Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 79. Berita Untuk Nadia


__ADS_3

"Ada apa Mak?? kenapa Mak dan semua tak nampak bahagia? Diah dah lahiran dengan selamat. Tapi muka Mak, Mak Tua dan Bik Sari juga Abang sugi tak nampak senang. Bayi Diah sehat kan? " tanya Nadia bingung.


"Alhamdulillah bayi Diah sehat Nak.. Sedang dalam perawatan intensif dulu karena lahirnya prematur" jawab Mak pelan.


"Lalu kenapa semua tampak sedih? " tanya Nadia lagi.


"Sebab kasihan lihat Diah yang berjuang sendiri tanpa di dampingin suami? Diah tak apa Mak.. Diah akan kuat demi bayi Diah.. Diah akan rawat anak Diah agar tumbuh sehat, pintar dan sholeh.. Menjadi anak kebanggaan meskipun tanpa kehadiran Bapaknya... " ujar Nadia dengan mata nanar.


Mak menggeleng kuat dan kembali memeluknya.


"Diah... Rafiq sakit.. " bisik Mak pelan.


"Maksud Mak? Pakcik sakit? Sakit apa?" tanya Nadia masih bingung.


Mak Kemudian menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi ketika Nadia belum sadarkan diri akibat obat biusnya.


Nadia menangis sejadi-jadi nya.


Dia begitu kaget mendengar kondisi Encik Rafiq saat ini.


"Diah nak pergi lihat Pakcik Mak.. " pinta nya di sela isak tangis.


"Tapi kondisi Diah masih sangat lemah Nak.. Diah mesti istirahat dulu.. Lagi pula Rafiq belum sadarkan diri.. Nanti jika iya sudah sadarkan diri barulah Diah pergi lihat ya.. " bujuk Mak pada Nadia.


Nadia menggeleng kuat.


"Diah Nak lihat kondisi Abang sekarang juga Mak..!!" ucapnya lagi memohon.


Bang Sugi akhirnya meminta bantuan perawat agar Nadia dapat menemui Encik Rafiq dengan bantuan kursi roda.

__ADS_1


Mak Tua, Mak Nadia dan Bik sari berjalan mengiringi Nadia yang duduk di kursi roda di dorong oleh Abang sugi menuju ruangan rawat Encik Rafiq.


Nadia menangis sesungukan ketika melihat Encik Rafiq yang tidak sadarkan diri tertidur di atas matras dengan alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya.


Perlahan Bang Sugi mendorong kursi roda Nadia mendekat kearah Encik Rafiq.


Nadia duduk terisak.


Diraih nya pelan tangan kanan Encik Rafiq yang tidak tertusuk jarum infus.


Diciumnya lama punggung tangan nya.


Nadia terus terisak.


Tangisan nya menyadarkan Encik Rafiq.


Perlahan Encik Rafiq membuka matanya dengan berat.


"By... " panggil Nadia pada Encik Rafiq.


Encik Rafiq cuma mampu menggerakkan mata nya memberi isyarat pada Nadia.


Nadia bangkit dari kursi roda nya.


Memeluk Encik Rafiq yang hanya bisa berbaring lemah tanpa bisa membalas pelukan Nadia sekalipun iya begitu ingin membalasnya.


Seluruh tubuh nya terasa kebas tak berdaya.


Bahkan tenggorokan nya terasa kering dan tercekik.

__ADS_1


Iya tidak mampu mengeluarkan suara sedkitpun.


Padahal iya ingin sekali.


Iya ingin meminta maaf pada Nadia.


"Maafkan Diah By...."Ucap Nadia di sela tangis nya.


Hanya tetesan air mata yang keluar di sudut mata Encik Rafiq.


Nadia menghapus nya pelan.


Mengusap wajah Encik Rafiq dengan penuh cinta.


Betapa merasa berdosa nya Nadia ketika mengingat kembali bagaiman perlakuan nya terhadap Encik Rafiq.


"Mengapa Diah begitu bodoh dan tidak peka sama sekali... Semesti nya Diah menyadari ada yang aneh atas sikap Abang sama Diah.. Semestinya Diah sadar ketika Abang menyerahkan semua warisan Abang pada Diah.. Diah minta Maaf.. Diah tidak peka sama sekali.. Diah tidak menyadari betapa Abang sebenarnya mencintai Diah dan baby kita.. Abang mesti sembuh ya..!! Diah dan baby butuh Abang..!! " ucap Nadia penih pilu.


Tidak ada jawaban selain tetesan air mata yang terus mengalir di sudut mata Encik Rafiq.


Nadia memeluknya lagi erat.


Seorang perawat dan seorsng dokter masuk kedalam ruangan.


Beliau meminta Nadia untuk kembali beristirahat agar Encik Rafiq pun dapat kembali beristirahat agar iya lekas pulih.


Nadia menuruti perintah sang dokter.


Dengan berat hati, iya membiarkan perawat membawa nya kembali ke kamar rawat untuk beristirahat.

__ADS_1


"Sembuhkan Pakcik Ya ALLAH" bisiknya dalam hati.


__ADS_2