Master Of Elements

Master Of Elements
ME 66 Keluarga Johanson


__ADS_3

Bagian lain dari lapangan yang ada di depan istana kini terlihat ramai dipadati oleh orang-orang yang lalu lalang di sana. Mereka bukanlah orang-orang yang mengantarkan anak mereka untuk mengikuti seleksi dari Akademi Andradius. Seleksi itu sudah selesai kemarin sore.


Mereka yang ada di sini adalah mereka yang akan melakukan perjalanan jauh melalui portal teleportasi. Beberapa pedagang yang membawa beberapa pengawal ikut mengantri untuk bisa memakai portal.


Tidak hanya para pedagang, banyak anak remaja yang juga ikut bergabung di sana. Mereka adalah yang lolos dalam seleksi dan sekarang berniat pergi ke kota Archdale, kota di mana Akademi Andradius berada.


Untuk menuju ke sana, mereka perlu melakukan tiga kali teleportasi. Ini karena jarak antara Kota Greenwood dan Kota Archdale cukuplah jauh. Di benua Andradius belum ditemukan rune teleportasi yang bisa membawa orang berteleportasi jarak jauh.


Jadi mereka hanya bisa merepotkan diri dengan melakukan teleportasi beberapa kali untuk sampai di Kota Archdale. Meski merepotkan, setidaknya dengan menggunakan teleportasi mereka bisa menghemat waktu jika dibandingkan ke sana dengan cara konvensional.


John, Matthew, dan yang lainnya juga termasuk ke dalam rombongan orang yang sedang mengantri itu. Kali ini John kembali merubah wajahnya. Jadi, meski dirinya ada di muka umum seperti ini, tidak ada yang memperhatikannya.


Sebelumnya, John dipandangi oleh cukup banyak orang ketika seleksi berlangsung. Hal itu cukup risih menurut John. Itulah yang menjadi alasannya merubah wajahnya.


Ketika mereka menunggu giliran untuk berteleportasi, ada tiga orang yang sekarang terlihat mendatangi mereka. Dua di antara ketiganya adalah perempuan. Sementara yang satunya adalah seorang laki-laki paruh baya.


Mereka memberikan tatapan tidak suka kepada Matthew dan rombongannya. Sejak melihat mereka mendekat, Matthew sudah tahu bahwa masalah baru telah mendatanginya.


Kita memang bisa menghidar dari masalah dengan tidak memulai membuat masalah. Tetapi, itu bukan berarti tidak ada orang lain yang akan memberikan masalah untuk mereka. Seperti sekarang ini.


"Paman Gerald, itu dia anaknya. Dia yang waktu itu mengatakan Keluarga kita, Keluarga Johanson, memliki mulut sampah. Dia orangnya Paman." ucap Abigail sembari menunjuk ke arah Jasper.


"Jadi kalian orangnya yang sudah menghina keluargaku?" Tanya Gerald sembari menatap tajam ke arah Jasper.


"Memangnya kenapa? Aku sama sekali tidak membuat kesalahan apa pun. Aku hanya mengungkapkan fakta. Mulut mereka memang sangat bau, seperti orang yang tidak pernah membersihkan mulut." Jawab Jasper.

__ADS_1


Sekarang, Jasper sama sekali tidak terlihat ketakutan ketika berhadapan dengan laki-laki paruh baya itu. Apa yang Jasper lakukan saat ini, justru terliahat selerti menantangnya untuk berkelahi.


Jasper berani melakukan hal ini karena John ada bersama dengan mereka. Jika tidak, Jasper jelas tidak ada berani berkata demikian. Jika laki-laki yang datang bersama dua gadis berbau mulut itu akan melakukan sesuatu, pasti John tidak akan membiarkannya.


"Berani sekali Kau berkata seperti itu. Sekarang minta maaflah dan sujud pada kami karena Kau sudah berani berkata demikian." Ucapa Gerald.


"Ah itu tidak cukup. Kau juga harus bersumpah dengan mempertaruhkan elemen milikmu bahwa Kau akan tunduk dan patuh kepada keluarga Johanson." Imbuhnya.


Matthew yang mendengar hal itu sedikit mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan ucapan terakhir dari laki-laki bernama Gerald ini. Ia meminta Jasper bersumpah dengan mempertaruhkan elemen miliknya?


Itu hal baru yang Matthew dengar. Apakah seseorang yang berkata demikian akan menjadi setia? Lalu jika dia berhianat, maka seluruh elemen yang dia miliki akan hilang?


Matthew tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Yang jelas ia akan menanyakan hal ini kepada John setelah semua masalah di depannya ini selesai.


