Master Of Elements

Master Of Elements
ME 40 Kota Suiria


__ADS_3

Lima hari kemudian….


“Selamat Datang di Kota Suiria” begitulah tulisan yang Matthew baca dari kejauhan.


Jika dibandingkan dengan pemberhentian sebelumnya, Kota Suiria memang bisa dibilang kota besar. Selama ini mereka hanya melakukan pemberhentian di desa-desa kecil sepanjang rute perjalanan. Matthew sama sekali tidak menemukan kota selama perjalanan.


Jika sebelum-sebelumnya setelah sampai di tempat tujuan Karavan Gold Mine akan langsung memasuki desa tersebut. Maka kali ini tidak. Kali ini mereka menurunkan para penumpang yang ikut bergabung dalam karavan seratus meter dari gerbang kota.


Matthew ingat bahwa mereka perlu membayar tarif masuk ke dalam kota. Mungkin karena inilah para penumpang tersebut diturunkan di sini. Karavan Gold Mine tidak bertanggung jawab atas tarif yang perlu mereka bayar untuk bisa memasuki Kota Suiria.


“Kakek John apa kita perlu turun juga di sini?” tanya Ellie ketika melihat beberapa penumpang turun.


“Kita turun juga. Bagaimanapun juga kita perlu sedikit menggerakkan otot-otot kita.” Ucap  John sembari membuka pintu kereta.


Melihat John membuka pintu keretanya, seorang pengawal dari Karavan Gold Mine bergegas menghampiri John.


“Tuan kenapa Kau turun? Kau tidak perlu turun dari kereta. Bos Simon yang akan mengurus tarif masuk ke kota. Jadi Kau tidak perlu turun dari kereta. Kau cukup duduk saja di dalam. Sebentar lagi kereta akan segera memasuki kota.” Ucap pengawal tersebut.


Keringat dingin mengalir di punggung pengawal tersebut. Jika sampai bosnya mengetahui bahwa John turun dari kereta sebelum mereka memasuki kota, dan dia tidak melarangnya, bisa-bisa ia akan dihajar.


Bosnya sudah mengatakan betapa pentingnya John. Ia juga melihat sendiri kemampuan John dalam bertarungan beberapa hari lalu.


Untuk itu mereka harus memberikan pelayanan yang maksimal sebagai bentuk rasa terimakasih kepada John. Ia tidak bisa membiarkan John turun dan lebih memilih berjalan memasuki kota daripada menaiki kereta mereka. Setidaknya ia harus berusaha sekeras mungkin melarang John turun dari kereta.


“Aku masih ada urusan lain. Jadi aku tidak akan ikut dengan kalian setelah ini.”


John lalu mengeluarkan kantong kecil. Dari suara kemericik yang terdengar dari kantong tersebut, bisa dipastikan bahwa kantong tersebut berisi uang. John lalu melempar kantong kecil itu kepada pengawal tersebut. Dengan reflek pengawal tersebut menangkap kantong yang dilemparkan oleh John.


“Berikan itu kepada Bosmu. Itu adalah apa yang perlu kami bayarkan selama perjalanan ini. Bilang padanya, aku tidak akan ikut rombongan kalian untuk pergi ke kota Greenwood. Aku masih memiliki urusan lain.”


Tanpa menunggu respon dari pengawal tersebut, John berjalan pergi meninggalkan kereta. Matthew dam kedua adiknya bergegas mengikuti John yang terlihat sedikit terburu-buru. Mereka lalu membaur di antara kerumunan orang yang berjalan menuju Kota Suiria.


Selain Karavan Gold Mine, terlihat beberapa karavan lain yang juga tengah menurunkan penumpang mereka. Jadi rombongan kecil tiga orang tersebut sangat mudah membaur di antara kerumunan orang tersebut.

__ADS_1



“Kakek John, kenapa kita tidak jadi melanjutkan perjalanan bersama dengan Karavan Gold Mine?” Tanya Matthew penasaran.


Bukankah semuanya baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba John mengubah rencana mereka?


“Ada perubahan rencana. Lebih baik untuk saat ini kalian diam dan jangan terlalu banyak bicara. Aku akan membawa kalian ke suatu tempat.” Ucap John dengan cukup serius.


‘Matthew apa Kau tau kenapa rencananya berubah?’ tanya Jasper melalui telepati.


‘Aku juga tidak tahu Jas. Kita turuti saja ucapan Kakek John. Mungkin Kakek John akan menjelaskan semua ini kepada kita nantinya.’ Jawab Matthew.


Mendengar ucapan John barusan,  tiga anak tersebut mengikuti perintah John. Mereka mengikuti John dalam diam. Ketika mereka mendekati gerbang, mereka dengan tertib mengikuti antrian yang ada. Setelah membayar tarif, John mengajak kedua anak tersebut memasuki kota.


Suasana di dalam kota bisa dibilang cukup ramai. Baru memasuki kota saja rombongan kecil empat orang itu sudah disuguhkan dengan pemandangan kerumunan orang. Dari apa yang Matthew dengar, kebanyakan orang-orang yang berkumpul itu adalah orang yang akan pergi ke kota lain dengan mengikuti karavan pedagang.


