
Nadia terbangun dari tidur nya ketika azan subuh berkumandang.
Dia tertidur dalam tangis nya.
mata nya terasa sangat perih dan bengkak.
Dia terlalu banyak menangis semalam.
Perlahan Nadia berjalan kearah toilet untuk membersihkan diri dan bersiap mengerjakan shalat subuh.
Selesai shalat, Nadia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.
Tenggorokan nya terasa sangat kering.
Mata Nadia kemudian tertuju pada Encik Rafiq sang suami yang ternyata tidur di sofa ruang tamu.
Sejujurnya perasaan iba tiba-tiba hadir di benak Nadia ketika melihat Encik Rafiq yang tertidur meringkik kedinginan tanpa bantal dan selimut.
Bahkan iya tidak mengganti pakaian kerja nya.
Wajah nya terlihat sangat lusuh dan lelah.
Ingin sekali Nadia mengelus wajah lelaki yang begitu iya cintai.
Tapi kekecewaan nya membuatnya mengurungkan niat.
Lalu Nadia kembali kedalam kamar.
Membaringkan tubuh nya kembali menghadap kearah tembok.
__ADS_1
Tidak berselang lama terdengar langkah Encik Rafiq menuju kamar mandi.
"Ueeekk.. Ueekk.." Encik Rafiq muntah mengeluarkan semua isi perut nya.
"Sepertinya Aku masuk angin" ucap nya dalam hati lalu membersihkan tubuh nya dan segera mengerjakan shalat subuh.
Belum selesai berdoa, Encik Rafiq kembali merasakan mual yang luar biasa.
Setengah berlari iya menuju arah toilet dan kembali memuntahkan semua sisa-sisa isi perutnya.
Tubuhnya terasa amat lemas.
Nadia yang tidak tega segera bangkit dan membawakan nya segelas air hangat.
Encik Rafiq kembali muntah ketika Nadia memijit tengkuk nya menggunakan minyak telon.
Nadiapun meninggalkan nya sendirian di kamar mandi.
Encik Rafiq segera mencuci tengkuk nya yang dilumuri minyak telon.
"Bau nya sangat menyengat.. Sebaiknya Aku mandi saja.." ujar Encik Rafiq lalu segera mandi.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, Encik Rafiq keluar kamar mencari Nadia istrinya.
Senyum Encik Rafiq mengembang ketika mendapati sang istri sedang mempersiapkan sarapan pagi untuknya.
Inilah yang paling iya sukai pada Nadia istrinya. Semarah apapun, iya tidak pernah meninggalkan kewajiban nya sebagai istri yang melayani sang suami.
Nadia begitu dewasa dalam bersikap.
__ADS_1
Seperti pagi ini, sekalipun iya marah dan kecewa, namun iya tetap mempersiapkan sarapan kesukaan Encik Rafiq sang suami.
Encik Rafiq duduk di kursi, dan mulai menikmati roti tawar yang telah di beri mentega dan taburan gula diatas nya.
Lalu iya meraih whitecofee milik Nadia dan meminum nya.
"Mulai besok Abang minum nya yang ini aja ya.. Abang suka aroma nya.. Wangi" ujar nya menghirup aroma whitecofee milik Nadia yang sudah menjadi milik nya.
Nadia hanya diam dan agak heran melihat tingkah aneh sang suami.
"Sayang.. Please.. Abang minta maaf.. Beri Abang waktu sampai Proyek ini selesai.. Abang janji akan memperbaiki semua nya.. I love you... So much.. " ujar Encik Rafiq memegang erat tangan sang istri, mencoba meyakinkannya.
Sekali lagi Nadia hanya diam tidak memberi jawaban.
Sesampainya di kantor, Encik Rafiq kembali memuntahkan semua sarapan pagi nya.
"Kamu sakit Fik?" tanya Zizi agak khawatir.
"Mungkin masuk angin saja" jawab Encik Rafiq singkat.
Iya kemudian meminta Meri sekertaris nya untuk membelikan nya segelas whitecofee hangat dan sebungkus rujak kemang.
Zizi dan Sahrul keheranan.
"Sejak kapan kamu suka minum whitecofee?" tanya Zizi.
"Sejak mengenal Nadia.." jawab Encik Rafiq menyakitkan hati Zizi yang mendengarnya.
"Wanita itu lagi.. Apa Dia sekarang lagi hamil?" tanya nya dalam hati curiga ketika melihat tingkah Encik Rafiq layaknya seorang lelaki yang sedang mengalami masa ngidam kafena sang istri yang lagi hamil muda.
__ADS_1