
Seolah menjawab pertanyaan Matthew, Elisa menjelaskan kantong yang ia berikan kepada anak sulungnya.
“Itu adalah sebuah kantong ruang. Di dalamnya terdapat ruang seluas satu meter kubik. Tidak cukup besar namun cukup untuk menyimpan beberapa hal berharga. Di dalamnya sudah ada beberapa uang untuk kalian selama kalian berpisah dari kami.”
“Kantong ruang? Jadi kami bisa menyimpan apapun di sini?” tanya Matthew dengan sedikit bersemangat. Kesedihannya seolah-olah hilang begitu saja ketika mengetahui bahwa fungsi dari kantong di tangannya ini sama seperti dugaannya.
“Ya. Kalian bisa menyimpan apapun di situ. Namun karena ruang di kantong tersebut tidak terlalu luas, Ibu sarankan kalian hanya menyimpan sesuatu yang berharga saja di sana. Kantong ruang itu bisa juga kalian gunakan untuk menyimpan makanan. Makanan yang disimpan disana tidak akan basi karena waktu akan terhenti di dalam kantong tersebut.” Jelas Elisa.
“Lalu bagaimana kami memakainya Ibu?” tanya Jasper yang juga tidak kalah senangnya.
Dengan kantong ini ia bisa menyimpan makanan dalam jumlah banyak. Bukankah Ibunya tadi bilang bahwa di dalam kantong tersebut terdapat ruang penyimpanan seluas satu meter kubik? Bukankah itu akan sangat efisien untuk menyimpan makanan.
Jasper pikir dia bisa membawa beberapa gallon susu Cosen Cow. Ia juga bisa menyimpan roti kesukaannya yang biasa Ibunya buatkan. Mungkin ia bisa menyimpan ratusan roti untuk stok selama dua minggu.
Bukankah itu hebat. Ia tidak perlu membawa roti sebanyak itu dengan kedua tangannya. Ia cukup memasukkannya ke dalam kantong ruang dan mudah membawanya kemana-mana. Jika lapar ia juga bisa dengan mudah mengambilnya dari kantong ruang. Ini sangat hebat bukan?
Tidak jauh berbeda dengan Jasper, Ellie juga memiliki pemikiran yang sama. Ia tengah memikirkan makanan apa yang akan ia bawa sebagai bekal dalam perjalanan ini. Bahkan air liur Ellie pun menetes dari sudut bibirnya.
Seolah membaca pikiran Jasper dan Ellie, Elisa menghancurkan harapan kedua anaknya itu. “Aku hanya memiliki satu kantong ruang Jasper, Ellie. Dan aku hanya memberikannya kepada Matthew. Jika Kau yang memegang, aku yakin Kau hanya akan mengisinya dengan makanan.”
“Ini tidak adil ibu.” Protes Jasper.
__ADS_1
“Iya benar. Kami kan juga anak Ibu, kenapa kami tidak diberi kantong ruang juga? Kenapa hanya Matthew?” Imbuh Ellie.
Bukannya mereka iri dengan Matthew, hanya saja mereka juga ingin memiliki kantong ruang itu untuk menyimpan perbekalan yang mereka miliki.
“Jika kalian berdua mengingkan kantong seperti ini kalian bisa memilikinya dengan kemampuan kalian sendiri. Seorang yang memiliki elemen ruang bisa membuat ruang sendiri untuk menyimpan barang mereka. Jika kalian membuatnya sendiri, kalian bisa mendaptkan ruang yang lebih besar dari apa yang aku berikan kepada Matthew.”
“Benarkah? Aku tidak sabar untuk pergi ke akademi. Di sana pasti aku akan menemukan ilmu mengenai kemampuan itu.” Ucap Ellie dengan penuh semangat.
Elisa menggelengkan kepalanya. Sepertinya hanya dia yang bersedih dengan perpisahan keluarga mereka. Lihat saja ketiga anaknya langsung berubah senang setelah dirinya mengeluarkan kantong ruang. Mereka seolah membuang kesedihan yang tadi mereka tunjukkan begitu saja.
Ayah mereka juga sama saja. Albert tidak terlalu bersedih dengan perpisahan mereka. Bahkan dua hari yang lalu dia membangga-banggakan kedua anaknya yang bisa jadi adalah murid termuda di akademi. Meskipun kedua anak mereka belum tentu diterima sebagai murid akademi. Tetapi Albert sudah mebicarakan betapa hebatnya anak mereka di depan Elisa.
“Jadi bagaimana cara menggunakannya Ibu?” Kini Matthew yang bertanya. Ia juga tidak sabar ingin mengetahui bagaimana caranya untuk menggunakan kantong ruang ini.