Ini lebih terlihat seperti terminal di kehidupan Matthew sebelumnya. Matthew mendengar beberapa orang berteriak menawarkan jasa mereka. Sepertinya memang seperti ini lazimnya yang terjadi di dunia ini ketika seseorang akan bepergian ke luar kota.


Matthew memahami bahaya yang mungkin dihadapi jika melakukan perjalanan antar kota. Cara paling aman memang bergabung dengan karavan pedagang. Bukankah Matthew sudah melihat sendiri salah satu bahaya tersebut?


John membawa kedua bersaudara itu melewati gang-gang kecil yang tidak jauh dari kerumunan orang. Meskipun ada jalan yang cukup besar dan layak untuk dilewati, John lebih memilih mengajak Matthew dan kedua melewati gang kecil yang  penuh dengan kotak-kotak barang dan beberapa sampah yang berserakan itu.


Setelah setengah jam menyusuri gang-gang sempit itu, John membawa Matthew dan kedua adiknya kesebuah toko kecil yang terlihat kumuh itu. “Rumah Gadai Pak Tua Tom”. Begitulah tulisan yang tertera di papan yang ada di atas toko tersebut. Suasana di dalam rumah gadai tersebut terlihat cukup berantakan.


Beberapa barang terlihat tidak tertata rapi di rak yang ada di rumah gadai tersebut. Tidak hanya berantakan, Matthew bahkan melihat debu tebal menyelimuti benda-benda tersebut. Tempat ini benar-benar tidak terawat menurut Matthew.


Di meja kasir Matthew melihat laki-laki paruh baya tengah tertidur dengan kepalanya tergeletak di atas meja. Di sekitar meja tersebut Matthew melihat beberapa botol kosong dan kulit kacang yang berserakan.


Semua itu memperlihatkan bahwa tempat ini benar-benar tempat yang tidak layak untuk melayani tamu. Matthew tidak habis pikir kenapa pemilik rumah gadai ini tidak mau merawat tempatnya. Padahal, tempat yang bagus dan nyaman bisa membuat banyaknya pengunjung datang ke tempat mereka.


John pun menghampiri laki-laki yang tertidur di meja kasir tersebut. Ia kemudian mengetuk meja kasir tersebut. Matthew kira John mengetuk meja tersebut untuk membangunkan laki-laki yang tengah tertidur itu. Namun ternyata Matthew salah. Ada irama dari ketukan yang dilakukan oleh John. Seperti sebuah kode rahasia.


Tok, tok.

__ADS_1


Tok.


Tok, tok, tok.


Tok, tok.


Tok.


Begitulah irama dari ketukan yang John lakukan. Tidak lama setelah John mengetuk meja tersebut, laki-laki yang tertidur di sana bangun.  Ia langsung menyapukan pandangannya ke rombongan mereka sebelum akhirnya menatap ke arah John.


“Ada yang bisa aku bantu?” Tanya laki-laki itu dengan sedikit malas.


“Aku ingin membeli arak milik Pak Tua Tom. Aku dengar dia adalah seroang pembuat arak yang sangat terkenal di Kota Suiria.” Jawab John pelan.


“Kau mau membeli arak? Harganya tidak akan murah.” Ucap laki-laki itu masih dengan nada malas.


“Aku tau, harganya pasti tidak akan murah. Jika arak buatan Pak Tua Tom benar-benar enak, maka aku mau membayar berapapun untuk arak tersebut. Jadi apakah aku bisa mencicipi arak tersebut?”


“Kau harus membayar dua koin emas terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mengijinkanmu masuk.”


Tanpa menunggu lagi, John mengeluarkan dua koin emas dan melemparkannya ke meja.


“Baiklah Kau bisa masuk.” Laki-laki tersebut berdiri dan membuka pintu yang tidak jauh dari meja kasir. “Kalian hanya perlu berjalanan di lorong ini. Pak Tua Tom berada di pintu nomer sembilan. Jangan lupa mengetuk pintu sebelum masuk.”


Lorong yang dimaksud oleh laki-laki tersebut terlihat sangat gelap. Matthew dan kedua adiknya sangat kesulitan melihat apa yang ada dibalik kegelapan tersebut.


Tanpa banyak bicara lagi, John memasuki pintu tersebut dengan dikuti oleh Matthew dan kedua adiknya, yang terlihat sedikit enggan. Tempat itu terlalu mencurigakan menurut Matthew. Tetapi karena ada John bersama mereka, mau tidak mau ketiganya ikut memasuki lorong tersebut.


Beberapa saat setelah ketiganya memasuki lorong tersebut, pintu dibelakang mereka dibanting cukup keras.


Bam.


Mendengar hal tersebut, Matthew dan kedua adiknya terlonjak kaget. Mereka berada dekat sekali dengan pintu. Jadi hal tersebut cukup mengagetkan bagi keduanya.

__ADS_1


Tidak lama setelah pintu tertutup, lorong yang awalnya gelap tersebut berubah menjadi terang. Satu persatu lampu yang menempel ditembok menyala. Meskipun sudah ada penerangan, tetapi suasana di sana masih temaram.


John kembali melanjutkan langkahnya dalam diam. Sepertinya laki-laki itu masih belum berniat menjelaskan kenapa mereka merubah rencana yang sudah John katakan sebelumnya. Kenapa juga John membawa mereka ke tempat yang seperti ini.


__ADS_2