
Atas izin Encik Rafiq, Nadia kemudian membawa Mak berjalan berkeliling kota dan berbelanja sesuka hati di salah satu mall terbesar yang ada di kota.
Mak tampak begitu senang dan bahagia.
Setelah puas berbelanja dan makan-makan, Nadia kemudian membawa Mak kesalah satu toko yang menjual makanan-makanan khas melayu untuk dibawa pulang ke kampung sebagai oleh-oleh untuk warga di kampung.
Sangking asik nya, Nadia dan Mak lupa akan waktu yang sudah semakin sore.
Mereka pulang kerumah tepat pukul 16.55 Wib. Nyaris jam lima sore.
Sesampainya dirumah, Nadia segera menelepon Encik Rafiq suaminya.
"Assalamualaikum sayang.." terdengar ucapan salam dari Encik Rafiq yang mengangkat telepon Nadia.
"Waalaikumsalam By.." jawab Nadia dengan bahagia.
"Kenapa sayang?" tanya Encik Rafiq lagi.
"By.. malam ini pulang lebih awal ya.." jawab Nadia penuh semangat.
"Kenapa?" tanya Encik Rafiq bingung.
"Ada deh... Surprise pokok nya.. Diah tunggu dirumah ya..!" jawab Nadia lagi lalu segera menutup telepon nya, membuat Encik Rafiq merasa bingung dan penasaran.
__ADS_1
Encik Rafiq bergegas menyelesaikan pekerjaan nya dan tidak sabar untuk pulang ke apartemen.
"Fik... kamu udah mau pulang?" tanya Zizi menghetikan langkah Encik Rafiq keluar kantor.
"Yup.." jawab Encik Rafiq lagi.
"Aku ikut ya.. Pulang kerumah kan?" tanya Zizi
"Maaf.. Aku akan ke tempat Nadia" jawab Encik Rafiq pelan.
"Boleh antar Aku pulang kerumah dulu? Tadi Aku ke kantor tidak bawa mobil, cuma di antar Bang Sugi" Ujar Zizi meminta.
Encik Rafiq tak punya pilihan, iya mempersilahkan Zizi masuk kedalam mobil dan akan mengantarnya pulang kerumah sebelum iya pulang ke apartemen.
"Kamu kenapa?" tanya Encik Rafiq ketika melihat kelakuan Zizi yang tidak bisa duduk tenang di dalam mobil.
"Aku sedang haid. Jadi perutku terasa sangat sakit" jawab Zizi lagi masih meringis.
Encik Rafiq yang sangat memahami Zizi, sangat mengerti keadaan Zizi sekarang.
Zizi memang selalu mengalami kram perut ketika sedang haid.
Seperti sekarang ini.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Encik Rafiq segera membopong Zizi kedalam kamar.
Iya tidak tega melihat keadaan Zizi yang kesakitan.
Mak Tua datang dari arah dapur membawakan obat dan air hangat untuk Zizi.
Encik Rafiq duduk di tepi ranjang sambil memijit pelan bagian punggung Zizi yang terasa sakit.
"Fik... Sejak kepulanganku kerumah ini, tidak sekalipun kamu pernah tidur di rumah. Kamu hanya pulang untuk sekedar berganti pakaian. Fik.. Please malam ini tidurlah disini. Aku butuh kamu Fik.." ucap Zizi memohon dan meminta.
"Maaf Zi.. Tapi Aku.." jawab Encik Rafiq yang terputus oleh ciuman Zizi yang tiba-tiba mendarat di bibir nya.
Encik Rafiq terdiam.
"Setidaknya sampai Aku benar-benar tertidur.. Please.. Setelah itu pergilah.." Ujar Zizi lagi setelah iya melepaskan ciuman mendadak nya.
Encik Rafiq terpaksa menuruti permintaan Zizi.
Dengan lembut di pijat nya punggung zizi agar kram di perutnya segera hilang dan Zizi lekas tertidur sehingga iya dapat secepatnya pulang ke apartemen.
Encik Rafiq kemudian mengirim pesan singkat yang memberitahu Nadia kalau iya akan pulang sedikit terlambat karena ada urusan mendadak.
Bekerja seharian di kantor sangat menguras tenaga dan fikiran Encik Rafiq.
__ADS_1
Sehingga tanpa iya sadari dirinya tetidur pulas di samping Zizi dengan posisi tangan kanan nya memeluk erat punggung Zizi yang tertidur telungkup dengan wajah dipalingkan menghadap Encik Rafiq suaminya.