Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 11. Permintaan terakhir


__ADS_3

Dengan canggung Nadia duduk menikmati sarapan berdua dengan Tuan Muda di meja makan berukuran besar yang menghadap keluar kolam berenang.


Suasana hening sekali.


Tuan Muda asik menikmati sarapan nya sambil fokus memandang ke layar HP tanpa memperdulikan Nadia sedikitpun.


"Datuk gimana? Nadia boleh pergi jenguk?" tanya Nadia memberanikan diri.


"Selesaikan sarapan mu.. setelah itu kita berangkat bersama ke rumah sakit. Papa sudah sadar dan Dia meminta kita untuk menjenguknya pagi ini" jawab Tuan Muda masih tetap fokus pada HP nya.


"Baiklah.. " jawab Nadia singkat.


Setelah sarapan, Nadia bergegas menyiapkan segala keperluan nya lalu turun menuju parkiran mobil dan disana Tuan Muda telah menanti nya untuk segera berangkat kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit, Nadia dan Tuan Muda segera menuju kamar Mawar 105 tempat dirawat nya Datuk Iskandar.


"Assalamualaikum.. Datuk gimana? Diah risau..." ujar Nadia sembari mencium punggung tangan Datuk Iskandar tanda memberi salam.


Datuk Iskandar hanya membalasnya dengan segaris senyuman.


Iya terlihat sangat lemah dengan selang yang masih menempel di kedua lubang hidung nya dan jarum suntik yang berada di tangan kiri nya.

__ADS_1


Datuk kemudian memberi isyarat pada Encik Rafiq anak nya agar duduk mendekat kepada nya seperti yang di lakukan Nadia.


Rafiq pun mendekat dan duduk di kursi sebelah Nadia.


"Rafiq... Maafkan Papa ya.. Papa tidak berhasil merawatmu dengan baik.. Papa terlalu keras dan egois sehingga lupa memikirkan dirimu. Dulu.. Papa fikir Uang adalah segalanya.. Tapi ternyata Papa salah.. Kemewahan tidak membuatmu bahagia.. malah mengurungmu dalam kepedihan berpanjangan.. Maafkan Papa.." Ujar Tuan Iskandar membelai wajah rafiq dengan tangan kanan nya.


"Papa bicara apa?? Rafiq tidak mengerti.. Papa adalah orangtua terhebat bagi Rafiq.. Rafiq bangga menjadi anak Papa.. Papa istirahat yang cukup.. jangan berfikir yang tidak-tidak.. Insyaallah Papa akan segera sembuh... Oke..?!" Jawab Tuan Muda sambil membalas genggaman tangan Pap nya.


"Papa sudah tua Fiq.. Tinggal menunggu masa nya saja lagi.. Dan Papa ingin sekali memastikan dirimu telah bahagia sebelum ALLAH memanggil Papa.. Fiq.. Maukan kamu mengabulkan permintaan terakhir Papa?" ujar Tuan Besar kepada Tuan Muda anaknya.


Tuan Muda hanya menganggukkan kepala pelan tanpa berbicara sedikitpun.


"Tidak mungkin Papa.. Diah masih terlalu muda untuk menikah.. Diah juga baru akan memulai kuliah nya, Diah masih harus mengejar mimpi nya.. Dan Rafiq pun telah memiliki istri Papa.." Elak Encik Rafiq menolak permintaan aneh Papa nya.


Diah yang sedari tadi duduk di samping Encik Rafiq hanya tertunduk diam dan mata nya mulai berkaca-kaca.


Fikiran nya kacau tidak karuan.


Terbayang oleh nya permintaan Datuk Iskandar beberapa hari yang lalu pada nya untuk bersedia mendampingi Rafiq dalam suka dan duka. Menjadi Wanita yang mampu berdiri tegap memberi kekuatan untuk Rafiq setelah Datuk Iskandar nanti tiada.


"Pernikahanmu dengan Zizi hanyalah sebatas pernikahan bisnis belaka.. Tidak ada cinta disana. Papa ingin melihat mu bahagia. Memiliki keluarga yang sebenar-benar nya keluarga. Ada istri yang selalu setia di samping mu.. ada anak-anak yang akan menjadi penerus garis hidup mu.. Bukan seperti saat ini Fiq.. Semua hanyalah semu belaka.. Papa sangat terpukul setiap memikirkan dirimu.. Papa merasa amat bersalah.. Menikahlah dengan Diah..!?.Papa yakin Diah mampu menjadi istri yang baik untuk mu.. Please Fiq.. kabulkan permintaan terakhir Papa ini.. !!" ucap Tuan Besar lagi sambil berlinang air mata.

__ADS_1


"Diah.. Diah setuju kan?? Datuk ingin kalian menikah agar Diah terjamin hidupnya bersama Rafiq.. Bukan maksud datuk menghancurkan masa depan Diah.. justru karena Datuk ingin memastikan Diah dan Rafiq bahagia maka itulah Datuk ingin kalian menikah.. Tolong kabulkan permintaan Datuk Diah.. " ucap nya lagi sambil mengelus kepala Diah yang tunduk menangis.


"Pa.. Rafiq pergi kerja dulu.. Sudah hampir jam 10. Rafiq ada rapat jam 11 siang nanti. Papa istirahat dan jangan berfikir yang aneh-aneh.. Papa pasti sembuh.. Oke!" ujar nya Tuan Muda tanpa menghiraukan permintaan Papa nya.


"Nadia.. Kamu disini dulu jaga Papa.. Nanti setelah pulang kerja saya kembali kesini jemput kamu..!" ujar nya Lagi pada Nadia yang hanya mengsngguk pelan saja.


"Rafiq.. tolong pertimbangkan permintaan Papa.. Itulah permintaan terakhir Papa Fiq... Papa mohon.. Pertimbangkan lah.." ujar Tuan Besar lagi pada Encik Rafiq sebelum iya meninggalkan kamar rawat Tuan Iskandar.


Setelah kepergian Tuan Muda, Datuk Iskandar kemudian menceritakan segala nya tentang Encik Rafiq pada Nadia.


Tentang sifat-sifat nya, Tentang pekerjaan nya, dan bahkan tentang pernikahan nya dengan Zizi yang tidak harmonis.


"Rafiq terlalu banyak menanggung beban hidup.. Dia tidak memiliki siapapun untuk berbagi kesedihan nya.. Datuk mohon pada Diah.. menikahlah dengan nya.. Datuk yakin Diah bisa menaklukkan hati Rafiq yang beku. Rafiq butuh wanita periang, perhatian dan tulus seperti Diah.. Berjanjilah Diah akan menjahlga Rafiq untuk Datuk... Cuma Rafiq yang datuk punya Diah.. Datuk ingin melihatnya bahagia.. Tolong Datuk ya..!" ucap Tuan Besar meminta Nadia agar bersedia menikah dengan Encik Rafiq anak nya.


Nadia tidak bisa menolak permintaan Datuk Iskandar.


Nadia hanya mengangguk dan berjanji akan mengabulkan permintaan Tuan Besar.


"Mungkin ini lah caraku agar bisa membalas budi baik Datuk Iskandar padaku. Akan kuterima perjodohan ini jika Tuan Muda bersedia menikahiku" bisik batin Nadia di dalam hati.


"Berikan petunjukmu ya ALLAH.." Ujar nya lagi berdoa lirih.

__ADS_1


__ADS_2