
Sesampainya dirumah Nadia segera mandi membersihkan tubuhnya lalu mengenakan piyama panjang berwarna Pink polkadot.
"Kriingg.." Hp nya berdering.
'My Lovely Pakcik Husband' terlihat panggilan yang tertera di layar HP.
"Assalamualaikum Pak Cik" ujar Nadia mengangkat telepon.
"Waalaikumsalam sayang.. Sudah sampai rumah?" jawab Encik Rafiq pada Nadia.
Nadia tersenyum mendengar Encik Rafiq memanggilnya sayang.
"Sudah.. ini baru selesai mandi" jawab Nadia pula.
"I Miss you.. Seharusnya tidak saya biarkan kamu pulang tadi. Saya kesepian.. Papa sudah tidur.. sementara saya.. masih saja terjaga dan selalu terbayangkan dirimu" ucap Encik Rafiq dari seberang telepon.
"Miss you too.." jawab Nadia pelan dan malu-malu. Nyaris tak terdengan oleh Encik Rafiq.
"Selamat malam sayang... Mimpi indah.. I love you.. Sampai ketemu besok" ucap Encik Rafiq lagi menutup pembicaraan.
"Selamat malam.. " jawab Nadia pula menutup telepon.
"I love you too" ucap Nadia dalam hati dan tak terucap.
Nadia masih malu sekali untuk mengungkapkan perasaan nya secara terang-terangan.
Tidak lama setelah menerima telepon dari Encik Rafiq, Nadiapun tertidur sangat pulas.
Hari ini Nadia tutup dengan rasa syukur yang tak terkira atas cinta yang telah hadir diantara dirinya dan Encik Rafiq.
***
"Selamat Pagi Semua.. Sapa Nadia pada Mak Tua, Bik Sari, Pak Rital dan Bang Sugi yang sedang memulai sarapan nya.
"Pagi sayang.." jawab Mak Tua lalu membelai pipi Nadia pelan.
Mereka kemudian menikmati sarapan bersama-sama.
"Agaknya Tuan Muda sudah mulai jatuh cinta sama Diah Mak.." ujar Bang Sugi membuka cerita.
"Abang.. !! Tak baik bergosip pagi-pagi" jawab Nadia malu.
__ADS_1
Semua tertawa melihat Nadia mulai salah tingkah.
"Tau dari mana?" tanya Bik Sari penasaran.
"Dari gelagat nya lah.. Kemarin sewaktu Diah pamit, Tuan Muda mengelus lembut rambut Nadia sambil tersenyum manis sekali. Sweet deh pokok nya.." olok Bang Sugi memandang kearah Nadia.
Nadia tunduk semakin malu.
Semua tertawa mengolok Nadia.
"Baguslah.. Sudah suami istri pun.. Kalau kata orang, cinta bisa tumbuh karena terbiasa bersama.. Jadi kalaupun memang betul tentu saja hal itu wajar. Mak doakan semoga Diah dan Tuan Muda bahagia.. Aamiin" jawab Mak Tua pula.
"Aamiin.." ujar yang lain ikut mendoakan.
Lalu mereka tertawa bersama.
Nadia hanya tersenyum malu-malu.
Setelah sarapan dan pamit, Nadia segera berangkat ke kampus di antar oleh Bang Sugi.
Ini adalah hari terakhir ospek di kampus nya.
Sambil berdendang kecil, Nadia melangkah menuju Lapangan.
"Hai.. Suara kamu merdu sekali" Ucap Kak Ridwan memuji suara Nadia.
"Hai kak" jawab Nadia singkat dan menghentikan nyanyian nya.
"Kapan-kapan karaoke bareng yuk" ajaknya pada Nadia.
Nadia hanya tersenyum tanpa menjawab ajakan Kak Ridwan seniornya.
"Maaf kak Diah duluan ya.." ujar Nadia pamit lalu berteriak kearah Lisa yang berada tidak jauh dari nya.
Setelah ospek selesai. Hp Nadia berdering.
"Assalamualaikum.." ujar Nadia mengangkat telepon dari Encik Rafiq suaminya.
"Waalaikumsalam.. Sudah selesai ospek nya?" tanya Encik Rafiq dari seberang telepon.
"Baru saja selesai.." jawab Nadia riang.
__ADS_1
"Saya tunggu di parkiran ya.." ujar Encik Rafiq lagi sambil menutup telepon nya.
"Pak Cik di parkiran kampus? Jemput Diah?" tanya nya dalam hati lalu tersenyum bahagia.
Ketika sedang berlari kecil menuju parkiran, langkah Nadia terhenti oleh sapaan Kak Ridwan seniornya.
"Buru- buru banget Nadia.." ujar nya mengikuti langkah Nadia berjalan.
"Iya kak.. Udah di tunggu sama Pak Cik" jawab Nadia masih terus melangkah kan kakinya menuju parkiran.
" Mau dong di kenalkan sama Pakcik nya.." ujar Kak Ridwan berseloroh.
"Untuk apa?" Nadia balik bertanya.
"Untuk minta izin mau ajak ponakan nya jalan-jalan.." jawabnya sambil terkekeh.
"Ngawur.. Udah ah.. Diah duluan kak.. Bye.." ujar Nadia meninggalkan Kak Ridwan yang berdiri terpaku melihatnya menjauh.
"Semakin kamu jual mahal.. maka semakin Aku tertarik.." ujar Ridwan didalam hatinya.
Nadia segera masuk kedalam mobil Lamborgini Veneno berwarna putih milik Encik Rafiq.
"Siapa lelaki tadi?" tanya Encik Rafiq ketika Nadia sudah duduk dan memasang sabuk pengaman.
" Nama nya Kak Ridwan.. Senior Diah.. Kenapa? Pakcik cemburu?" tenya Nadia sedikit mengolok suaminya.
"Kalau saya cemburu tanda nya saya itu benar-benar takut kehilangan kamu.." jawab Encik Rafiq lagi dengan nada sedikit tinggi.
Terlihat jelas betapa iya cemburu melihat Nadia di hampiri oleh lelaki lain selain diri nya.
"Iya.. Diah ngerti... Maaf ya... Tenang aja, Diah gak bakal menanggapi nya kok. Diah juga agak risih karena Dia terlalu sok senior dan sok ganteng.. Padahalkan.. Suami Diah jauh lebih ganteng dari nya.!" Bujuk Diah sambil bermanja di pundak sebelah kiri Encik Rafiq.
Encik Rafiq yang mendengar ucapan Nadia tersenyum bahagia lalu mengecup lembut kening sang istri.
"Kenapa Pakcik jemput Diah?" tanya Nadia lagi pada suaminya.
"Tadi ada rapat di restoran yang tidak jauh dari sini. Jadi sekalian aja jemput kamu" jawab nya sembari tetap fokus menyetir.
Nadia hanya mengangguk dan tersenyum.
Lagi-lagi rambut lurus nya di acak dengan gemas oleh Encik Rafiq suaminya.
__ADS_1