
Encik Rafiq berhasil memiliki semua yang Nadia miliki.
Setelah selesai, Nadia bangkit membersihkan tubuhnya.
Lalu mengenakan kembali piyama nya.
Mata nya tidak mengantuk sama sekali.
Disingkapnya sedikit tirai jendela kamar.
Tampak olehnya bulan yang begitu terang.
Perasaan nya tidak menentu.
Antara bahagia dan takut menyatu dalam fikiran nya.
Encik Rafiq yang baru keluar dari kamar mandi, juga segera mengenakan kembali pakaian nya.
Lalu mendekati Nadia yang berdiri memandang keluar arah jendela.
"Kamu kenapa? Apa kamu menyesal?" tanya Encik Rafiq sambil memeluk Nadia dari belakang.
Nadia menggeleng pelan dan kembali diam.
"Apa permainan tadi kasar? Kamu masih sakit?" tanya nya lagi sambil mengecup ubun-ubun Nadia.
"Tidak.. tidak kasar sama sekali... Diah sangat bahagia meskipun masih sedikit sakit" jawab Nadia memandang kearah Encik Rafiq.
"Lalu apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya nya lagi sembari menyelipkan anak rambut Nadia di balik telinga nya.
"Entahlah... ini semua first time bagi Diah Pak Cik.. Bahkan ciuman itu.. itu adalah ciuman pertama Diah. Diah telah memberikan segalanya pada Pak Cik.. Sejujurnya Diah takut.." jawab Nadia lagi dengan wajah lesu.
Encik Rafiq terus membelai rambut lurus Nadia.
Dia bahagia mendengar ucapan Nadia.
Dia merasa begitu bangga karena menjadi orang pertama untuk Nadia.
Encik Rafiq kembali mengelus pipi Nadia dengan lembut.
meraih jemari Nadia dan kembali di cium nya.
"Saya mengerti ketakutan dan ke khawatiran mu.. Tapi percayalah.. Saya janji akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk mu.." ujar nya lalu kembali mengecup kening istrinya.
"Percayalah.." bisiknya lagi pelan.
Nadia mengangguk, tersenyum dan membenamkan wajahnya kedalam pelukan Encik Rafiq.
Encik Rafiq kemudian menutup jendela dan tirainya.
Membimbing Nadia menuju tempat tidur.
__ADS_1
Memeluk tubuhnya yang ringkih dibalik selimut.
"Selamat malam.. Selamat tidur istriku" ucapnya berbisik.
Nadia tersenyum bahagia mendengar nya.
"Selamat malam suamiku" jawab nya pula malu-malu.
Encik Rafiq terkekeh mendengar nya.
Nadia juga begitu.
Mereka tertawa bersama.
Merasa geli mendengar ucapan yang barusan mereka katakan.
Lama mereka saling tertawa.
Saling tatap.
Dan akhirnya tertidur dalam posisi paling nyaman.
Saling berpelukan.
Nadia terbangun ketika azan subuh berkumandang.
Dibangunkan nya Encik Rafiq.
Mereka kemudian shalat subuh berjamaah.
Lalu meraihnya kedalam pelukan nya.
Kembali di bopong nya tubuh mungil sang istri ketempat tidur.
"Masih sakit" tanya nya pelan ditelinga Nadia.
Nadia menggeleng dan tersenyum.
Encik Rafiq kemudian mengunci tubuh Nadia yang berada di bawah nya.
Menghujaninya dengan ciuman menggelitik.
Nadia menggelinjang menahan geli.
Lagi..
Mereka kembali menikmati surga bersama-sama.
Saling meluahkan rasa yang tak mampu terucapkan.
Mencapai puncak kenikmatan yang tak terlukiskan.
__ADS_1
Memciptakan peluh di balik selimut pada pagi buta.
"I Love You" bisik Encik Rafiq lagi dengan perasaan begitu bahagia.
Dan mereka kembali tertidur pulas setelahnya.
"Tok..tok..tok.." terdengar suara ketukan pintu diluar kamar.
Nadia dan Encik Rafiq terbangun.
"Astsgfirullah... Diah kesiangan Pak Cik.." bisik Nadia ketika melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 07.05 Wib.
"Diahh.... " terdengar suara Bik Sari dari luar kamar.
"Ya Bik...Sebentar" jawab Nadia.
Lalu bergegas bangkit dan mengenakan piyama nya yang berceceran di lantai.
"Apa perlu saya saja yang membuka pintu nya?" tanya Encik Rafiq menggoda.
"Jangan.. Nanti ketahuan.." jawab Nadia melarang.
"Memang nya kenapa kalau ketahuan? Bukan kah kita memang suami istri.? kenapa mesti takut?" ujar Encik Rafiq lagi.
"Bukan nya takut.. Cuma Diah belum siap untuk jujur pada mereka" jawab Nadia lalu bergegas keluar dari kamar.
"Kamu sakit ya? Mak Tua tadi suruh Bik Sari melihat kamu di kamar.. Soalnya tumben sudah jam segini belum juga turun.." ujar Bik Sari pada Nadia.
"Maaf Bik.. Diah kesiangan. Tadi selesai shalat kepala Diah agak pusing jadi Diah kembali tidur" jawab Nadia berbohong.
"Yaudah kalau gitu Bik Sari turun ya.. " Ujar nya lagi pada Nadia.
"Oke Bik.. Makasih ya.. Diah mandi dulu abis itu segera turun kebawah.." jawab Nadia lagi.
"Segera.. jangan sampai keburu Tuan Muda turun lebih dulu dari pada kamu.. Nanti kena marah..!!" Ucap Bik Sari lagi.
Nadia mengangguk tersenyum lalu kembali kedalam kamar dan segera menutup pintu nya.
"Astagfirullah.." Ucapnya kaget ketika menabrak Encik Rafiq yang ternyata berada di belakang pintu kamar.
"Pak Cik...!!!" Ujar Nadia setengah berteriak.
Encik Rafiq tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Nadia yang kaget.
"Cepatlah berkemas.. Sebelum Tuan Muda turun lebih dulu.. Kalau tidak nanti Dia akan marah dan menghukum mu..!!" Olok Encik Rafiq pada istrinya.
"Memang nya Tuan Muda berani menghukum Diah?? Diah jadi penasaran hukuman apa yang akan Diah terima.." balas Nadia menantang.
"Kamu ya... Gadis kecil nakal.. Tuan Muda tidak akan mengampunimu. Dia akan mengikatmu di tempat tidur. Melucuti semua pakaian mu.. Lalu mengigit seluruhnya tanpa terkecuali sampai kamu meminta ampun! Apa kamu siap dihukum seperti itu?" tanya Encik Rafiq menggoda istrinya.
Nadia terkekeh mendengar ocehan sang suami.
__ADS_1
"Dasar mesum.." jawab nya sambil tertawa.
"Udah aah... Diah mau mandi.. nanti telat lagi ke kampusnya.." ujar Nadia lagi lalu mengecup pipi Tuan Muda kemudian berlari kearah kamar mandi.