
Nadia masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Pak Cik barusan.
Lelaki itu telah mengambil ciuman pertamanya.
Lelaki yang dulu begitu dingin dan kaku.
Lelaki yang terlalu cuek pada nya.
Lelaki yang mengajaknya membuat kesepakatan tentang pernikahan siri.
Lelaki yang sebenarnya telah beristri.
"Ya ALLAH apa yang telah terjadi padaku.. Aku benar-benar jatuh cinta padanya.. Apa Dia bersungguh-sungguh menyukai ku?? Lalu bagaimana dengan istrinya? bagaimana dengan perjanjian kami??" berbagai pertanyaan timbul di benak Nadia yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata sedikitpun.
Tubuh nya berguling kekanan dan kekiri berulang kali. Mencoba untuk tidur.
Namun tidak sedikitpun rasa kantuk iya temukan.
Ciuman yang baru saja terjadi terus terngiang di ingatan Nadia.
"Kriingg... Kringg..." Nada dering HP Nadia berbunyi.
Tampak Nama Pak Cik tertera di layar HP nya.
"Ya Pak Cik.. ada apa?" tanya Nadia pelan mengangkat telepon dari Encik Rafiq.
"Apa kamu sudah tidur?? maaf Saya mengganggu.." ucapnya dari seberang telepon.
"Diah belum tidur kok.. Baru saja selesai mandi" Jawab Nadia dengan sopan.
"Sejak kejadian kemarin saya tidak bisa berfikir jernih. Dan yang terjadi barusan membuat saya tidak bisa tidur sama sekali. Apa kamu juga merasakan hal itu?" tanya nya lagi pada Nadia.
"iya.. Diah juga tidak bisa tidur. Apa Pak Cik serius dengan Ucapan Pak Cik tadi?" tanya Nadia balik dengan perasaan yang berdebar hebat.
Nadia mencoba memberanikan diri bertanya pada Encik Rafiq agar semua nya menjadi jelas.
"Tentu..!!! Karena itulah saya menghubungi kamu sekarang. Sejujurnya saya bukanlah lelaki yang gentle. Saya ingin sekali mengungkapkan banyak hal padamu secara jantan, face to face. Tapi saya begitu kaku dan gugup. Hanya mampu mengucapkan kalau saya jatuh hati padamu. Saya hanya mampu mengucapkan kata I Love you. Padahal ada banyak hal yang ingin saya bicarakan. Tapi setiap kali saya bertatapan denganmu, mulut ini selalu terkunci dan kaku. Nadia.. Bersediakah kamu untuk benar-benar menjadi istri saya seutuh nya...?? Kita lupakan semua kesepakatan yang pernah kita buat dulu.. Mari kita daftarkan pernikahan kita menjadi pernikahan yang sah dimata hukum dan agama.. Bersediakah kamu??" tanya Rafiq panjang lebar pada Nadia.
"Tapi bagaimana dengan istri Pak Cik?" ujar Nadia balik bertanya.
"Kamu pasti sudah tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada saya dan Zizi. Zizi adalah teman kecil saya. Dia adalah anak dari Datuk Anwar sahabat Papa. Ketika orangtua nya meninggal karena kecelakaan, Zizi tidak memiliki siapapun lagi kecuali Saya dan Papa. Semua saham orangtua nya otomatis jatuh padanya. Akhirnya kamipun menikah demi melancarkan segalanya. Pernikahan kami tidak berjalan baik. Dia pergi melanjutkan kuliahnya di sidney dan tidak pernah kembali sampai saat ini. Nadia.. Apa yang pernah di ucapkan Papa benar adanya. Saya butuh seorang wanita yang bisa mendampingi saya dalam suka dan duka. Seorang wanita yang bisa menerima saya apa adanya. Dan wanita itu adalah kamu. Please Nadia..!!" ujar Encik Rafiq terus menjelaskan pada Nadia.
Nadia terdiam tanpa suara.
Hatinya berdebar kencang sekali.
Mulutnya terkunci tak mampu menjawab permintaan Encik Rafiq.
"Nadia.. Halloo.." tanya encik Rafiq di seberang telepon memecahkan lamunan Nadia.
"Ooh... iya Pak Cik.. Diah tidak tau mau jawab apa.." jawab Nadia polos.
"Nadia.. Maaf karna saya tidak gentle. Saya sudah mengungkapkan segalanya padamu lewat sambungan telepon ini. Dan jika kamu bersedia menerima saya, keluarlah.. Saya ada di depan pintu kamarmu. Namun jika kamu tidak bersedia berdirilah dan ketuk pintu kamarmu, Maka saya akan kembali ke kamar saya. Kita akan melupakan yang telah terjadi barusan dan terus melanjutkan kesepakatan yang telah kita buat.
