Master Of Elements

Master Of Elements
ME 22 Desa Siendra


__ADS_3

“Desa Siendra”


Itulah kata tertulis di sebuah tugu dari batu di depan pintu masuk desa. Sepertinya selain mata uang yang sama, seluruh kerajaan di Benua Andradius juga memiliki bahasa yang sama. Ini adalah informasi yang cukup menggembirakan untuk Matthew. Dengan hal ini dirinya tidak perlu repot-repot mempelajari bahasa baru.


Suasana desa cukup ramai ketika Matthew memasuki Desa Siendra. Di pintu masuk desa terlihat beberapa orang berkerumun. Kebanyakan dari mereka berkerumun di dekat kereta kuda yang berjejer rapi.


Sepertinya itu adalah karavan pedagang yang sama seperti yang biasanya berkunjung ke desa tempatnya tinggal. Banyak barang yang biasanya di jual oleh karavan pedagang.


Para pedagang itu memang sering mengunjungi desa-desa kecil untuk membeli berbagai macam barang. Seperti kulit dari monster yang sudah di keringkan, daging monster yang sudah diawetkan dan tanaman obat yang mungkin saja ditemukan warga desa yang berbatasan dengan Hutan Morento.


Sebagai gantinya, karavan pedagang itu membawa kain, bumbu-bumbu masakan, peralatan dapur, senjata dan berbagai macam barang dari kota besar. Dengan adanya karavan ini, penduduk desa tidak perlu melakukan perjalanan panjang untuk menjual barang-barang mereka.


Beruntung sekali sekarang mereka bertemu dengan karavan pedagang ini. Matthew akan mendapatkan bumbu-bumbu masakan lebih lengkap. Matthew ingin membeli beberapa bumbu untuk persiapannya melakukan perjalanan panjang.


Dalam perjalanan panjang ini, tidak selamanya mereka akan menemukan sebuah desa di mana ada kedai yang menjual makanan. Pasti ada kalanya mereka akan berada di tengah hutan untuk beristirahat. Bumbu-bumbu yang akan Matthew beli ini yang akan menjadi modalnya untuk memasak makanan lezat nantinya.


Jangan remehkan bumbu yang dijual oleh karavan pedagang ini. Bumbu yang para pedagang itu jual bisa saja jauh lebih lengkap dari apa yang dijual di toko yang ada di kota besar.


Dari cerita orang tuanya Matthew tahu bahwa karavan pedagang itu melakukan perjalanan antar kota bahkan antar kerajaan. Jadi sudah pasti bumbu yang mereka miliki lebih lengkap. Mereka akan mengumpulkan semua bumbu dari setiap daerah yang mereka lewati.


“Ah beruntung sekali kita menemui karavan para pedagang. Kita bisa ikut mereka untuk melakukan perjalanan. Aku harap mereka satu arah dengan kita.” Ucap John.


John mengajak ketiga saudara kembar itu untuk mendekati karavan pedagang itu. Setelah lebih dekat Matthew dan kedua adiknya bisa melihat berbagai macam barang yang ada di kereta para pedagang itu. Kereta yang saat ini ada di depan mereka berfokus melakukan transaksi jual beli kulit monster. Terlihat banyak tumpkan kulit monster di dalam kereta tersebut.


“Apa ada yang bisa aku bantu Tuan?” tanya seorang pria dengan perut sedikit buncit itu.


Beberapa cincin emas terlihat menghiasi jari-jemari dari pria tersebut. Pakaiannya terlihat lebih mahal dari pada pakaian orang-orang di sekitar mereka. Sepertinya pakaian itu terbuat dari sutra. Dari penampilan pria tersebut Matthew sudah bisa menebak identitas dari pria di depan mereka ini. Sudah pasti pria ini adalah pedagang dalam karavan ini.


“Apa Kau akan membeli kulit monster Tuan? Kami memiliki banyak kulit monster. Dari tingkat Besi hingga tingkat platinum. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan berbagai pakaian dan senjata yang memiliki kualitas jauh diatas pandai besi di desa ini.”


“Kau tinggal sebut saja apa yang Kau inginkan, kami dari Karavan Gold Mine akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi keinginanmu.” Ucap pria tersebut dengan sebuah senyuman lebar.


Sepertinya pedagang di depan mereka ini tidak memandang remeh mereka. Saat ini pakaian yang mereka pakai bukanlah pakaian yang menunjukkan kemewahan. Mereka hanya memakai pakaian biasa. Matthew sendiri tidak paham kenapa pedagang di depan mereka ini bisa seramah itu.


