
“Maaf mentor, sepertinya aku tidak bisa membaginya denganmu. Jika Kau ingin mengetahui rahasia ini, bukankah Kau harus menukarnya dengan sesuatu yang memiliki nilai sepadan? Aku rasa, Kau tidak memiliki sesuatu yang memiliki nilai sepadan dengan apa yang aku miliki ini.”
Ucapan Matthew ini membuat Frank terdiam. Ia kira Matthew akan dengan mudah memberikan rahasia dibalik peningkatan kekuatannya itu. Tetapi ternyata tidak. Matthew malah meminta barter dengannya.
“Aku memiliki banyak pengetahuan yang bisa aku tukarkan dengan informasi milikmu itu. Mungkin tidak terlalu sepadan. Tetapi, aku yakin jika aku memberimu banyak ilmu baru dan juga sumber daya lainnya, semua itu jika digabung bisa sepadan dengan pengetahuanmu itu,” jelas Frank.
“Tetapi Mentor, aku rasa ada sesuatu yang salah dari ucapanmu ini.”
Jasper, yang sedari tadi diam, kini ikut bicara. Apa yang Jasper katakan itu membuat Frank menatapnya sembari mengerutkan kening.
“Maksudmu? Ada yang salah dengan perkataanku? Memangnya apa yang salah.”
Frank sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan ucapannya. Bukankah Matthew meminta barter dengan sesuatu yang senilai? Maka dari itu, jika dirinya tidak memiliki satu barang yang sama nilainya, ia akan memberikan cukup banyak barang hingga nilainya sama.
Jika tidak bisa memberikan kualitas, maka Frank akan memberikan kuantitas. Ini adalah barter yang tidak merugikan menurut Frank. Lalu, kenapa Jasper seolah keberatan dengan barter ini?
“Iya sangat salah. Bukankah Kau sudah menerima Matt, aku, dan Ellie sebagai muridmu? Ilmu apa pun yang dimiliki oleh Mentor, sudah jelas akan diturunkan kepada murid. Jika demikian, bukankah Kau menipu Matt jika memberikan ilmu yang Kau miliki.”
“Lagi pula, Kau nantinya juga akan memberikan ilmu itu tanpa Matt minta. Apa yang dimiliki guru nantinya akan dimiliki murid. Tetapi, apa yang dimiliki murid, belum tentu dimiliki oleh guru.”
Ucapan Jasper ini membuat dua orang yang ada di sana tertegun. Matthew sendiri merasa bersyukur bahwa Jasper mengingatkannya akan hal ini. Hampir saja dirinya ceroboh dan membocorkan semua rahasianya.
Meski dirinya sudah membocorkan gambaran tekniknya ini, tetapi orang lain tidak akan bisa dengan mudah menirunya. Matthew yakin akan hal itu. Ini karena, mereka tidak dari awal mempelajari elemen dengan berteman dengan mereka.
Tetapi, jika Matthew menjelaskan secara rinci tahapan yang dilaluinya, maka orang lain akan mudah untuk meniru apa yang Matthew lakukan. Belakangan Matthew baru mengetahui bahwa teknik yang ia miliki ini cukup langka dan sangat berharga.
“Apakah Kau benar-benar tidak akan membagi rahasianya?”
Matthew menggeleng pelan.
__ADS_1
“Aku tidak akan membaginya. Mungkin jika nanti aku sudah cukup kuat, aku akan memikirkannya kembali. Untuk sekarang, aku tidak bisa melakukannya. Tetapi Mentor, bisakah Kau berjanji untuk tidak menyebar rahasiaku ini?” pinta Matthew.
“Baiklah aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun,” jawab Frank.
Frank bukanlah tipe orang yang memaksa. Begitu pula dengan para tetua yang lain. Dirinya berharap melakukan barter dengan Matthew agar bisa mengajarkan teknik itu kepada siswa lainnya. Sayangnya, Matthew menolak. Tentunya Frank tidak bisa memaksa.
Tetapi, ada rasa syukur dalam diri Frank ketika mendengar ucapan Matthew, bahwa Matthew akan membagi pengetahuannya itu, jika dirinya sudah cukup kuat. Frank berharap, Matthew menepati janjinya ini.
“Kalau begitu, bolehkah aku pergi sekarang Mentor?” tanya Matthew.
“Tentu saja. Ingat lusa aku dan mentor yang lain akan memulai latihanmu. Aku memberimu hari libur hari ini dan besok. Jadi, Kau harus datang ke tempatku untuk memulai latihanmu.”
“Baiklah, Mentor Frank. Aku akan mengingat hal itu dengan baik.”
…
“Oh Ellie, jika tidak salah, dia menemui Clarissa sekarang.”
