Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 64. Mak


__ADS_3

Nadia duduk melamun di tepi pantai yang berada tidak jauh dari rumah Mak Ipah.


Rambutnya yang tergerai menari-nari mengikuti alur angin yang menerpa.


Terkadang sampai menutupi kedua mata Nadia.


"Apa yang harus Aku lakukan sekarang??" bisiknya lirih masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di dalam hidupnya.


Nadia tidak menyangka akan di cerai oleh Encik Rafiq secepat ini, padahal Encik Rafiq tahu benar kalau Nadia sekarang sedang mengandung anak mereka.


Air mata Nadia kembali menetes perlahan.


Lamunan nya jauh menerawang.


"Hai.. " Sapa seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Nadia.


Nadia kaget dan segera menyeka air matanya.


"Hai.." ujar Nadia kembali menyapa dengan sebaris senyuman.


"Kamu baru disini?" tanya nya lagi sok akrab.


Nadia mengangguk pelan.


"Tinggal Dirumah Mak Ipah?" tanya nya lagi.


Nadia kembali mengangguk.


"Lagi hamil?" ucapnya lagi sembari memandang kearah perut Nadia yang mulai sedikit membesar.

__ADS_1


Nadiapun mengangguk lagi dengan perasaan sedikit risih karena di perhatikan oleh wanita yang tidak iya kenal.


"Jadi benar gosip yang sedang beredar? Mak Ipah kedatangan anak saudara nya dari kampung.. Hamil tanpa suami?" ujar nya lagi dengan sinis.


Nadia kaget mendengar ucapan nya.


Wanita itu terlalu lancang.


"Kenapa? Marah? bukan kah memang kenyataan nya begitu? Di kampung ini sudah sangat sering kedatangan tamu seperti kamu. Datang dari kota untuk menyembunyikan aib" ujarnya lagi dengan sangat tidak sopan.


Nadia marah sekali.


Wajahnya memerah menahan amarah.


Tapi iya tidak berniat untuk membalas ucapan wanita itu.


Nadia bangkit dari duduk nya dan berjalan cepat kearah rumah Mak Ipah.


Nadia berlari kecil sambil menangis sesungukan.


"Benarkah warga di kampung ini berfikiran buruk tentangku?" tanya Nadia dalam hati.


"Apakah kedatanganku mencoreng nama baik Mak Ipah?" tanya nya lagi dengan pilu.


Nadia terus menangis hingga sampai kerumah Mak Ipah.


"Diah.. Ada apa?" tanya Mak Ipah yang melihat Nadia berlari nangis masuk kedalam kamarnya.


"Diah??" tanya Mak lagi sambil mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


Nadia tidak menjawab.


Hatinya benar-benar semakin terluka.


Nadia mengurung dirinya di dalam kamar hingga sore hari.


"Assalamualaikum.." Terdengar suara wanita separuh baya mengucap salam di depan pintu rumah Mak Ipah.


"Waalaikumsalam" jawab Mak Ipah pula sembari berjalan kearah pintu luar.


"Tati.. Alhamdulillah.. Akhirnya kamu datang.. Mari masuk" ujar Mak Ipah menyambut kedatangan Mak Nadia dari kampung.


Mak Ipah dan Mak Nadia saling berpelukan melepas rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa.


"Diah mana?" tanya Mak pada Mak Ipah.


"Di kamar.. Dari siang belum juga ada keluar kamar.. Cobalah bujuk agar Dia mau keluar kamar. Dia bahkan belum makan siang sama sekali" cerita Mak Ipah pada Mak Nadia.


Mak pun segera berjalan kearah kamar dan mengetuk pintu nya.


"Diah... Ini Mak Nak.. Mak datang sebab risaukan Diah.. Diah buat apa dalam kamar tu?" ketuk Mak dari luar pintu kamar dengan logat melayu nya yang khas.


Nadia yang hafal betul dengan suara Mak, segera keluar kamar dan memeluk Mak nya dengan erat.


Tangisan nya tumpah di dalam pelukan hangat Mak.


Mak membelai punggung Nadia mencoba memberinya kekuatan.


Sesekali di cium nya ubun-ubun Nadia yang terus saja terisak.

__ADS_1


Mak membiarkan Nadia menumpahkan semua kesedihan yang sedang iya rasakan.


Mak terus membelainya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


__ADS_2