"Jika memang kalian tersinggung dengan apa yang aku ucapkan, aku bisa meminta maaf kepada kalian. Tetapi bersujud dan bersumpah? Jangan harap aku akan melakukannya." Jawab Matthew.


"Memangnya siapa kalian? Kami tidak pernah mendengar siapa dirimu. Aku rasa keluarganu itu tidak seterkenal itu. Masih lebih terkenal lagi keluarga orang tuaku." Potong Ellie.


Ellie nampaknya mulai kesal dengan apa yang dilakukan oleh tiga orang dari keluarga Johanson ini. Mereka seolah-olah bertindak lebih tinggi dari semua orang yang ada.


Tiga orang ini bersikap seolah keluarga mereka yang peling tinggi dan terhebat. Padahal seperti ucapan Ellie sebelumnya keluarga Albert dan Elisa-lah yang lebih hebat.


Keluarga seorang panglima perang terkenal dan keluarga sebuah kerajaan. Keluarga Johanson yang hanya memiliki kedudukan sebagai bangsawan dan memiliki salah satu anggota keluarganya sebagai mentor, bukan apa-apa dibanding keluarga orang tuanya.


"Cih." Scarlett berdecih mendengar ucapan Ellie tersebut. Ia melangkah mendekat ke arah Ellie.

__ADS_1


"Orang desa sepertimu tahu apa? Aku yakin kedua orang tuamu itu hanyalah orang terkenal di desamu saja. Sementara keluarga Johanson, keluargaku ini terkenal di seluruh penjuru kerajaan Starwood. Bahkan beberapa tempat di kerajaan tetangga pun tahu keluarga kami." Ucapnya.


Setelah Scarlett berbicara, Ellie langsung mundur dan bersembunyi di punggung Matthew. Tiga orang dari keluarga Johanson mengira Ellie takut berhadapan dengan mereka. Namun pada kenyataannya tidak demikian.


"Mulutmu benar-benar bau. Aku kira Jas hanya memperbesar sesuatu yang tidak sebenarnya terjadi. Tetapi dia benar, mulut kalian lebih bau daripada kotoran Cosen Cow." Ucap Ellie sembari mengibas-kibaskan tangannya di depan hidung, mencoba menghilangkan bau yang i cium.


"Kalian benar-benar keterlaluan. Berani sekali kalian menyamakan baubmulut kami dengan kotoran binatang. Tidak bisa dimaafkan." Ucap Gerald geram.


Matthew sekarang merasakan fluktuasi elemen di sekitarnya. Tidak hanya itu ia juga bisa melihat pergerakan elemen api di sekitar Gerald. Sepertinya laki-laki itu berniat menyerang mereka.


Matthew langsung menarik Jasper dan Clarissa mendekat ke arahnya. Meski John ada bersama dengan mereka, lebih baik berada cukup berdekatan agar John mudah dalam melindungi mereka.


Ketika Gerald bersiap melakukan penyerangan, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang datang menghampiri mereka. Hal itu membuat Gerald menghentikan apa yang ia lakukan.


"Ada apa ini ribut-ribut di sini?" Tanya Arthur yang datang mendekat.


Jika bukan Arthur yang datang, sudah pasti Gerald tidak akan menghentikan apa yang ia lakukan. Sayangnya ini adalah Arthur, salah satu mentor yang ada di Akademi Andradius.


Kedudukan Arthur dengan anggota keluarga Johanson yang menjadi mentor juga adalah sama. Sayangnya mentor itu tidak ada di sini sekarang. Jadi, Gerald tidak bisa berbuat banyak dan bersikap sombong di depan Arthur.


"Ah Tuan Arthur, di sini tidak ada apa-apa. Kami hanya saling mengobrol." Jawab Gerald sembari menunjukkan senyum lebarnya.


"Hanya mengobrol? Kau kira aku tidak tahu Kau berniat menyerang seseorang. Jangan hanya karena Louis, anggota keluargamu itu menjadi mentir di Akademi Andradius, Kau bisa bersikap semena-mena."


"Ingat, Louis masih bisa kapan pun juga diberhentikan dari jabatannya. Jadi jangan bersikap sesombong itu dengan mengandalkan Louis untuk menindas orang lain. Kau malah memperburuk citra Akademi Andradius." Jelas Arthur.

__ADS_1


Ada alasan Arthur mengatakan demikian. Ia ingin John tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini, John selalu bepergian. Jadi, dia tidak begitu mengurusi Akademi Andradius secara baik.


Jika kembali ke Akademi, John hanya akan membaca laporan-laporan penting yang ada. Banyak hal yang sebenarnya membutuhkan perhatian John tetapi laki-laki itu sudah pergi begitu saja setelah mengurus berkas-berkas yang ada di ruangannya.


__ADS_2