Master Of Elements

Master Of Elements
ME 64 Dua Gadis Dengan Mulut Bau


__ADS_3

“Bagus. Sekarang ayo kita ke meja pendaftaran. Kita perlu mendaftarkan namamu terlebih dahulu.”


Mereka berempat kemudian berjalan menuju ke meja pendaftaran. Mungkin karena ini sudah cukup siang, tidak ada atrian di meja pendaftaran. Clarissa langsung mengisi data dirinya dalam pada meja pendaftaran.


Setelah itu, Matthew membayarkan biaya pendaftaran untuk Clarissa. Mereka kemudian diberikan sebuah token betuliskan nomer urut pendaftaran dari Clarissa.


“Kau tinggal menunggu nomer pesertamu di panggil. Setelah itu kau bisa mengikuti tes.” Ucap seorang gadis yang duduk di balik meja pendaftaran. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Matthew dan kedua adiknya yang ada di samping Clarissa.


“Apa kalian juga ingin mendaftar?” tanyanya.


Jasper menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak berniat mendaftar. Meskipun kami mendaftar, belum tentu kami bisa lolos seleksi. Daripada membuang-buang uang untuk membayar biaya pendaftaran, lebih baik kami pergunakan uang itu untuk makan.”


Lima koin emas adalah uang yang cukup besar menurut Jasper. Itu bisa ia belikan berbagai macam makanan. Roti isi saja dijual dengan harga lima puluh koin perunggu. Jadi dengan lima koin emas Jasper bisa membeli seribu porsi roti isi. Bukankah itu hal yang banyak?


Jika dipikir-pikir, berarti siapa pun yang bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi adalah anak dari keluarga yang kaya. Sudah jelas bukan siapa pun, yang bisa mengumpulkan uang sebanyak lima koin emas, agar anaknya bisa mengikuti seleksi pasti memiliki uang lebih dari itu.


Uang sebanyak itu bisa menghidupi sebuah keluarga beranggotakan empat orang selama setahun. Sudah jelas anak dari keluarga sederhana tidak mampu memberikan anaknya uang sebanyak itu, untuk mengikuti sebuah seleksi.


Ini adalah seleksi lain dalam memasuki Akademi Andradius. Kau harus berasal dari keluarga kaya yang bisa mendukungmu secara finansial untuk menjadi seorang profesional.


Jasper merasa beruntung dirinya terlahir dalam keluarga yang berada. Ia tidak perlu memikirkan uang untuk makan. Bahkan ketika dirinya dan kedua saudaranya berada jauh dari kedua orang tua mereka, Albert dan Elisa masih memeberikan uang saku sebanyak itu.


Jasper dengar dari Matthew bahwa setidaknya ada dua hingga tiga ribu koin emas di kantong ruang yang diberikan oleh ibu mereka. Itu belum termasuk uang silver dan perunggu, juga kristal elemen yang nilainya jauh di atas koin emas. Bisa dilihat bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang kaya.

__ADS_1


*****


Setelah mendaftarkan Clarissa, mereka berempat kembali menuju area tunggu. Mereka memilih berdiri di bawah pohon yang tidak jauh dari tenda di mana seleksi diadakan.


Sembari menunggu nomor milik Clarissa dipanggil, Matthew mulai mencerca gadis itu dengan berbagai pertanyaan. Kebanyakan yang ditanyakan oleh Matthew adalah tentang cerita rombongan karavan pedagang yang Clarissa ikuti yang diserang oleh bandit. Matthew ingin membandingkan pengalaman Clarissa tersebut dengan miliknya.


Ketika mereka tengah asik mendengarkan suara kalem Clarissa yang tengah bercerita, dua orang gadis menghampiri mereka. Dari ekspresi wajah mereka, terlihat sekali mereka datang dengan maksud yang kurang baik. Matthew menduga kedua gadis tersebut adalah kenalan Clarissa.


“Lihatlah ini Scarlett, si kumal sudah menemukan temannya yang sama-sama kumalnya. Hahaha.” Ucap seorang gadis ketika mereka sudah dekat.


“Kau benar Abigail, si kumal ini sudah menemukan temannya. Mungkin dia membagi kesedihannya dengan mereka. Kau tahu sendiri bukan bahwa si kumal ini tidak mampu membayar biaya pendaftaran. Aku tebak dia berhasil menemukan anak yang bernasib sama dengannya, tidak mampu membayar biaya pendaftaran seleksi. Hahaha.”


“Hey kumal, kami bisa membantu membayarkan biaya pendaftaranmu, asalkan Kau mau berlutut dan memohon kepadaku dan Scarlett. Jika kau melakukannya dengan tulus, mungkin kami akan berbaik hati meminjamimu uang.”


