
Setelah selesai sarapan dan bersiap-siap serta pamit pada Mak Tua dan Bik Sari, Nadia dan Mak beserta istri Bang sugi berangkat menuju rumah sakit memjenguk Tuan Besar sebelum Mak kembali ke kampung halaman.
Mukjizat yang luar biasa terjadi pada Tuan Besar ketika Mak berpamitan pada nya.
Tuan Besar yang tak mampu lagi menggerakkan tubuh nya tiba-tiba mampu berbicara pelan dan terbata-bata mengucapkan terimakasih kepada Mak.
Semua terharu dan takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi pada Datuk Iskandar.
Dokter yang menangani beliau pun merasa takjub yang luar biasa.
"Semoga pernikahan Nadia dan Encik Rafiq benar-benar mampu membangkitkan semangat Datuk Iskandar untuk kembali sembuh seperti sedia kala. Aamiin" ucap Dokter pada semua yang ada di ruangan.
Setelah berbincang-bincang dan merasa cukup lama di rumah sakit, Mak pun pamit pada Datuk Iskandar dan Nadia.
"Datuk.. Saya pamit pulang ke kampung dulu.. Insyaallah ada masa nanti saya akan datang lagi untuk berkunjung.. Saya doakan semoga Datuk lekas sembuh ya.. Datuk mesti semangat.. Agar nanti Datuk dapat menimang cucu dari Diah dan Rafiq. Kita sama-sama doakan semoga mereka berdua lekas di karuniai anak oleh ALLAH SWT. Aamiin" ucap Mak ketika pamit dan bemberikan semangat pada Datuk Iskandar.
"Aamiin... Insyaallah.." jawab Datuk singkat dan terbata.
Namun tampak jelas raut bahagia terpancar di wajah pucat nya.
Sementara Nadia yang mendengar ucapan Mak, hanya bisa terdiam dan semakin merasa berdosa karena telah membohongi semua nya.
Mak pun akhirnya bersngkat bersama Bang Sugi dan Istri nya meninggalkan Nadia sendirian menjaga Datuk Iskandar di rumah sakit.
Sore hari nya tepat jam 16.45 wib, Encik Rafiq tiba di rumah sakit.
"Alhamdulillah Papa sudah ada kemajuan.. Semoga Papa lekas sembuh ya.." ucap nya sambil mengelus lengan Datuk Iskandar.
Encik Rafiq begitu bahagia ketika mendengar berita tentang perkembangan kesehatan Datuk Iskandar yang semakin membaik.
Nadia pun ikut tersenyum bahagia menyaksikan kedekatan yang begitu hangat antara Encik Rafiq dan Datuk Iskandar Papa nya.
"Sugi sudah berangkat antar Mak pulang?" tanya Encik Rafiq kemudian pada Nadia yang sedang duduk menonton di sofa.
Nadia hanya menjawab pertanyaan Encik Rafiq dengan sebuah anggukan.
"Kalau begitu kamu pulang nya nanti sama saya aja ya.. Tapi ba'da isya setelah Thamrin datang" ujar Encik Rafiq lagi pada Nadia.
"Baiklah" jawab Nadia singkat.
Ketika Azan magrib berkumandang, Nadia dan Encik Rafiq melaksanakan shalat magrib berjamaah.
Untuk pertama kali nya bagi Nadia shalat berjamaah bersama seorang lelaki yang kini telah menjadi suami nya.
Dan begitu pula bagi Rafiq, ini adalah sholat pertama nya sebagai imam untuk istrinya. Karena sebelumnya iya tidak pernah melakukan hal ini bersama Zizi istri pertama nya.
Rasa haru dan takjub mengalir begitu hebat diantara Nadia dan Rafiq ketika mereka saling berjabat tangan.
Nadia kemudian mencium punggung tangan Rafiq, sementara Rafiq mengelus lembut ujung kepala Nadia.
"Semoga cinta segera tumbuh diantara kalian berdua.. Aamiin" doa Datuk Iskandar dalam hati ketika melihat Rafiq dan Nadia shalat berjamaah.
__ADS_1
Selesai shalat, pesanan delivery pizza Encik Rafiq datang. Rafiq memang sudah memesan pizza sebelum melaksanakan shalat magrib tadi.
" Mari makan.." ajak Encik Rafiq pada Nadia.
Nadia kemudian duduk di sofa yang berada di sebelah Encik Rafiq dan menikmati pizza berdua bersama nya.
"Tuutt.. tuutt.." dering HP encik Rafiq bergetar.
"Assalamualaikum.." ujar Encik Rafiq mengangkat telepon sambil menikmati pizza yang ada di tangan nya.
"Waalaikumsalam.. Tuan saya mau minta maaf malam ini tidak bisa kerumah sakit menjaga Tuan Besar.. Saya demam tuan.. meriang.." ujar Thamrin dari seberang telepon.
"Baiklah.. Kalau begitu kamu istirahat yang cukup ya.. jangan lupa minum obat.. Semoga besok sudah sembuj.." jawab Encik Rafiq lagi sebelum menutup telepon nya.
