Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 62. Terpuruk


__ADS_3

Nadia masih tidak percaya atas semua yang baru saja terjadi pada nya dan Encik Rafiq.


Encik Rafiq benar-benar telah menceraikan nya.


"Dirumah sakit ini lah kami memulai nya.. Dan disini pula lah kami mengakhirinya.. Dia benar-benar telah menceraikan ku!!" ujar Nadia masih menangis terduduk di anak tangga.


"By.....!!!!!" teriak nya tertahan memanggil Encik Rafiq suaminya.


Hati nya benar-benar hancur.


Nadia memeluk erat perut nya.


Lama iya menangis tanpa menghiraukan beberapa orang lewat yang memperhatikan nya sedang menangis terisak.


Tidak satupun dari mereka yang menegur Nadia.


Mungkin mereka berfikir Nadia adalah salah satu keluarga pasien yang meninggal di rumah sakit.


Hal yang sangat lumrah terjadi di rumah sakit ketika ada orang menangis karena keluarga nya meninggal dirumah sakit ini.


Setelah lelah menangis, Nadia melangkahkan kaki nya gontai menuju loby rumah sakit.


Nadia linglung tidak tau harus kemana.


Perasaan nya benar-benar hancur.

__ADS_1


Nadia pulang menuju rumah Mak Ipah.


"Assalamualaikum.." ucap Nadia memberi salam pada Mak Ipah yang sedang mengangkat pakaian yang sudah kering di jemuran.


"Waalaikumsalam.. Diah dah balek..??!" ucap Mak Ipah menyambut salam Nadia sambil tersenyum.


Lalu senyuman nya lenyap ketika melihat wajah sedih Nadia yang tampak begitu terpuruk.


"Diah.. Kenapa nak?" tanya Mak Ipah sembari memengang salah satu lengan bagian atas Nadia.


Nadia memeluk Mak Ipah dengan erat.


Meluahkan kepedihan nya dalam pelukan hangat Mak Ipah.


Mak Ipah mengelus punggung Nadia yang bergetar hebat.


"Astagfirullah... "Jawab Mak Ipah yang sudah tidak tau harus berbicara apa lagi.


Mak Ipah terus mengeratkan pelukan nya pada Nadia yang terus saja terisak.


"Diah yang kuat ya...!!" ujar Mak Ipah singkat dan masih terus mengusap punggung Nadia.


Setelah agak tenang, Mak Ipah melepaskan pelukan Nadia lalu mengabilkan nya segelas air putih untuk Nadia minum.


"Ayo Mak Ipah antar kedalam kamar. Diah istirahat dulu ya.." Ajak Mak Ipah dengan perasaan risau melihat wajah pucat Nadia.

__ADS_1


Nadia hanya diam tidak bersuara tapi tetap menuruti perintah Mak Ipah untuk beristirahat di dalam kamar.


Nadia membaringkan tubuh nya yang terasa amat lemas tidak berdaya. Lalu memejamkan mata nya yang panas dan bengkak akibat menangis.


Nadia berharap dapat segera tertidur agar bisa melepaskan sejenak kepedihan yang di rasanya saat ini.


Mak Ipah keluar dari kamar setelah mengantar Nadia berbaring di atas tempat tidur untuk beristirahat.


Mak Ipah duduk di sebuah kursi jati yang sudah sedikit usang yang berada di ruang tamu nya.


Mak Ipah dengan ragu memencet nomor HP Emak Nadia yang tertera di layar HP nya.


"Assalamualaikum.. Ipah.. Apa kabar? Diah dah sampai di rumah Ipah?" jawab Emak Nadia dari seberang telepon.


" Waalaikumsalam.. Diah dah sampai.. Baru je.. Tati sibuk ke? Tati datang kesini boleh? Ipah risau dengan Diah.." cerita Mak Ipah pada Emak Nadia.


"Diah kenapa? Sakit?" tanya Mak pula dengan cemas.


"Entahlah.. Mungkin lebih baik Tati datang jelah ke mari.. Oke?" tanya Mak Ipah lagi pada Mak Nadia.


"Baiklah.. kalau begitu saya coba cari travel yang berangkat malam ni ye. Kaau masih ada, Saya berangkat malam ni juga.. Tapi kalau tak ada Saya berangkat besok pagi ya.." jawab Mak lagi pada Mak Ipah.


"Takpelah.. Saya tunggu ya" jawab Mak Ipah lagi menutup telepon nya.


Setelah itu Mak Ipah kembali masuk kedalam kamar melihat Nadia yang sudah tertidur diantara tangis nya.

__ADS_1


Mak Ipah merasa sedih dan tidak tega melihat wajah Nadia yang begitu terluka dan terpuruk.


" Diah yang kuat ya nak.." ucap nya pelan sambil mengelus rambut lurus Nadia.


__ADS_2