Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 22. Bahagia


__ADS_3

Nadia segera mandi membersihkan tubuhnya dan mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kampus.


Sementara Tuan Muda juga telah kembali ke dalam kamarnya membersihakan diri dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Pagi Mak Tua.." sapa Nadia sambil mencium pipi perempuan yang sudah dianggap seperti ibu kandung nya sendiri.


"Pagi sayang.. Kata Sari, Diah tak sehat.. Sudah minum obat?" tanya nya pada Nadia.


"Cuma sakit kepala Mak.. Tadi setelah shalat subuh Diah minum obat terus lanjut tidur.. makanya jadi kesiangan. Maaf ya Mak.." jawab Nadia berbohong.


Mak Tua cuma mengangguk dan tersenyum.


"Ini sarapan untuk suami bawa kedepan..." Goda Mak Tua sambil tertawa.


"Suami konon...!!" ucap Nadia terkekeh pula.


Bik Sari yang mendengar pun ikut tertawa.


Mereka tertawa bersama.


"Ehmm...." terdengar suara Pak Cik terbatuk pelan dari arah meja makan.


Nadia, Mak Tua dan Bik Sari langsung terdiam dan berhenti tertawa.


Lalu kemudian Nadia bergegas keluar membawakan sarapan untuk Tuan Muda yang kini telah menjadi suami nya.


"Pak Cik kenapa?? Ada yang aneh ?" tanya Nadia yang merasa agak risih karena terus di tatap oleh Encik Rafiq.


Encik Rafiq menggeleng dan tersenyum.


"Kamu cantik sekali hari ini" Gombalnya.


"Emang udah cantik dari dulu.. Cuma Pak Cik je tak pernah sadar.. Tak Pernah perhatikan.. Jadi Pak Cik itu mesti bersyukur karena dapat istri Diah.." jawab Nadia nyengir dengan logat melayu nya.

__ADS_1


"Hhaha.. " encik Rafiq tertawa mendengar jawaban lucu Nadia.


"I Love You" ucap nya sambil mencubit hidung Bangir Nadia yang duduk di kursi sebelahnya.


"Aauuhh.." ucap Nadia kesakitan sambil memegang hidung nya yang memerah.


Mak Tua yang mendengar Nadia kesakitan berlari mendekat dari arah dapur.


"Ape hal?" tanya Mak Tua dengan cemas.


"Takdelah Mak Tua.." jawab Encik Rafiq sambil menahan tawa.


Mak Tua yang sudah berpengalaman pun mengerti melihat tingkah Encik Rafiq dan Nadia.


"Semoga Cinta kalian semakin tumbuh seiring waktu.. Semoga kalian berbahagia.." ujar Mak Tua dalam hati sambil tersenyum lalu kembali kedapur.


Setelah berpamitan, Nadia dan Encik Rafiq berangkat bersama.


Sepanjang Jalan Nadia terus berdendang ria menyanyikan lagu-lagu romantis bernada cinta.


Sementara jari kanan nya tetap fokus memegang stir mobil.


Sesekali diangkatnya tangan Nadia lalu dikecupnya pelan.


Nadia hanya tersenyum menikmati kemesraan dari sang suami.


"Terimakasih sudah antar.." ucap Diah sembari menyalami suaminya.


Encik Rafiq mengangguk pelan dan tersenyum.


Dibelainya lembut pipi sang istri, lalu mencium kening nya pelan.


Nadia turun dari mobil dan berjalan pelan menuju lapangan tempat diadakan nya ospek.

__ADS_1


"Hai Nadia.. Selamat pagi.. Syukurlah hari ini datang lebih awal ya.. Jadi tidak terlambat lagi.." Sapa seorang senior yang berlagak sok akrab pada Nadia.


"Pagi Kak Ridwan.." Jawab Nadia seadanya.


"Diantar siapa tadi??" tanya Lelaki itu lagi pada Nadia.


Nadia mulai merasa risih.


"Di antar Pak Cik, Kak. Diah duluan ya.. Permisi.." jawab Nadia lagi lalu berlari kecil kearah Lisa yang sudah berbaris diantara teman-teman nya yang lain.


"Ciee.. Barengan sama kak Ridwan ya?" olok Lisa yang melihat Nadia berjalan beriringan dengan Kak Ridwan barusan.


"Cuma kebetulan aja tadi" jawab Nadia dengan malas.


Kegiatan ospek di hari kedua ini berjalan lancar. Nadia sudah semakin akrab dengan teman-teman nya satu jurusan.


Nadia begitu bahagia dan merasa sangat bersyukur.


Setelah selesai ospek, Nadia langsung menuju rumah sakit menggunakan jasa ojek online.


Dirumah sakit Datuk Iskandar sudah menunggu Nadia untuk bercerita banyak hal dan menghibur dirinya yang sudah sangat bosan berada dirumah sakit terus.


"Kawan Nadia satu jurusan total nya ada 45 orang Tuk. 20 orang lelaki dan 25 orang perempuan termasuk Diah. Kawan-kawan baik semua sama Diah. Yang paling akrab cuma sama Lisa aja sih.. Tapi yang lain juga baik" cerita Nadia pada Datuk Iskandar.


Tak lama kemudian Tuan Muda pun tiba dirumah sakit, Memberi salam dan mencium tangan Tuan Besar Papa nya. Lalu mengecup kilat ubun-ubun Nadia yang sedang duduk di bangku sebelah kiri disisi Tuan Besar.


Nadia kaget bukan kepalang.


Datuk Iskandar tersenyum bahagia melihat nya.


Nadia terdiam tersipu malu.


"Semoga kalian bahagia.." ujar nya pada Nadia dan Encik Rafiq.

__ADS_1


"Aamiin.." jawab Encik Rafiq membalas senyuman Datuk Iskandar.


__ADS_2