
"Pak Cik.. Besok Diah minta izin telat kerumah sakit ya.. Diah besok sudah mulai Ospek di kampus.. Ospek nya sampai jam 13.00 wib. Nanti pulang dari kampus Diah langsung kerumah sakit.." ujar Nadia meminta izin pada Tuan Muda ketika mereka sedang menikmati sarapan pagi.
" Ok.. Nanti minta diantar aja sama Sugi ya..!" jawab Tuan muda singkat.
"Makasih Pak Cik.." jawab Nadia senang.
Nadia kemudian bergegas menyelesaikan sarapan nya lalu berlari kecil menyusul Tuan Muda ke garasi mobil.
Sudah menjadi rutinitas Nadia setiap pagi berangkat kerumah sakit di antar oleh Encik Rafiq sebelum iya berangkat ke kantor nya.
Encik Rafiq yang dulu nya terlalu pendiam dan dingin seperti es kini sudah mulai mencair.
Nadia pun sudah tidak canggung lagi berbicara dengan nya.
Walaupun terkadang Dia masih sering mengesalkan ketika Nadia bertanya panjang lebar sementara Dia hanya menjawab sepatah kata saja, tapi bagi Nadia hal ini adalah suatu perkembangan yang cukup besar pada seorang lelaki yang begitu kaku seperti Encik Rafiq.
Nadia terus berdendang ria di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Suara nya yang cukup merdu membuat Encik Rafiq tidak pernah protes atas sikap nya itu.
Encik Rafiq tidak perlu menyalakan audio mobil nya ketika bersama Nadia.
Dia cukup senang dan terhibur mendengarkan Nadia bernyanyi sepanjang jalan.
Encik Rafiq berjalan menuju kamar mawar 501 untuk mengantar Nadia dan melihat kondisi Tuan besar Papa nya, sebelum kemudian pamit untuk berangkat kerja.
Setelah kepergian Encik Rafiq, Nadia bercerita banyak hal pada Datuk Iskandar yang sekarang sudah semakin membaik.
"Besok Diah sudah mulai kuliah Tuk.. Dalam 3 hari kedepan ada acara Ospek di kampus untuk menyambut mahaswa/i baru. Kami diwajibkan mengenakan pakaian hitam putih dengan rambut yang di kepang dua pakai pita berwarna merah dan tas yang terbuat dari kantong plastik yang di ikat dengan tali rafia. Pasti besok Diah jelek banget Tuk.." ujar Diah bercerita.
" Kalau perempuan cantik seperti kamu, pakai baju compang-camping pasti tetap akan terlihat cantik. Jadi besok itu pasti kamu terlihat imut dan menggemaskan. Jangan lupa selfie trus kirim ke Datuk ya.. Datuk mau lihat.." jawab Datuk Iskandar sambil tersenyum bahagia.
"Sip.. Pokok nya besok Datuk adalah orang pertama yang melihat keunikan Diah.." ujar Nadia lagi.
Lalu mereka tertawa bersama.
Nadia kemudian mengupaskan beberapa buah untuk Datuk Iskandar makan.
"Bagaimana hubungan mu dengan Rafiq?" tanya nya kemudian.
Nadia kaget dan terdiam mendengar pertanyaan Datuk Iskandar pada nya.
"Baik..." Jawab Nadia singkat sambil sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Datuk tau.. Tapi maksud Datuk apakah kalian sudah semakin dekat? sudah saling sayang atau paling tidak sudah tidur satu kamar?" tanya Datuk lagi penasaran.
"Uhhuukk" Nadia tersedak mendengar pertanyaan Datuk Iskandar.
Datuk Iskandar jadi semakin curiga dan menatap tajam kearah Nadia.
"Diah dan Pak Cik sudah semakin dekat. Pak Cik juga sudah tidak sekaku dulu lagi. Bukan kah itu cukup baik untuk perkembangan hubungan kami?" jaaab Nadia malu-malu.
"Kalau begini terus kapan Datuk dapat menimang cucu??" tanya nya lagi sambil tertawa.
Nadia cuma bisa diam mendengarkan ucapan Datuk Iskandar.
Encik Rafiq kembali ke rumah sakit tepat jam 8 malam, Tidak lama setelah kedatangan Thamrin yamg bertugas menjaga Datuk Iskandar malam hari.
"Boleh tolong mampir di swalayan sebntar? Diah nak beli beberapa persiapan ospek besok..." ujar Nadia meminta tolong pada Tuan Muda.
