
"Dokter bilang besok sore Papa sudah boleh pulang" ucap Encik Rafiq sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah.." ucap Nadia dan Datuk Iskandar bersamaan.
"Waahh.. Selamat ya Tuk... Nadia ikut bahagia mendengar nya.." ucap Nadia sambil memegang tangan kanan Datuk Iskandar.
Datuk Iskandar tersenyum bahagia.
Ketika jam menunjukkan pukul 21.20 wib, Nadia telah tertidur pulas sekali.
Tampak raut lelah tersirat di wajah nya.
Datuk Iskandar bahkan masih terjaga waktu Nadia tertidur.
Kedatangan Bang Sugi yang mengantarkan paikaian ganti untuk nya pun tidak iya sadari sama sekali.
Encik Rafiq hanya tersenyum menyelimuti tubuh kecil sang istri yang terbaring meringkik menghadap tembok.
Lama Encik Rafiq terduduk di sofa sambil menatap layar tv yang tidak menyala.
Fikiran nya jauh menerawang.
Telepon dari Zizi tadi siang mengacaukan otak nya.
Membuatnya menjadi galau.
"Mungkin sebaiknya Aku menyusulnya ke Singapura untuk membicarakan perceraian secara baik dengan nya" bisik Encik Rafiq di dalam hati.
Encik Rafiq memijat pelan kepalanya yang terasa agak berat.
Dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Beberapa minggu terakhir ini Dia benar-benar melupakan Zizi dalam kehidupan nya.
Sosok Nadia memenuhi seluruh isi fikiran dan hati nya.
Tidak ada lagi tempat untuk Zizi kecuali rasa kasihan dan pershabatan yang memang mreka miliki sejak kecil.
Rafiq kembali terbayang masa-masa dulu ketika iya dan Zizi menikah.
Encik Rafiq waktu itu sempat berharap dan berjanji akan menjaga Zizi selamanya.
Tidak akan pernah meninggalkan nya apalagi menceraikan nya.
Encik Rafiq begitu mengagumi kecantikan Zizi.
Selalu berusaha memenuhi permintaan nya dengan harapan suatu saat nanti Zizi akan kembali padanya dan mau menerima cinta nya yang tulus.
Encik Rafiq di butakan oleh kecantikan Zizi waktu itu.
Mungkin waktu itu Encik Rafiq hanya mengagumi, bukan cinta.
Sehingga kehadiran Nadia kini memberi semangat baru untuk hidup Encik Rafiq.
Jika dibandingkan tentu saja Nadia kalah jauh dari Zizi yang hampir sempurna.
Tubuhnya yang tinggi semampai dengan rambut ikal tebal dan bibir yang selalu merah, bahkan mata nya yang juga begitu indah dengan susunan alis yang tertata rapih membuatnya selalu terlihat tampil seksi.
Seorang wanita yang begitu modis dan berkelas serta cerdas.
Sementara Nadia hanyalah gadis muda yang berasal dari kampung dengan tubuh kecil dan rambut yang selalu tergerai lurus. Begitu polos dan sederhana.
Sangat manis sehingga membuat siapapun yang dekat dengan nya akan selalu merasa teduh dan tidak membosankan.
__ADS_1
Nadia jauh dari kata seksi.
"Astagfirullah.." ujar Encik Rafiq pelan sambil memijit diantara kedua alis nya.
"Hubby.. Kok masih disini? pekerjaan nya belum selesai?" tanya Nadia mengagetkan Encik Rafiq.
"Eehh.. udah kok.. baru saja selesai. Kenapa kamu bangun?" Encik Rafiq balik bertanya.
" Kebangun pengen pipis tadi. Tidur yuk.. " ajak Nadia menggandeng tangan Encik Rafiq menuju tempat tidur yang di sediakan rumah sakit untuk keluarga pasien yang menginap.
Nadia kemudian berbaring diatas dada bidang Encik Rafiq yang memeluk nya erat di balik selimut.
Wangi aroma rambut Nadia membuat Encik Rafiq betah melabuhkan ciuman nya berulang kali di ubun-ubun Nadia.
"I love you" bisiknya pada Nadia.
"I love you too" balas Nadia mendongakkan kepalanya menghadap wajah Encik Rafiq.
Lalu bibir mereka kembali saling sapa.
saling *****.
saling gigit.
Dan saling berbagi kehangatan.
Lama..
Kemudian terhenti ketika Datuk Iskandar yang sedang tidur terbatuk pelan mengagetkan mereka.
Merekapun akhirnya tertidur dengan posisi saling membelakangi.
__ADS_1