
Encik Rafiq dan Nadia menghabiskan waktu bersama menginap di apartemen baru mereka.
Saling meluahkan rasa bahagia dengan begitu nyata di setiap sudut apartemen.
Tidak hanya di kamar tidur.
Dapur.
Kamar mandi.
Bahkan Ruang tamu yang begitu minimalis juga menjadi saksi bisu indahnya cinta yang sedang mekar diantara mereka.
Nadia berbaring malas dalam pelukan Encik Rafiq di atas sofa panjang sambil berpelukan mesra dan menonton berita gosip yang sedang tayang di televisi.
Jam di dinding menunjukkan pukul 07.04 pagi.
"Kriinggg..." Dering HP Encik Rafiq berbunyi.
"Assalamualaikum Mak Tua" jawab Encik Rafiq mengangkat telepon nya.
"Waalaikumsalam Tuan Muda.. Tolong segera ke rumah sakit ya.. Tuan Besar tadi mendadak pingsan... Sekarang sedang menuju rumah sakit di bawa Thamrin dan Sugi" ujar Mak Tua dengan suara yang begitu cemas dari seberang telepon.
__ADS_1
"Astagfirullah... Oke Mak Tua.. Saya dan Diah segera kerumah sakit ya.." jawab Encik Rafiq lalu menutup telepon.
"Kenapa By?" tanya Nadia
"Papa pingsan.. sedang dalam perjalanan kerumah sakit. Ayo kita kesana!!" jawab Encik Rafiq dengan wajah cemas.
Mereka kemudian bergegas berangkat menuju rumah sakit tempat Datuk Iskandar di rawat.
Dengan berlari-lari kecil Nadia dan Encik Rafiq kemudian menuju ruang ICCU (Intensive Cardiologi Care Unit), sebuah ruangan yang melayani perawatan pasien kritis dewasa yang mengalami gangguan pada jantung.
Tepat di depan ruangan, Nadia dan Encik Rafiq melihat Bang Thamrin dan Bang Sugi duduk terpaku, tertunduk dan terisak.
"Papa??" tanya Encik Rafiq dengan gemetar dan gugup.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun.." ucap Encik Rafiq yang sudah tidak bisa lagi menahan bendungan air mata nya.
Jasad Datuk Iskandar di makamkan tepat di samping makam sang istri tercinta.
Pemakaman di laksanakan jam 16.00 wib sore hari nya.
Nadia mendekat. Memeluk erat tubuh sang suami yang bergetar menahan tangis.
__ADS_1
Mereka saling menguatkan diantara tetesan pilu mengantarkan jenazah Datuk Iskandar ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Selamat jalan Pa.. Selamat berkumpul kembali dengan Mama.. Semoga ALLAH mengampuni semua dosa-dosa Papa. Rafiq sayang Papa.." ujar Encik Rafiq pelan diantara tangisan nya.
"Datuk... Selamat jalan.. Maafkan semua kesalah Diah ya Tuk.. Terimakasih sudah menyayangi Diah dengan tulus. Insyaallah Datuk kini sudah bahagia di sisi ALLAH. Sudah tidak merasakan sakit lagi. Diah sayang Datuk..!!" ucap Nadia pula juga dengan isak tangis nya.
Duka kehilangan Datuk Iskandar masih terus terasa sampai dengan pengajian tiga hari meninggalnya almarhum.
Tepat sehari setelah pengajian, Zizi datang menemui Encik Rafiq yang sedang termenung di meja kerja nya.
"Assalamualaikum Fiq.." ucapnya mengagetkan Encik Rafiq.
"Zi....!!?!" jawab Encik Rafiq tidak percaya dengan kehadiran Zizi yang berdiri tepat di depan meja kerja nya.
"Maafkan Aku Fiq.." ujar nya dengan terisak.
Encik Rafiq hanya diam kaku memandang lekat kearah Zizi.
"Aku baru dengar kabar meninggal Papa kemarin sore..Maaf.. " ujar nya lagi dengan suara serak.
Encik Rafiq menggeleng.
__ADS_1
Wajah nya memerah menahan amarah.
"Buat apa meminta maaf?? Sudah tidak ada guna nya lagi.. Kemana kamu selama ini? menghilang seperti di telan bumi. Memberi kabar sesuka hati kamu. Datang dan pergi seenak kamu. Pergilah..!!!" ucap Encik Rafiq kemudian meninggalkan Zizi yang terisak sendirian.