Matthew kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Clarissa. Ia ingin melihat respon gadis itu. Meski dirinya bisa membela Clarissa, tetapi dia tidak langsung melakukannya.


Matthew ingin Clarissa sendiri yang membela dirinya. Setidaknya Clarissa harus bisa berdiri sendiri dalam menghadapi perundungan seperti ini.


Clarissa tidak bisa selamanya berharap ada orang lain yang membantunya bukan? Jadi Matthew ingin Clarissa membela dirinya sendiri. Jika nanti sudah keterlaluan, sudah pasti Matthew akan ikut membantu. Namun untuk saat ini dirinya hanya perlu mengamati perkembangan kasus ini.


‘Kalian diam saja dulu Jas, El. Kita lihat apa yang di inginkan dua gadis ini.’ ucap Matthew kepada kedua adiknya.


‘Mulut mereka bau sekali Matthew. Apa kau yakin tidak ingin kedua gadis itu menutup mulutnya. Ketika mereka berbicara bau mulutnya tercium olehku. Apakah mereka tidak mebersihkan mulutnya pagi ini?’ protes Jasper.

__ADS_1


Jasper terlihat mengernyitkan hidungnya. Ia memang berdiri cukup dekat dengan kedua gadis itu. Sekarang ini Jasper terlihat mundur selangkah, mencoba memperpanjang jarak antara dirinya dan dua gadis itu.


Matthew tidak menyangka adiknya akan memberikan respon seperti itu tentang kedua gadis ini. Ia yakin Jasper berbicara jujur kali ini. Hal itu berarti kedua gadis ini memiliki mulut yang cukup bau. Matthew hampir tertawa ketika mengetahui hal itu. Ia terlihat tengah menahan tawanya.


“Hey Kau! Kenapa Kau tertawa?” Tanya Abigail sembari menunjuk ke arah Matthew.


“Apa kau setuju denganku jika si kumal ini,” ia menunjuk ke arah Clarissa yang kini terlihat sedikit gusar, dengan terus *******-***** jubahnya, “harus berlutut padaku agar bisa mendapatkan pinjaman uang dariku?”


Sebelum Matthew memberi respon, Jasper terlebih dahulu membuka mulutnya. Anak itu berbicara sembari menutup hidungnya. Ia juga terlihat mundur dua langkah dari tempatnya berdiri sebelumnya.


“Apakah kalian tidak membersihkan mulut kalian pagi ini? Mulut kalian sangat bau. Aku bahkan tidak tahan dengan bau mulut kalian. Kalian tahu, bau mulut kalian lebih buruk dari bau kotoran Cosen Cow milikku. Jadi lebih baik kalian diam dan jangan membuka mulut kalian.” Cerca Jasper.


Kedua gadis itu menatap tidak percaya kepada Jasper. “Kau, Kau….” Abigail berbicara sembari menujuk ke arah Jasper.


“Nona, sudah aku bilang mulutmu bau. Lebih baik bersihkan mulutmu terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang lain.”


Jasper masih menutup hidungnya. Anak itu mengernyitkan dahinya memandangi kedua gadis dengan bau mulut di depannya. Apakah tidak ada yang menegur mereka tentang bau mulut yang mereka miliki? Bagaimana bisa dua gadis, yang Jasper akui cukup cantik itu, berjalan-jalan dan bertemu dengan orang lain dengan bau mulut seperti itu.


Kemarahan Abigail dan Scarlett memuncak. Semua itu terlihat dengan jelas di wajah mereka yang memerah. Kedua gadis itu juga terlihat mengepalkan kedua tangannya. Mungkin jika ini bukan tempat terbuka, keduanya pasti akan menyerang Jasper yang sudah mengatakan sesuatu yang tidak ingin mereka dengar itu.


“Akan aku ingat baik-baik wajah kalian. Aku harap kalian tidak akan masuk menjadi murid Akademi Andradius. Terutama Kau!” Ia lalu menunjuk ke arah Jasper.


“Akan aku buat hari-harimu di Akademi seperti di neraka. Akan aku buat Kau menyesal mengtakan hal itu kepada kami. Ayo Abigail, kita pergi dari sini.” ajak Scarlett kepada temannya.

__ADS_1


Scarlett menarik tangan Abigail dan membawa gadis itu pergi dari sana. Keduanya berjalan dengan terus menghentak-hentakkan kakinya. Terlihat jelas bahwa emosi kedua gadis itu belum juga reda.


__ADS_2