Elisa lalu menarik sebelah tangan Matthew dan menusuk telunjuknya dengan sebuah jarum yang entah dari mana asalnya. Elisa kemudian menempelkan telunjuk Matthew yang berdarah itu ke kantong ruang yang ada di tangan Matthew yang lain. Setelah itu Elisa menyembuhkan telunjuk Matthew yang berdarah.
Setelah darahnya menempel ke kantong ruang tersebut, Matthew bisa melihat kantong tersebut menyerap darahnya. Tidak ada bekas darah di sana. Tidak lama kemudian, Matthew merasakan seseuatu yang aneh. Ia seperti terhubung dengan sesuatu. Seperti ketika dirinya berkomunikasi dengan kedua adiknya melalui telepati.
Namun ini tidak sekuat hubungan yang terjalin antara dirinya dan kedua adiknya. Matthew yakin dirinya kini sudah terhubung dengan kantong ruang yang ada di tangannya. Anak laki-lakiitu merasa ini adalah hal menakjubkan lain yang pernah ia alami setelah bereinkarnasi ke dunia ini.
“Sekarang aku yakin Kau merasakan dirimu terhubung dengan seseuatu. Cobalah Kau pusatkan pikiranmu ke kantong ruang milikmu.” Jelas Elisa.
__ADS_1
Matthew kemudian mengikuti instruksi Elisa. Ia memusatkan pikirannya ke hubungan yang baru saja terbentuk dengannya, hubungannya dengan kantong ruang. Ini sangat mudah bagi Matthew. Mungkin karena dirinya sering berkomunikasi dengan Jasper dan Ellie melalui telepati sehingga membuatnya mudah melakukan hal ini.
Benar saja tidak lama kemudian pikiran Matthew seolah masuk ke dalam sebuah ruangan kecil dengan luas satu meter kubik. Di dalam ruang tersebut terdapat berbagai benda. Matthew melihat beberapa tumpukan koin dengan berbagai warna. Perunggu, silver dan emas. Mungkin ini adalah mata uang di dunia ini.
Koin-koin tersebut menempati seperempat dari ruangan yang ada di sana. Dengan uang sebayak itu, kekhawatiran Matthew mengenai kehidupan mereka setelah ini hilang. Uang ini sudah pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Matthew juga melihat beberapa potong pakaiannya dan juga pakaian kedua adiknya. Beberapa makanan juga terlihat di sudut ruangan. Kebanyakan adalah makanan favorit Jasper dan Ellie. Sepertinya Ibunya mempersiapkan makanan-makanan itu untuk kedua adiknya yang rakus itu.
Selain beberapa benda tersebut,terdapat beberapa benda seukuran kelereng dengan berbagai warna. Jumlah dari benda tersebut tidak terlalu banyak. Matthew melihat benda tersebut hanya berjumlah sekitar lima ratus, dengan seratus buah setiap warnanya.
Matthew bisa merasakan konsentrasi elemen yang tinggi dari benda seukuran kelereng itu. Mungkin ini adalah Kristal elemen yang selama ini dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
Matthew lalu memusatkan konsentrasi ke salah satu Kristal elemen. Ia mencoba menggerakkannya. Mungkin dengan begitu ia bisa mengeluarkannya dari kantong ruang ini. Benar saja di tangannya yang lain Matthew bisa merasakan sebuah Kristal elemen.
“Aku sudah tau cara memakainya Ibu. Terima kasih sudah memberikan ini.” Semua proses ini terlihat cukup lama, namun kenyataannya ini hanya berlangsung selama beberapa detik.
Elisa bisa melihat sebuah Kristal elemen di tangan Matthew. “Sepertinya aku sudah lumayan kebal dengan kejutan-kejutan yang kalian berikan. Kau bisa dengan mudahnya memahami mekanisme penggunaan kantong ruang ini dengan sedikit penjelasan saja.”
“Dulu aku membutuhkan waktu beberapa jam untuk bisa menggunakannya untuk pertama kalinya. Lalu Kau, dalam sekejab saja bisa menggunakannya.” Elisa merasa tidak berdaya menghadapi hal ini. Ia tidak mengetahui harus bagaimana menanggapi kejutan-kejutan yang diberikan oleh ketiga anaknya.
“Kalian harus ingat, jangan pernah mengatakan kepada orang lain bahwa kalian memiliki kantong ruang ini. Jika kalian menggunakannya jangan pernah di depan orang lain. Bahkan di akademi sekalipun jangan melakukannya. Itu bisa mengundang bahaya baru untuk kalian.” Jelas Elisa.
__ADS_1
“Aku mengerti ibu.” Matthew paham tentang hal itu. Harta bisa mengubah kawan menjadi lawan. Matthew mengetahui bahwa dirinya tidak bisa semudah itu menunjukkan kantong ruang ini.
“Baiklah. Ayo sekarang kita temui ayah kalian. Kepala Akademi juga sudah menunggu kalian.”