial. Kita terjebak sekarang. Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka menyerang kita?" Tanya Ron dengan suara setengah berbisik kepada Han.
Tetapi bukan hanya Han saja yang mendengar ucapan Ron, John yang dekat dengannya juga bisa mendengar pertanyaan Ron itu.
__ADS_1
"Tentu saja musuh besarmu. Orang-orang dari Black Shadow seperti kalian seharusnya dimusnahkan. Berani sekali kalian mengincar calon murid akademiku." Jawab John.
Ucapan John tersebut membuat Ron dan Han melebarkan mata mereka. Keduanya tidak percaya drngan apa yang baru saja mereka dengar.
"K-kau ini John, Kepala Akademi Andradius?" Tanya Ron sembari menunjuk ke arah John.
John menyeringai lebar mendengar ucapan Ron tersebut. Apa yang John lakukan itu secara tidak lamgsung sudah menjawab pertanyaan Ron sebelumnya.
"Itu memang benar. Aku John Kepala Akademi Andradius pada periode ini. Sayangnya Kau tidak akan mendapatkan hadiah karena sudah bisa menebak dengan baik. Kematian sudah menanti kalian." Jawab John.
Medengar ucapan John, Ron dan Han berusaha keras keluar dari dalam barier yang mengurung mereka. Keduanya sudah tidak lagi menahan diri. Mereka menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk menghancurkan barier ini.
Namun tetap saja apa yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil. Itu seperti menyerang batu dengan menggunakan telur. Tidak akan ada perubahan yang terjadi.
Dalam hati keduanya menyesal sudah berbicara dengan santainya mengenai rencana mereka ketika berada di penginapan. Mereka yakin salah seorang penguhuni penginapan ada yang mendengar apa yang mereka diskusikan.
Mereka pasti melaporkan kejadian itu kepada pihak Akademi Andradius. Sialnya lagi bagi mereka, John ikut serta dalam membereskan mereka. Perbedaan kekuatan di antara mereka jelas membuat serangan mereka tidak mempan untuk John.
Tetapi, keduanya sedikit heran. Mereka sekarang sudah berada di tingkat platinum. Setidaknya, serangan yang mereka lakukan ini akan memberikan dampak pada barier yang John buat. Apalagi John hanya berada di tingkat Diamond saat ini.
Jelas mereka masih bisa melawan John. John tidak bisa menahan mereka semudah ini. Kecuali…
“Kau sudah naik…..”
John sudah terlebih dahulu bertindak. Ia tidak mau kedua orang ini banyak bicara lagi dan mengucapkan apa yang akan mereka ucapkan. Barier yang ia buat sekarang terlihat semakin kacau. Orang yang berada di luar barier tidak bisa melihat apa yang sedang ada di dalam sana.
Semakin lama barier tersebut semakin mengecil. Hingga pada akhirnya, barier tersebut menghilang. Tidak nampak keberadaan Ron maupun Han di sana. Yang tersisa hanyalah pakaian ydan senjata milik mereka yang terjatuh.
Jika tidak ada pakaian dan senjata itu, maka orang-orang yang ada di sana pasti mengira bahwa tidak ada dua orang laki-laki di tempat itu. Mereka yang menonton kejadian ini dibuat takjub dengan yang John lakukan.
Semua orang yang ada di sana setuju bahwa John adalah orang yang sangat kuat. Dalam sekejab dia sudah menghabisi dua orang sekaligus tanpa menimbulkan kegaduhan besar. Jika dia orang yang tidak terlalu kuat, jelas dia akan menimbulkan keributan besar dalam bertarung.
__ADS_1
Setelah menghabisi kedua orang anggota Black Shadow, menyimpan senjata dan kantong ruang yang mereka miliki. Ini akan ia berikan kepada Matthew. Bagaimanapun juga, Matthew berkontribusi besar dalam gagalnya rencana orang-orang dari Black Shadow. Jadi John akan memberikan ini sebgai hadiah.
John lalu berteleportasi meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, ia tidak lupa mengirimkan suara kepada Arthur, memintanya membereskan semua. John juga meminta Arthur menyelidiki semuanya, mungkin masih ada rekan dari dua orang tadi di sekitar sini. John meminta Athur membereskan semuanya.