Mereka tidak terlihat seperti seorang pelanggan yang bisa memberi keuntungan besar. Meski Matthew memiki banyak uang, dan John sudah pasti memiliki uang yang lebih banyak darinya, tetapi mereka tidak membawa apapun di tubuh mereka.

__ADS_1


Mungkin pedagang di depannya ini menganggap semua orang adalah ladang uang mereka sehingga tidak membeda-bedakan orang yang satu dengan yang lain.


“Aku tidak sedang mencari barang. Kemana tujuan karavan kalian? Apa kalian akan melewati Kota Greenwood?” tanya John tanpa basa-basi.


“Ah, Kota Greenwood. Tentu saja kami akan kesana. Kami harus menjual beberapa barang dan mengisi stok kami dengan barang yang lainnya. Apakah Tuan akan mengikuti rombongan kami?” tanya Pedagang tersebut dengan mata berbinar.


“Ya, apa kalian masih memiliki slot untuk ke sana? Kalau bisa, berikan satu kereta khusu untuk kami. Aku tidak ingin bercampur dengan orang lain yang tidak aku kenal.”


“Tentu saja Tuan. Semua bisa diatur. Kebetulan sekali kami masih memiliki kereta kosong. Jadi, Kau bisa memakai kereta tersebut Tuan.” Jelas pedagang tersebut dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya.


“Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk ke Kota Greenwood?” tanya John.


“Dari Desa Siendra ke Kota Greenwood membutuhkan waktu sepuluh hari perjalanan. Itu belum termasuk waktu kami berhenti di beberapa kota untuk mengisi stok. Paling cepat kami membutuhkan dua puluh dua hari untuk sampai di Kota Greenwood.”


John terlihat terdiam sebentar setelah mendengar ucapan pedagang itu. Ia menimbang-nimbang lamanya perjalanan yang perlu mereka lakukan. Dua puluh dua hari untuk sampai di Kota Greenwood terlalu lama untuk John. Ia ingin lebih cepat lagi.


Seolah memahami pemikiran John, pedagang tersebut kembali berbicara. “Jika Tuan merasa dua puluh hari telalu lama, Anda bisa mengikuti kami hingga ke Kota Suiria. Masih butuh satu minggu lagi hingga kami sampai di Kota Suiria.”


“Dari kota Suiria akan ada rombongan kami yang langsung malakukan perjalanan ke Kota Greenwood tanpa berhenti untuk melakukan stok ulang. Dari Kota Suiria ke Kota Greenwood akan membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari. Tetapi jika Tuan mengikuti rombongan dari Kota Suiria ke Kota Greenwood biayanya tidak akan murah. Apalagi jika Tuan meminta kereta khusus.” Jelas Pedagang tersebut.


“Tidak masalah untukku. Berapa yang perlu aku bayar?” tanya John.


“Empat koin emas untuk kalian berempat. Tidak termasuk makanan. Kami hanya menyiapkan kereta dan kusir untuk kalian. Tidak ada fasilitas lain. Lalu, ketika bersitirahat selama perjalanan, Anda perlu membayar sendiri penginapannya Tuan.” Jelas pedagang tersebut.


Lihat bukan itu bisa diselesaikan dengan beberapa koin emas. Tidak terlalu banyak bagi John yang memiliki banyak uang. “Tidak masalah untukku. Jika sudah waktunya berangkat, informasikan kepadaku. Aku akan makan terlebih dahulu. Untuk pembayarannya, akan aku lakukan setelah kita sampai di Kota Suiria.”


“Tidak masalah Tuan. Aku akan menyuruh anak buahku untuk menginformasikan padamu. Paling cepat tiga jam lagi kami berangkat. Jadi nikmati waktu istirahatmu Tuan.”


Setelah mencapai kesepakatan, John mengajak Matthew dan kedua adiknya menuju kedai yang ia bicarakan. Ia sudah tidak sabar untuk kembali mengisi perutnya. Meski sebelumnya ia sudah menghabiskan banyak roti isi, tetapi setelah melakukan teleportasi dirinya merasa lapar kembali.


Pedagang tersebut memandangi kepergian John dan kedua bersaudara itu. Senyum lebar masih terlihat jelas di bibir pedagang tersebut. Setelah dirinya tidak melihat lagi keberadaan John, pedagang tersebut memanggil anak buahnya yang berada tidak jauh darinya.


“Ron kemarilah.” Ucap pedagang tersebut.


Anak buahnya yang bernama Ron tersebut bergegas menghampiri pedagang tersebut. Sedari tadi ia memang sudah memperhatikan pembicaraan bosnya dengan pria berpakaian lusuh tadi. Ia merasa heran dengan sikap bosnya. Kenapa dia bersikap sesopan itu kepada orang yang terlihat tidak memiliki uang itu.