__ADS_1
"Deg.." jantung Nadia berdetak semakin kencang.
Nadia bingung harus berbuat apa.
Lelaki itu tidak memberinya waktu untuk berfikir lebih lama.
Sejujurnya Nadia masih ragu dengan perasaan nya.
Lama Nadia terdiam di dalam kamar untuk menimbang banyak hal sebelum mengambil keputusan lalu kemudian berdiri bangkit dari tempat tidurnya mendekat kearah pintu.
"Krek.." perlahan dibukanya pintu kamar.
Iya mendapatkan Encik Rafiq berada tepat di depan pintuk kamarnya.
"Pak Cik serius dengan semua ucapan Pak Cik barusan??" tanya Nadia lagi untuk meyakinkan.
Encik Rafiq mengangguk kuat.
"Please Nadia.. Bersediakah kamu menjadi wanita yang mendampingiku dalam suka dan duka? menjadi istriku sesungguhnya.. Mari kita lupakan kesepakatan bodoh yang pernah kita buat.. Jadilah istriku sesungguhnya..!!" pinta Encik Rafiq sembari membuka sebuah kotak kecil berwarna merah yang berada di tangan nya.
Nadia akhirnya mengangguk pelan memberi jawaban setuju pada Encik Rafiq.
Encik Rafiq tersenyum bahagia.
Diraihnya tangan Nadia.
Dilingkarkan nya sebuah cincik berlian yang berada didalam kotak merah kecil tadi ke jari manis Nadia.
Lalu diciumnya dengan lembut.
Encik Rafiq segera menyeka air matanya.
Diusapnya pelan pipi mulus Nadia.
Lama mereka saling tatap.
Pelan tapi pasti Encik Rafiq mendaratkan ciuman nya di kening Nadia.
Lama..
Lalu turun menuju bagian kelopak mata kanan nya.
Kemudian beralih kebagian sebelah kiri.
Terus turun pada puncak hidung bangir Nadia.
Dan...
"Srlup.." Encik Rafiq kembali meraup bibir Nadia yang merekah.
Lama..
Mereka saling pangut berbagi saliva.
__ADS_1
Saling meluahkan rasa.
Dan ketika terlepas, Encik Rafiq segera membopong Nadia masuk kedalam kamarnya.
Lalu membaringkan nya di tempat tidur.
Tubuh Nadia bergetar hebat.
Jantung nya terus berdetak kencang.
Nadia memejamkan matanya.
Membiarkan Encik Rafiq bergerilia pada tubuhnya yang masih terbalut piyama longgar.
Nadia cuma bisa mengeluh panjang menikmati sensasi yang belum pernah iya rasa sebelumnya.
Encik Rafiq kemudian terdiam dan menghentikan kegiatan liarnya.
Nadia membuka matanya.
"Bolehkan Saya memilikimu seutuhnya malam ini? Jika kamu tidak setuju saya akan berhenti dan akan menunggu sampai kamu siap untuk melakukan nya" tanya encik Rafiq sambil menyibak rambut nadia yang berantakan.
Nadia menjawabnya dengan anggukan pelan.
Encik Rafiq tersenyum bahagia.
"Tapi Diah takut.." Ucap Nadia lagi.
"Kita akan melakukan nya pelan-pelan.." jawab encik Rafiq lalu meraih tangan kiri Nadia yang kini dilingkari cincin pengikat olehnya.
Dikecupnya pelan tangan itu.
Digenggamnya erat.
Lalu kembali mendekatkan wajahnya pada Nadia.
Kembali meraup bibir mungilnya.
Lalu turun kejenjang leher Nadia yang putih bersih.
Tangan Encik Rafiq kembali mulai bekerja.
menjatuhkan satu persatu piyama yang Nadia kenakan.
Dan memberi tanda pada setiap sudut di tubuh mungil Nadia.
Nadia hanya pasrah tanpa perlawanan.
Memejamkan mata menikmati tiap gerakan Encik Rafiq.
Sampai akhirnya mereka menemukan puncak dari rasa yang begitu dahsyat.
Bercak darah dan tetes keringat menjadi tanda penyatuan mereka.
__ADS_1
Nadia kini telah menjadi istri Encik Rafiq seutuhnya.
"I love you" bisik Encik Rafiq di telinga Nadia istrinya.