
Setelah semua urusan nya selesai, Nadia berniat untuk kembali kerumah Mak Ipah tempat Nadia sementara menumpang tinggal.
Sebuah kampung nelayan yang terletak di tepi pantai yang berada cukup jauh dari pusat kota.
Namun sebelum meninggalkan kota, Nadia menyempatkan diri untuk memeriksa
kesehatan kandungan nya di salah satu rumah sakit umum yang pernah menjadi tempat dilangsungkan nya pernikahan siri nya dengan Encik Rafiq.
Pernikahan yang terpaksa di lakukan waktu itu ketika almarhum Datuk Iskandar sedang di rawat intensif karena penyakit yang di derita nya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Nadia tidak langsung pulang. Iya memutuskan untuk menikmati secangkir kopi di Healty Cafe & Resto yang terletak di lantai 8 rumah sakit.
Nadia duduk sendirian menikmati makanan yang iya pesan.
Fikiran nya jauh melayang.
Restoran rumah sakit ini adalah tempat yang juga bersejarah bagi diri nya dan Encik Rafiq.
Direstoran ini lah pertama kali nya Nadia dan Encik Rafiq membuat kesepakatan untuk menikah secara siri demi mewujudkan permintaan terakhir almarhum Datuk Iskandar.
"By.... I miss you" ujar Nadia berbisik lirih.
Nasehat Emak melalui sambungan telepon beberapa waktu tadi kembali terngiang di telinga Nadia.
"Diah itu adalah seorang istri Nak.. Sebaik-baiknya perempuan adalah istri yang tidak pernah pergi meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.. Kamu tau Nak, Dalam satu hari, suamimu menghubungi Mak sampai 3 atau 4 kali hanya untuk mencari tau apakah Kamu ada menghubungi Mak?! Diah.. Pulanglah Nak.. Mak risau.. Suami mu lebih risau.." ujar Mak menasehatkan dari seberang telepon.
"Phuffh..." Nadia menghela Nafas berat.
__ADS_1
Mata nya terasa kembali hangat.
Nadia menangis pelan agar tidak terdengar oleh pengunjung lain yang juga ada di restoran.
Setelah merasa lebih tenang, Nadia pun beranjak meninggalkan restoran.
Iya berjalan kearah lift yang akan membawanya turun menuju lobby rumah sakit.
Dan ketika pintu lift terbuka, Nadia kaget mendapati Encik Rafiq sedang berdiri didalam nya.
Encik Rafiq pun demikian.
Namun Nadia segera sadar dan berusaha untuk lari menuruni anak tangga yang berada tepat di sebelah kanan pintu lift.
Encik Rafiq segera mengejar nya.
Meraih kuat pinggang Nadia yang tidak bisa berlari kencang karena takut akan membahayakan janin nya.
Berdiri pada sudut anak tangga yang menuju lantai 7.
Encik Rafiq memeluk nya erat dari arah belakang.
"Sayang... Please.." terdengar jelas suara serak Encik Rafiq di telinga nya.
Nadia masih diam.
" Begitu benci nya kah sayang pada Abang?? Begitu ingin nya kah sayang bercerai dari Abang? Sehingga sayang harus menutupi tentang kehamilan sayang pada Abang? Sayang... Please... !!" ucap Encik Rafiq dengan suara yang bergetar hebat menahan isak tangis nya.
__ADS_1
Encik Rafiq membalikkan tubuh Nadia menghadap pada nya.
Nadia menunduk tidak berani menatap.
"Jika memang itu yang sayang inginkan.. Baiklah.. Abang akan memenuhi nya.. Tapi dengan syarat.. Please jangan menghilang lagi.. Izinkan Abang tetap bertanggung jawab atas anak kita.." ucap Encik Rafiq lagi dengan berat hati diatara tangis nya.
"Maafkan Diah By.." ucap Nadia tidak mampu lagi membendung air mata nya.
"Tidak perlu meminta maaf.. Abang yang salah.. Abanglah yang tidak bisa memenuhi janji Abang... Abang bukan suami yang baik untuk sayang.. Maafkan Abang..!!" Jawab Encik Rafiq lagi lalu memeluk erat Nadia.
Nadia terus menangis di dalam pelukan suaminya.
"Jika memang dengan melepasmu dapat membuat mu bahagia.. Abang ikhlas.." ujar Encik Rafiq masih memeluk Nadia.
Nadia diam tidak menjawab.
Encik Rafiq menarik nafas panjang.
"Bimillah... Nadia Juwita.. Terhitung mulai hari ini, Saya Encik Rafiq dengan sadar dan ikhlas menjatuhkan talak satu padamu sebagai ikrar melepaskan mu dari tanggung jawabmu sebagai istri saya" bisik Encik Rafiq dengan jelas di telinga Nadia.
Nadia kaget bukan kepalang.
Nadia terdiam kaku berdiri tegap tidak bergeming ketika Encik Rafiq perlahan melepaskan pelukan nya dan pergi berlari menuruni anak tangga dengan cepat.
"Aaaaaaaaaaakkkkhhhh!!!!" Terdengar teriakan Encik Rafiq meluahkan amarahnya masih di tangga menuju lantai 6.
Nadia oleng.. bersandar pada dinding tangga.
__ADS_1
Lalu memangis sejadi-jadi nya.
Berarakhirlah sudah pernikahan mereka.