__ADS_1


Biasanya jika ada orang yang terlihat tidak memiliki uang, bosnya itu akan memintanya atau rekannya yang lain untuk melayani pelanggan. Namun untuk yang satu ini entah kenapa bosnya itu dengan bersemangat melayani sendiri pelanggan yang datang.


“Ada apa Bos?”


“Siapkan kereta penumpang terbaik kita. Kau bersihkan seluruhnya. Jika perlu, Kau tambahkan kain baru untuk kursi dari kereta. Ganti juga korden kereta dengan yang baru. Jangan sampai ada kotoran sedikit pun. Tambahkan juga pewangi pada kereta tersebut.”


“Bos apakah Kau yakin? Aku dengar orang tadi baru akan membayarmu ketika kita sampai di Kota Suiria. Apa Kau tidak takut mereka tidak akan membayarmu? Mereka terlihat tidak memiliki uang. Pakaian mereka saja seperti itu.” ucap Ron pensaran.


Pedagang tersebut memukul pelan lengan Ron. “Biacara apa Kau. Itu tidak mungkin terjadi. Ron sudah berapa lama Kau mengikutiku, hal sepele seperti ini saja Kau masih belum mengerti.”


“Maksudnya apa Bos. Aku benar-benar tidak memahaminya.” Jawab Ron sembari mengelus lengannya yang dipukul oleh bosnya. Ron mengetahui bahwa pukulan bosnya tidak akan menimbulkan bekas tetapi pukulan tersebut cukup menyakitkan baginya.


“Jangan menilai orang dari penampilannya saja Ron. Apa Kau lihat mereka tadi datang dari arah Hutan Morento. Mereka tidak membawa apapun selain pakaian yang mereka kenakan. Itulah kuncinya Ron. Mereka tidak membawa apa-apa.”


“Tapi bos. Bisa saja mereka adalah penduduk desa ini bukan? Jadi wajar jika mereka tidak mebawa apa-apa.”


“Memang bisa saja mereka adalah penduduk desa ini. Tapi Kau lupa satu hal. Cincin yang ada di jari laki-laki tadi. Meski terlihat biasa, aku pernah melihat cincin yang mirip dengan cincin tersebut di tempat lelang di Kota Greenwood. Kau tau berapa cincin tersebut?”


Ron menggeleng. “Seratus.”


“Oh hanya seratus koin perunggu. Itu sangat murah Bos.”


“Itu bukan koin perunggu bodoh, tetapi seratus kristal tingkat rendah.”


“Apa itu cincin ruang?” tanya Ron tidak percaya.


Hanya cicin ruang yang dijual dengan harga semahal itu. Ron mulai memahami alasan bosnya bersikap sesopan itu. Orang yang memiliki cincin ruang sudah pasti bisa mengeluarkan seratus koin silver dengan mudahnya.


“Tapi bos, apakah itu cincin asli? Bukankah ada beberapa cincin yang dibuat semirip mungkin dengan cincin ruang?”


“Itu tidak mungkin. Aku yakin itu cincin asli. Mereka akan menuju Kota Greenwood. Kau tau bukan bahwa kota terdekat dari sini yang memiliki portal teleportasi adalah Kota Greenwood. Aku yakin mereka menuju Kota Greenwood dengan tujuan untuk menggunakan portal teleportasi yang ada di sana.”


“Sekali teleportasi saja kita membutuhkan sepuluh koin emas tiap orang. Jadi, tidak mungkin mereka memakai cincin palsu. Aku yakin mereka adalah anggota keluarga profesional. Laki-laki tadi adalah tetua keluarga itu yang tengah mengawal ketiga anak tadi.”


“Sebentar lagi Akademi Andradius akan dibuka. Jadi mereka sekarang ini sedang bergegas menuju ke Kota Archdale. Di kota Suiria akan banyak karavan para murid yang akan menuju ke Kota Archdale. Di pemberhentian kita selanjutnya, bisa saja ada orang yang bergabung dengan karavan kita. Jadi Kau harus mempersiapkan beberapa kereta.”

__ADS_1


“Jika kurang, Kau beli saja ke penduduk desa. Lagi pula kita bisa menjual kembali kereta-kereta yang tidak terpakai. Akan sangat menguntungkan bagi kita untuk melakukan bisnis ini. Tidak semua orang meminta kereta khusus bagi mereka. Kita bisa menyatukan beberapa orang dalam satu kereta nantinya.”


__ADS_2