
Zizi berlari ke dalam kamar lalu menjatuhkan semua barang Nadia yang berada di dalam kamar nya dari lantai atas.
"Pergi kamu pelakor... Berani nya kamu tidur di tempat tidurku..!!!!" teriaknya lagi dari arah kamar.
Nadia terus menangis dalam pelukan Encik Rafiq.
Semua terdiam tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan amarah Zizi yang meluap dahsyat.
"Mak Tua tolong bereskan pakaian Nadia" ujar Encik Rafiq pada Mak Tua yang berdiri terpaku.
"Ayo sayang.." ujar Encik Rafiq kemudian membawa Nadia kedalam mobil untuk meninggalkan rumah agar Nadia aman dari amukan Zizi yang tidak terkontrol lagi.
Nadia terus menangis sepanjang jalan.
Hinaan Zizi terhadap nya terus saja terbanyang di benak Nadia.
Mereka tiba di apartemen tanpa suara sedikitpun.
Nadia menangis sejadi-jadi nya didalam kamar mandi.
Encik Rafiq terpaku menatap jauh kearah luar bersandar pada dinding yang dingin di sudut balkon kamar.
"Apa yang harus Aku lakukan ya ALLAH!!" bisiknya lirih.
Keadaan terus saja membisu diantara Encik Rafiq dan Nadia hingga malam hari.
Nadia kemudian mencoba untuk tidur dengan posisi membelakangi sang suami.
Encik Rafiq berbaring kaku lalu sesekali melirik punggung sang istri dengan helaan nafas yang teramat berat.
__ADS_1
"Maaf..." ucap nya membuka suara.
Encik Rafiq tau kalau Nadia sebenar nya belum tidur.
Iya bahkan yakin kalau sekarang Nadia sedang menangis dalam diam di sebalik bantal yang dibaringinya.
"Sayang.. Please.. Abang minta maaf.. Maafkan Abang.. Abang janji akan menyelesaikan semua masalah ini.." bisik nya di telinga sang istri.
Nadia hanya diam tanpa suara sedikitpun.
Fikiran nya begitu kacau dan berkecamuk.
Nadia tidak tau harus berbuat apa.
Hinaan yang di lontarkan Zizi masih terus terngiang di ingatan nya.
Perlahan Nadiapun tertidur dalam tangisnya.
Tepat jam 03.25 wib, Nadia bangkit dari tidurnya.
Iya meluapkan semua kepedihan nya di atas sajadah yang terbentang dalam sepi nya malam yang panjang.
Nadia terus berfikir mencoba berdamai dengan akal sehat nya.
Meredakan amarah yang memuncak dalam butiran air mata yang tak terbendung.
"Kuatkan Aku ya ALLAH.. Berilah Aku petunjukmu.." bisik nya lirih.
Nadia kembali menangis terisak di atas sajadah yang terbentang di depan nya.
__ADS_1
Encik Rafiq terbangun dari tidurnya.
Terlihat oleh nya sang istri yang sedang mengadu pada sang pemilik kehidupan.
Iya bangun, berjalan pelan kearah nya.
"Sayang.... Abang minta maaf... Please.. Maafkan Abang.." ujar Encik Rafiq dengan suara serak menahan tangis.
Nadia memeluk erat tubuh sang suami yang bergetar hebat di depan nya.
Air mata mereka tak terbedung lagi.
"Abang janji... Abang akan selesaikan semua nya.. Please.. Percayalah.. Abang minta maaf..!!" ujar Encik Rafiq lagi pada sang istri.
Nadia luluh kemudian mengangguk kan kepalanya pelan.
Encik Rafiq menghujani nya dengan ciuman.
"I love you By.." bisik Nadia.
" I love you too sayang.." jawab Encik Rafiq yang kemudian membopong sang istri kembali ketempat peraduan mereka.
Dan malam yang sepi akhirnya menutup tangis mereka dengan cara yang indah.
"Ya ALLAH beri Aku kekuatan untuk menyelesaikan semua permasalah ini. Beri Aku petunjukmu.. Jangan biarkan masalah ini menjadi boomerang dalam rumahtanggaku ya ALLAH. Tolong Aku ya ALLAH.." bisik Encik Rafiq di dalam hati nya.
"I love you sayang.." ucap nya lagi sembari mengeratkan pelukan nya.
Mencoba memberi kehangatan dan menenangkan kegalauan sang istri tercinta.
__ADS_1