"Thamrin sakit.. Dia tidak bisa kemari untuk mengganti saya menjaga Papa.. Makanlah dulu, nanti setelah makan kamu saya antar pulang, terus nanti saya balik lagi kesini" jawab nya masih sambil mengunyah makanan nya.
Nadia mengangguk dan menuruti perintah Rafiq.
Namun ketika berpamitan mereka tidak mendapat izin dari Tuan Besar.
"Kalian tidur disini aja ya..!!" ujar Datuk Iskandar terbata-bata.
Nadia dan Encik Rafiq pun terpaksa menurut karena tidak ingin mengecewakan Datuk Iskandar.
Keduanya lalu di sibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing.
Nadia asik ber WA ria dengan Lisa sahabat baru nya.
Mereka membahas tentang persiapan OSPEK yang akan di mulai minggu depan.
"Tidurlah disana kalau sudah mengantuk.. Saya nanti tidur di sofa ini saja.." ujar Encik Rafiq ketika melihat Nadia sudah menguap berkali-kali.
Nadia menuruti perintah Encik Rafi, iya kemudian berbaring menghadap tembok di tempat tidur yang memang di sediakan rumah sakit untuk keluarga pasien yang menjaga.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk segera terlelap dalam tidur nya.
Setelah menyelesaikanpekerjaan nya, Encik Rafiq bangkit untuk memastikan Papa nya juga sudah tertidur lelap.
Dia kemudian mencoba berbaring dengan posisi miring di atas sofa.
Tubuhnya terasa sakit.
Dia tidak bisa tidur.
Berbagai posisi di coba nya agar bisa terasa nyaman.
Tapi tetap saja iya tidak bisa tidur.
Sofa nya terlalu kecil untuk ukuran tubuh Encik Rafiq.
Encik Rafiq menyerah.
__ADS_1
Kepala nya semakin terasa berat karna lelah dan sangat mengantuk.
"Aku rasa tidak salah jika berbaring di sisi sebelah kiri nya.. Toh dia berbaring menghadap tembok. Kami akan berbaring dengan posisi saling memunggungi.. Lagi pula Dia kan sekarang adalah istriku yang sah.. " Ujar encik Rafiq dalam hati.
Lalu perlahan di baringkan nya tubuh nya di samping Nadia yang terlelap menghadap kearah tembok.
Rafiq pun tertidur pulas.
Ketika azan subuh berkumandang. Tuan Besar terbangun dari tidurnya.
Dia tersenyum bahagia ketika melihat Nadia dan Encik Rafiq tidur seranjang dengan posisi wajah mereka yang saling berhadapan.
Encik Rafiq pun terbangun dari tidurnya.
Dia kaget ketika melihat posisi tidur nya yang sudah berubah.
Wajah mereka saling berhadapan.
kepala Nadia berada di atas lengan Encik Rafiq.
Jantung Encik Rafiq jadi berdetak sangat kencang.
Perlahan dicobanya mengangkat kepala Nadia dan menarik lengan nya.
Dia berharap bisa segera bangkit sebelum Nadia terbangun.
Tapi gerakan nya malah membangunkan Nadia.
Nadia kaget ketika melihat wajah Encik Rafiq yang hanya berjarak satu jengkal dengan wajahnya.
Nadia nyaris berteriak.
Encik Rafiq segera membungkam mulut Nadia dengan tanganya.
Nadia memberontak dan mendorong Encik Rafiq.
Tubuh Encik Rafiq tergolek jatuh kelantai.
Nadia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Dasar lelaki mesum..!!" ujar Nadia menuduh dengan suara pelan agar Datuk tidak mendengar.
"Sembarangan.. Siapa yang mesum..??!! Eh.. dengar ya. Saya tidak pernah tertarik sedikitpun pada gadis kecil yang rata seperti kamu!!" jawab Encik Rafiq sambil meringis kesakitan karena jatuh tadi.
"Lalu kenapa Pak Cik tidur di samping saya??" tanya Nadia lagi.
"Karna saya tidak bisa tidur di sofa. Sofa itu terlalu kecil. Badan saya sakit di buatnya. Karena itulah saya tidur di samping kamu. Kamu menghadap tembok.. dan Saya menghadap ke Papa.. Posisi tidur kita saling memunggungi. Dan saya tidak tau sejak kapan posisi nya berubah sampai kamu tidur di lengan saya.. Sumpah saya tidak bermaksud apapun.. Lagi pula kita kan sudah suami istri.. jadi tidaklah berdosa jika saya tidur disamping kamu.." ujar Tuan Muda lagi menjelaskan pada Nadia masih sambil meringis.
Nadia kemudian mengerti dan segera meminta maaf.
"Pak Cik benar.. kami kan sudah menikah.. jadi tidaklah berdosa jika kami tidur satu ranjang bersama.." ujarnya dalam hati.
__ADS_1
"Maafkan Diah Pak Cik..!!" ujar Nadia lagi meminta maaf.
Encik Rafiq hanya mengangguk saja tanda memberi maaf.