
Nadia kabur meninggalkan Apartemen.
Dia tidak pergi kerumah Lisa ataupun pulang ke kampung.
Karena Dia yakin Encik Rafiq pasti akan mencari nya kesana.
Nadia pergi kesebuah daerah yang berada di tepi pantai.
Daerah yang cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.
Setelah naik bus dan dua kali pindah angkot, akhirnya Nadia sampai di depan rumah Mak Ipah, Saudara sepupu Mak Nadia.
"Assalamualaikum" ucap Nadia memberi salam sembari mengetuk sebuah gubuk kecil yang di depan rumah nya terdapat jemuran ikan asin tepat di bawah pohon kelapa yang tumbuh menghadap ke badan jalan.
"Waalaikumsalam.. Diah?? Masyaallah.. Apa kabar nak?? Mak Ipah rindu sangat...!!" Ucap Mak Ipah sambil memeluk erat Nadia dengan begitu bahagia.
Mak Ipah adalah saudara sepupu Mak Nadia. Mak Ipah merupakan seorang janda yang tidak memiliki anak. Suami nya sudah lama meninggal. Mak Ipah hidup sendiri di gubuk kecil peninggalan almarhum sang suami tercinta.
"Alhamdulillah Diah sehat, Mak Ipah sehat?" tanya Nadia pada Mak Ipah dengan perasaan bahagia pula.
__ADS_1
"Mak Ipah juga sehat sayang... Ayo masuk... Diah datang dengan siapa?" tanya Mak Ipah pula.
"Sendiri je Mak!" jawab Nadia sedikit canggung.
Mak Ipah mulai merasa curiga dan merasa ada yang tidak beres dengan Nadia.
Namun iya tidak ingin Nadia yang baru saja tiba merasa kurang nyaman jika iya terlalu banyak bertanya.
Maka dari itu Mak Ipah hanya mempersilahkan Diah masuk kedalam gubuk nya lalu menyiapkan segelas teh hangat untuk Nadia minum. Dan kemudian mempersilahkan Nadia beristirahat di dalam kamar untuk melepas lelah nya dari perjalanan yang cukup jauh.
"Diah istirahat.. Mak Ipah nak pergi angkat jemuran ikan asin dulu ya.. sudah sore dan agaknya gelap macam nak turun hujan" ujar Mak Ipah dengan senyuman khas nya.
Setelah makan malam akhirnya Nadia memberanikan diri untuk bercerita pada Mak Ipah tentang semua yang telah terjadi di hidupnya.
Mak Ipah menyimak dengan seksama.
Mencoba memahami dan merasakan kepedihan yang sedang Nadia rasakan.
Nadia menangis dalam pelukan Mak Ipah.
__ADS_1
"Semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah takdir yang tiada mampu kita ubah. Perbanyak sabar dan berdoa semoga segala masalah yang sekarang sedang Diah hadapi dapat segera berlalu dan mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Diah yang tabah ya.. Mak Ipah akan selalu ada untuk Diah.. " ujar Mak Ipah memberi dukungan pada Nadia.
"Makasih Mak.. Diah sangat butuh bantuan Mak Ipah.. Cuma Mak Ipah sekarang tempat Diah berlindung.. Diah sudah tidak tau harus kemana Mak.. Kalau boleh Diah nak minta izin untuk tinggal disini dan melahirkan disini Mak.. ujar Nadia pula pada Mak Ipah.
"Mak Ipah akan selalu ada untuk Diah.. Diah tak perlu cemas.. Diah boleh tinggal disini sampai kapanpun.. Diah yang sabar dan tegar ya..!" ujar Mak Ipah lagi membuat hati Nadia merasa lebih tenang.
"Mak Diah di kamoung sudah tau ??" tanya Mak Ipah lagi
"Belum Mak" jawab Nadia menggeleng
"Sebaiknya segera beri kabar pada nya, kasian pasti mak Diah di kampung sangat risau" ujar Mak Ipah.
Nadia mengangguk.
"Insyaallah setelah perasaan Diah agak tenang, Diah akan balik ke kota sebentar untuk mengurus cuti kuliah dan memberi kartu telepon yang baru untuk memberi kabar Mak di kampung" ujar Nadia lagi pada Mak Ipah.
"Yasudah, sekarang istirahatlah... sudah malam.. Jangan terlalu difikirkan ya.. jalani saja semua nya.. perbanyak istigfar.." ujar Mak Ipah lagi memberi nasihat.
"Makasih Mak" ucap Nadia sembsri memeluk Mak Ipah sekali lagi.
__ADS_1