"Baiklah.. Tapi jangan lama, Saya tunggu di mobil saja.." jawab Tuan Muda kemudian.
Nadia pun memgangguk.
Tuan Muda kemudian memarkir mobil nya tepat di depan salah satu swalayan yang cukup besar dan masih buka.
Nadia keluar dari mobil dan bergegas untuk membeli beberapa perlengkapan yang di butuhkan untuk ospek besok.
Setelah selesai berbelanja. Nadia kembali bergegas menuju mobil.
"Dasar perempuan nakal.. !!!! ngapain kamu nabrak saya??? haaa??? hmm... minta di godain agaknya ni..." ujar salah satu pemuda itu menghentikam langkah Nadia menuju parkiran.
"Maaf Bang.. Saya tidak sengaja.. Saya buru-buru..!" jawab Nadia dan mencoba berjalan cepat meninggalkan mereka.
Dua lelaki itu malah mengikuti langkah Nadia sambil tertawa terbahak-bahak.
"Heii cantik.. tunggu kita.. kita bersenang-senang dulu yuk..!" ujarnya lagi membuat Nadia semakin takut.
Gubraaakkkkk!!!!!
Aaaaaaaa......
Nadia berteriak kaget ketika menabrak seseorang di depannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Encik Rafiq kemudian.
Rupanya Nadia menabrak tubuh Encik Rafiq suaminya yang menyusul dari parkiran mobil karena menunggu Nadia terlalu lama.
__ADS_1
"Pak Cik.. Diah takut.. ada dua orang tadi mengikuti Diah..!!" ujarnya refleks membenamkan wajahnya pada dada bidang Encik Rafiq.
Encik Rafiq pun refleks membalas nya dengan pelukan hangat lalu mengelus rambut Nadia untuk menenangkan nya.
"Waahh... setelah menabrak kita.. Dia malah asik pelukan sama lelaki lain..Dasar wanita ******..!!!" ujar kedua preman tadi sambil tertawa ketika melihat Nadia dalam pelukan Encik Rafiq.
Plaakkk....!!!!
Dua tamparan keras mendarat di pipi kedua preman tersebut hingga terlihat darah di ujung bibir mereka.
"Berani nya kalian mengganggu istri saya.. Lalu menghina nya sebagai wanita ******!!!!???!!! Akan saya laporkan kalian pada polisi..!!" ujar Encik Rafiq dengan penuh emosi.
"Maaf Pak.. Kami minta maaf..!!!" ujar preman itu kemudian berlarian menjauh dari Encik Rafiq dan Nadia.
"Dasar anak zaman sekarang... masih kecil sudah mabuk-mabukan, terus berlagak seperti preman.. mau jadi apa nanti..!! huh!" ujar encik Rafiq lagi masih dengan amarahnya.
Nadia berlari dan kembali memeluk Encik Rafiq sambil menangis dengan tubuh nya yang gemetar ketakutan.
Encik Rafik kemudian membimbing Nadia masuk kedalam mobil dan memberikan nya minum.
Sampai dirumah, suasana sangat sepi. Semua sepertinya sudah tidur.
Nadia berjalan beriringan dengan Encik Rafiq menuju kamar mereka di atas.
Tangan mereka saling bertautan.
Encik Rafiq menggenggam erat tangan Nadia istrinya.
"Masuk dan istirahatlah.. Kamu pasti sangat lelah.. Maafkan saya atas kejadian tadi. Tidak seharusnya saya biarkan kamu sendirian ke swalayan. Saya janji lain kali tidak akan pernah membiarkan mu pergi sendiri lagi.." ujar Encik Rafiq sambil tangan kirinya mengelus kepala Nadia lembut.
Sementara tangan kanan nya masih menggenggam erat tangan Nadia.
"Terimakasih Pak Cik.." jawab Nadia pelan sambil mengangguk dan tersenyum manis sekali.
"Selamat malam.." ujar Tuan Muda kemudian sambil mengecup lembut kening Nadia.
Lama..
Nadia kaget dan memejamkan matanya menikmati desiran gemuruh yang begitu bergejolak di dalam hatinya.
Begitupun Encik Rafiq.
Mereka kemudian saling tatap tanpa berbicara satu katapun.
__ADS_1
Lalu saling berbalas senyum.
"Selamat istirahat" ucap Encik Rafiq lagi sebelum meninggalkan Nadia yang masih terpaku di depan kamarnya.