Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 66. Pertemuan Tidak Sengaja


__ADS_3

Tiga hari sudah Mak berada di Kampung Nelayan, rumah Mak Ipah saudara sepupunya.


Keadaan Nadiapun kini sedikit membaik dari sebelumnya.


Dan Akhirnya hari ini, Nadia memutuskan untuk ikut Mak pulang ke kampung halaman mereka setelah mempertimbangkan banyak hal termasuk tentang gosip miring yang beredar di Kampung Nelayan ini terkait dirinya.


Dengan berat hati Mak Ipah memeluk Nadia dengan sedih sebelum Nadia berangkat meninggalkannya.


"Hati-hati di jalan ya Nak.. Jaga diri.. jaga kesehatan.. yang paling penting jaga kandunganmu..Tak usah risaukan omongan orang.. yang terpenting adalah kamu dan bayi yang kamu kandung sehat.. Omongan orang luar jangan di dengarkan. Karena sebaik apapun kita jika mereka membenci kita maka tidak sedikitpun mereka perduli, begitu pula sebaliknya seburuk apapun kita jika mereka menyayangi kita maka mereka tak butuh penjelasan apapun terkait baik buruknya diri kita.. Apapun yang terjadi pada Diah sekarang ini semua adalah suratan takdir yang harus Diah jalani.. Perbanyak berdoa, Insyaallah semua akan indah pada waktu nya" Nasehat Mak Ipah memberi semangat pada Nadia.


"Makasih Mak... Makasih untuk semua nya.. Kebaikan Mak Ipah tak akan pernah dapat Diah balas.. Semoga Mak sehat selalu ya Mak" ucap Nadia melepas pelukan Mak Ipah dengan sedih.


"Aamiin" jawab mereka pula bersamaan.


Setelah berpamitan, Nadia dan Mak berangkat meninggalkan Kampung Nelayan menuju kota.


Untuk pulang ke kampung halaman Nadia, Mereka memang harus melewati pusat kota terlebih dahulu. Setelah perjalanan dua kali naik angkot dan di lanjutkan dengan Bus, Barulah mereka tiba di pusat kota.


Dan mereka masih harus memesan jasa travel untuk mengantar mereka pulang ke kampung halaman.


"Mak Diah sudah pesan travel yang berangkat jam 5 sore, jadi kita masih sempat untuk pergi kerumah sakit dulu untuk cek kandungan Diah.. Tak apa kan Mak? Mak masih kuat tak?" tanya Nadia pada Mak nya.

__ADS_1


"Baguslah kalau macam tu. Biar kita pergi cek dulu kesehatan kandungan kamu. Jadi kita pulang kampung pun lebih tenang" jawab Mak pula pada Nadia.


Merekapun kemudian langsung menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Nadia.


"Alhamdulillah.. Kandungan Ibu Nadia sudah menginjak usia 24 minggu. Kandungan nya sehat.. Cuma Kondisi Ibu Nadia aja yang sepertinya kurang sehat. Tekanan darah Ibu Nadia rendah, Jadi saya sarankan untuk banyak-banyak beristirahat dan jangan terlalu stres ya.." Ucap Dokter sembari memberikan resep obat untuk di tebus di bagian farmasi.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Nadia dan Mak pun menuju Farmasi yang berada di sudut bagian kiri dekat loby rumah sakit.


Dan betapa kaget nya Nadia ketika kembali ber pas-pas an dengan Encik Rafiq sang mantan suami.


Jarak mereka sekitar satu meter ketika mereka tanpa sengaja saling terdiam bertatap mata.


Encik Rafiq langsung salah tingkah ketika iya tersadar dari lamunan nya.


Encik Rafiq menyodorkan tangan nya ingin menjabat tangan mantan ibu mertua sebagai tanda hormatnya.


Tapi bukanlah sambutan jabat tangan yang iya terima, melainkan sebuah tamparan keras di pipi sebelah kirinya.


"Plaaakk" tamparan keras itu melukai sedikit sudut bibir Encik Rafiq.


Encik Rafiq kaget.

__ADS_1


Nadia pun kaget.


Begitu pula orang-orang yang berada di ruangan farmasi itu.


Encik Rafiq menundukkan kepalanya.


Dia membiarkan Mak memaki-maki dirinya.


Dia faham dan merasa memang pantas menerima perlakuan Mak pada dirinya.


"Dasar lelaki tidak bertanggung jawab..!!" ucap Mak terakhir kali sebelum berlalu meninggalkan Encik Rafiq bersama Nadia anaknya.


Nadia hanya menangis menahan pedih dan rasa malu.


Mak menarik lengan nya dengan cukup kuat untuk menjauh dari pandangan Encik Rafiq.


Encik Rafiq masih terpaku cukup lama.


menyesali semua yang terjadi dalam hidupnya.


Sedikit terlihat tetesan air mata tampak jelas di bawah pelupuk matanya yang segera iya seka agar tidak terlihat oleh orang lain.

__ADS_1


"Maafkan Rafiq Mak.." ujarnya dalam hati.


__ADS_2