
Matthew bangun lebih awal dari biasanya. Ia lalu membangunkan Jasper yang ada di kamar sebelah. Sedangkan Ellie, adiknya itu ada di ruangan lain.
Hunian untuk siswa di akademi ini lebih mirip sebuah apartemen. Seseorang akan berada di apartemen empat kamar selama berasa di sini. Jadi, meski mereka berada di apartemen yang sama, mereka masih memiliki kamar masing-masing.
Selain empat kamar tersebut, di hunian mereka ini ada sebuah kamar mandi, dapur dan ruang tengah yang mereka pakai bersama.
Sebenarnya Matthew ingin Ellie dan Clarissa berada di hunian yang sama dengan mereka. Namun, di Akademi Andradius hunian untuk siswa laki-laki jaraknya cukup jauh dari hunian siswa perempuan.
"Jas bangunlah. Bukankah Kau bilang ingin melihat-lihat akademi sekarang? Ayo bangunlah." Ucap Matthew sembari mengetuk pintu kamar Jasper.
Tidak lama kemudian, pintu kamar di depannya terbuka. Matthew disambut dengan muka mengantuk milik Jasper. Adiknya itu sekarang tengah mengucek matanya.
"Demi Dewa, Matt ini masih sangat pagi. Aku yakin langit masih gelap sekarang. Lalu Kau ingin aku segera bangun dan menemanimu?"
"Oh ayolah Jas kita berada di Akademi Andradius sekarang. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelajah. Kau tahu sendiri bukan bahwa Kakek John saat ini tengah mengurus keluarga bau mulut itu. Dia tidak sempat untuk mengutus seseorang menemani kita."
"Lalu, kita juga perlu mendatangi Ellie dan Clarissa. Kita tidak tahu bukan di mana para gadis itu tinggal. Akan membutuhkan banyak waktu untuk mencari mereka." Jelas Matthew.
"Baiklah. Tetapi Kau harus berjanji untuk memberiku seratus koin emas ketika kita pergi ke kota nanti. Aku ingin membeli banyak hal dari sana."
"Tidak masalah."
Untung Jasper dan Ellie masih belum tahu mengenai hadiah yang Matthew terima setelah dua orang anggota Black Shadow terbunuh. Jika mereka sampai tahu, mereka pasti menuntut jatah sekarang.
Sudah pasti uang-uang itu akan berakhir di perut mereka. Tidak akan ada yang tersisa untuk kebutuhan yang lain.
...
__ADS_1
Sekarang Matthew bisa melihat dengan lebih jelas keadaan Akademi Andradius. Kemarin hari terlalu gelap sehingga Matthew tidak bisa melihat semuanya dengan jelas.
Jika Matthew harus membandingkan, bangunan yang ada di Akademi Andradius mirip dengan bangunan Eropa abad pertengahan. Langit-langit bangunan memiliki tinggi lima meter. Dengan lima lantai yang dimilikinya, bangunan ini terlihat sangat tinggi dari luar.
Setiap hunian di sini dibuat saling berhadapan. Sebuah ruang kosong dibuat di antara lorong kamar, sehingga mereka yang berada di lorong lantai lima, bisa melihat pemandangan pepohonan yang ada di lantai satu.
Setidaknya ada tiga ratus kamar di setiap lantai. Ini berarti bangunan ini mampu menampung enam ribu orang siswa. Matthew tidak tahu berapa jumlah gedung hunian yang dimiliki oleh Akademi Andradius. Yang jelas Matthew bisa memperkirakan bahwa Akademi Andradius memiliki lebih dari sepuluh ribu siswa.
"Aku tidak menyangka ada bangunan setinggi ini." Ucap JasperJasper yang sekarang menuruni tangga bersama dengan Matthew.
Memang sepanjang perjalanan mereka, bangunan Akademi Andradius adalah bangunan tertinggi yang mereka lihat. Bahkan, istana Kerajaan Starwood masih kalah tinggi jika dibandingkan dengan bangunan ini.
"Ini tidak seberapa, Jas. Aku pernah melihat bangunan yang tingginya mencapai langit. Kami biasa menyebut bangunan itu dengan nama, gedung pencakar langit. Tingginya ratusan meter. Melihat pemandangan dari gedung itu sama halnya dengan nelihat pemandangan dari punggung Tyson."
