
Nadia menjalani kuliah dengan perasaan yang tidak karuan.
Tiga hari sudah Encik Rafiq pergi ke Bintan Bersama Zizi istri pertama nya.
Namun tidak sekalipun Encik Rafiq memberi kabar pada Nadia.
Sebenar nya ini tidaklah kali pertama Encik Rafiq ke Bintan untuk keperluan pekerjaan.
Dulu juga demikian, dan memang selama Encik Rafiq di Bintan, Dia seperti nya terlalu sibuk sehingga tidak sempat memberi kabar pada Nadia.
Begitu pula keberangkatan nya kali ini.
Tiga hari sudah iya pergi tanpa memberi kabar sekalipun.
Perasaan Nadia tentu saja tidak menentu.
Mengingat kali ini Encik Rafiq pergi ke Bintan tidak sendirian seperti biasa nya, melaikan bersama Zizi sang istri pertama.
Setelah menyelesaikan kuliah, Nadia tidak langsung pulang ke apartemen.
Iya lebih memilih untuk berlama-lama di kampus bersama Lisa sahabat nya dari pada menyendiri di apartemen karena Mak pun telah kembali pulang ke kampung.
Merekapun duduk santai untuk makan siang di kantin kampus.
"Apa hubungan mu dengan suami baik-baik saja?" tanya Lisa pada Diah setelah selesai menikmati Mie ayam pesanan nya.
"Entahlah.." jawab Nadia singkat.
__ADS_1
"Sudah tiga hari Pakcik pergi ke Bintan dengan Istri pertama nya tanpa memberi kabar padaku sekalipun" cerita Nadia lagi.
"Di... Ada hal yang ingin Aku perlihatkan padamu..." ujar Lisa ragu-ragu.
Lalu kemudian Lisa memperlihatkan sebuah berita online yang meliput tentang proyek Bintan yang sedang dalam proses pengerjaan oleh perusahaan Belibis Group milik suami Nadia.
Terdapat beberapa foto yang memperlihatkan rencana pembangunan, para investor dan pemilik perusahaan Belibis.
Yang menyakitkan hati Nadia adalah ketika melihat Foto Encik Rafiq yang sedang memeluk mesra sang istri sembari mencium kening nya dengan mesra.
Terlihat sangat bahagia.
Mata Nadia nanar.
Genangan air mata yang mulai keluar dari pelupuk mata nya sekuat tenaga iya tahan.
Nadia berusaha untuk tegar.
Setelah menyelesaikan makan nya, Nadia berniat untuk pamit pulang pada Lisa.
"Kamu yakin gakpa Di??" tanya Lisa dengan risau.
Lisa sungguh menyesal telah memperlihatkan artikel online itu.
"Di... Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menambah kegalauan mu.. Aku hanya ingin kamu membuka mata. Kamu disini gelisah dan menangis memikirkan nya yang tidak memberi kabar padamu. Sementara Dia.. Sedang asik bermesraan bersama istri pertama nya. Di.. kamu masih muda.. Fikirkan masa depan mu.. Maaf kalau Aku terdengar lancang dan terlalu ikut campur urusan rumahtangga mu. Tapi Aku hanya ingin melihatmu kembali ceria dan bahagia. Tidak seperti sekarang ini..!!" ujar Lisa pada Nadia sahabat nya.
"Aku pulang dulu ya.." jawab Nadia tanpa menghiraukan ucapan Lisa.
__ADS_1
"Di... Sekali lagi Aku minta maaf" ucap Lisa lalu mengantarkan Nadia menuju parkiran kampus.
Nadia hanya membalasnya dengan sedikit senyuman pahit.
Setiba nya dirumah, Nadia menangis sejadi-jadi nya.
"Kejam sekali kamu By..!!!! Bahkan untuk sekedar memberi kabar sebentarpun kamu sudah tidak sudi lagi... Lalu kenapa kamu menggantungku seperti ini?? sampai kapan?? Aku memang tidak ada bandingan nya dengan Zizi. Dia begitu perfect untuk mu. Sementara Aku?? Hanyalah wanita kampung yang miskin!!" ujar Nadia di sela tangis nya.
Nadia terus menangis sepanjang hari hingga malam tiba.
Tubuhnya terasa sangat lemas.
Iya benar-benar tak bertenaga.
Bahkan untuk bangun duduk dari tidur nya saja iya merasa sangat lemah tak berdaya.
"Astagfirullah.. Ada apa denganku??" tanya Nadia pula dalam hatinya.
Perut nya terasa sakit sekali.
Kepala nya juga berdenyut kencang.
Segera dihubungi nya Mak Tua untuk meminta bantuan.
Belum selesai menutup telepon nya, Nadia jatuh pingsan tersungkur di bawah tempat tidurnya.
"Diah... Halo..??? Kamu baik-baik saja Nak?? tunggu ya. Mak segera kesana dengan Sugi..!! Hallo...???" tanya Mak masih dari seberang telepon.
__ADS_1
Tapi tidak ada jawaban lagi dari Nadia yang sudah tidak sadarkan diri.