“Kalau begitu kita temui saja Ellie. Sebenarnya aku ingin membagi teknik ini sekarang dengan kalian. Tetapi, karena Ellie tidak ada di sini, aku akan menundanya sebentar.”
Lima belas menit kemudian, Matthew dan Jasper sudah sampai di kantin akademi. Rupanya Ellie meminta Clarissa untuk menemaninya makan. Saat ini, hanya Clarissa saja yang masih memakai baju biasa dan tidak menggunakan seragam akademi. Sementara itu, Matthew dan adik-adiknya memakai seragam berupa jubah berwarna putih.
Sebenarnya, mereka sebagai murid dari tetua sekaligus calon penerus kepala akademi, memiliki jubah yang berbeda dari yang lain. Jubah mereka adalah berwarna hitam polos tanpa embel-embel lain. Lalu, sebuah pin yang akan tersemat di dada kiri kanan mereka untuk menunjukkan tingkat kekuatan.
Sayangnya Matthew menolak. Ia dan kedua adiknya masuk di Akademi Andradius sebagai murid dengan kekuatan terlemah. Jika mereka sampai diketahui publik sebagai murid para mentor, maka akan banyak yang menantang mereka bertarung. Itu akan sangat merugikan Matthew dan adik-adiknya.
“Kau sudah menyelesaikan latihan tertutupmu Matt?” tanya Clarissa setelah Matthew duduk di samping Ellie.
“Ya aku baru saja menyelesaikan latihan tertutupku.”
__ADS_1
“Bagaimana hasilnya?”
“Tidak terlalu buruk. Aku cukup puas dengan hasil latihan tertutupku. Bagaimana dengan persiapanmu untuk mengikuti tes masuk? Apakah Kau sudah mempersiapkan semuanya?”
“Tentu saja Matt. Aku sudah memenuhi semua kriteria untuk menjadi murid Akademi Andradius. Aku hanya tinggal menunggu hari seleksi tiba.”
Pandangan Matthew lalu menyisir setiap sudut kantin. Kali ini, kantin lebih ramai dari terakhir kali ia datang. Kebanyakan yang ada di sana adalah mereka yang memakai jubah warna biru. Beberapa orang yang memakai jubah warna merah juga terlihat di sana.
Matthew baru tahu bahwa pemilik jubah warna putih adalah mereka yang berada d tahun pertama, jubah berwarna biru untuk mereka di tahun kedua, jubah berwarna merah untuk mereka yang berada di tahun ketiga, dan jubah warna ungu untuk mereka yang berada di tahun keempat.
Lalu, jubah berwarna hijau merupakan seragam khusus bagi mereka yang diterima sebagai murid pribadi para mentor. Sedangkan para mentor sendiri memakai jubah berwarna abu-abu.
Untuk kepala akademi dan tetua, mereka memakai jubah berwarna hitam. Yang membedakan keduanya ada garis yang ada pada lengan jubah mereka. Kepala akademi memiliki garis berwarn perak sedangkan tetua memiliki garis berwarna emas.
“Sepertinya senior-senior yang ada di sini sudah banyak yang kembali ke akademi,” ucap Matthew.
“Ya, Kau benar Matt. Aku sekarang selalu diperhatikan oleh mereka. Itu karena hanya aku yang tidak memakai seragam, sedangkan Ellie, dia sudah berseragam. Aku tidak tahu siapa kenalan kalian sehingga kalian bisa masuk lebih awal. Tetapi, kalian juga menjadi perbincangan mereka.”
“Ternyata kami sudah menimbulkan gosip meski pun belum lama di akademi rupanya.”
Itu cukup berbahaya menurut Matthew. Ia tidak ingin menjadi sorotan. Jika sampai dirinya menjadi sorotan, maka hari-harinya di akademi tidak akan tenang. Padahal, Matthew berharap menjalankan kehidupan di akademi dengan cukup tenang.
“Tetapi Kau tenang saja Matt. Mereka sekarang tidak akan berfokus padamu. Saat ini ada berita yang cukup menggemparkan di akademi. Jadi, perhatian mereka sudah teralihkan kepada kasus ini,” jelas Clarissa.
“Berita apa memangnya?” tanya Matthew penasaran.
“Mengenai Keluarga Johanson. Aku dengar dalam waktu dekat ini mereka akan diadili. Bukti-bukti penyalah gunaan wewenang yang dilakukan oleh Mentor Louis Johanson sudah cukup banyak. Sebentar lagi para petinggi akademi akan memberikan hukuman padanya,” jelas Clarisa.
Matthew hanya mengangguk pelan. Ia tidak heran dengan hal itu. Apa yang Keluarga Johanson lakukan jelas memantik kemarahan para petinggi akademi. Membuat murid mereka menjadi budak? Itu adalah kejahatan
__ADS_1