"Sayang sekali aku tidak pernah melihatnya. Pasti sangat seru berada di sana."
"Siapa kalian?" tanya sebuah suara ketika Matthew dan Jasper sampai di lantai empat.
Seorang pemuda menghadang mereka saat ini. Pemuda itu memiliki rambut sebahu berwarna perak. Ia memakai sebuah jubah berwarna biru dengan sebuah pin berwarna perunggu, angka sembilan terlihat jelas pada pin tersebut.
"Kenapa kalian ada di sini? Aku rasa kalian ini bukan murid Akademi Andradius. Jadi bagaimana kalian bisa menyusup kemari?" tanya pemuda itu lagi.
"Kami tidak menyusup. Seseorang membawa Kami masuk dan meminta Kami tinggal di salah satu kamar yang ada di lantai lima. Ini tanda pengenal sementara milik kami."
Matthew lalu menunjukkan sebuah token yang terbuat dari giok. Melihat token itu, pemuda itu yang tadinya bersikap dingin, kini mulai menghangat.
"Aku kira kalian menyusup ... ternyata tidak. Semakin dekat dengan hari penerimaan siswa baru, semakin banyak pula orang yang mencoba menyusup ke sini. Perkenalkan, aku Leonard Hunt, siswa tahun kedua di akademi ini. Kalian bisa memanggilku Leo."
__ADS_1
"Namaku Matthew dan ini saudara kembarku, Jasper." jawab Matthew.
"Kalian kembar?" tanya Leonard sembari memandangi Matthew dan Jasper dari atas ke bawah secara bergantian.
"Aku tidak melihat sedikit pun kemiripan di antara kalian berdua. Bukankah anak kembar biasanya memiliki wajah yang mirip?"
Jika Leonard melihat wajah asli Matthew dan Jasper, pasti dia bisa melihat persamaan di antara keduanya. Ya meskipun itu tidak banyak.
Tetapi, sekarang keduanya memakai wajah penyamaran mereka. Tentunya tidak ada satu pun kemiripan yang bisa Leonard tangkap. Mereka seperti orang yang benar-benar berbeda sekarang.
"Banyak yang mengatakan demikian memang. Tetapi kami memang saudara kembar. Kami masih memiliki satu saudara kembar lagi. Dia sekarang berada di asrama perempuan."
"Ehm... apakah Kau tahu di mana asrama perempuan itu Leo? Kami baru sampai semalam. Jadi, kami belum sempat mengelilingi tempat ini untuk tahu nama dari setiap gedung ya ada." Pinta Matthew.
Dari pengamatan singkatnya, Matthew bisa menyimpulkan bahwa Leonard adalah orang baik. Jadi, ia meminta tolong Leonard untuk menjadi pemandu dalam menjelajah Akademi Andradius.
"Masih ada satu kembaran lagi? Aku tidak pernah mendengar ada tiga anak kembar sekaligus. Ini adalah hal yang baru. Kau tadi mengatakan ingin ke asrama perempuan bukan. Baiklah aku akan memandumu ke sana." Jawab Leonard.
Leonard menjadi pemandu terbaik untuk Matthew dan Jasper. Pemuda itu mengenalkan setiap tempat yang ada di sana tanpa Matthew atau pun Jasper minta. Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah taman. Di taman itu terdapat patung seekor monster.
Jika Matthew tidak salah ingat, semalam ia melihat patung serupa di pintu masuk akademi. Tidak hanya itu, monster tersebut merupakan monster yang sama dengan simbol yang ada di baju zirah Albert.
"Ehm Leo, monster apa itu? Aku lihat cukup banyak patung monster ini di akademi." tanya Matthew sembari menunjuk ke arah patung monster yang ada di tanam.
Leonard melebarkan matanya setelah mendengar pertanyaan Matthew. Ia tidak menyangka bahwa Matthew tidak mengenali monster apa itu. Padahal, monster itu adalah monster yang cukup terkenal di Benua Andradius. Semua orang pasti mengetahuinya.
Bahkan, Akademi Andradius memakai monster tersebut sebagai logo mereka. Jadi, bagaimana mungkin Matthew tidak mengenalinya.
__ADS_1