Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 15. Layanan Pertama


__ADS_3

Setelah prosesi akad nikah selesai, Nadia dan yang lain nya kembali pulang kerumah kecuali Tuan Muda Encik Rafiq.


Setelah semua nya pergi dan Datuk Iskandar kembali tertidur setelah meminum obat. Encik Rafiq berbaring malas sambil menatap foto pernikahan nya yang baru saja terjadi melalui layar HP nya.


Sejujurnya iya merasa begitu takjub ketika melihat Nadia mengenakan kebaya di acara prosesi akad nikah tadi.


"Iya Tuan.. Itu memang baju kebaya almarhumah Nyonya Besar yang dulu pernah iya beri pada Non Zizi untuk di pakai pas akad nikah. Tapi waktu itu Non Zizi gak suka dan bilang kalau baju nya jelek dan kuno. Non Zizi sudah pesan baju kebaya di butik milik teman dekatnya sehingga baju kebaya pemberian Mama Tuan Muda di beri pada saya. Di suruh simpan dan gak usah kasih tau siapapun. Kemudian Non Zizi berbohong bilang ke semua nya kalau baju kebaya nya hilang di tempat loundry. Padahal tidak Tuan.. Kebaya nya ada Mak simpan dengan rapih. Dan ketika kemarin di coba oleh Diah, ukuran nya pas dan sangat cocok di badan nya. Diah juga suka sekali apalagi sewaktu Mak Tua kasih tau kalailu itu adalah kebaya milik Nyonya Besar ketika menikah dengan Tuan Besar. Maafkan Mak Tua ya Tuan.. " ujar Mak Tua menceritakan tentang kebaya yang di kenakan Nadia sewaktu prosesi akad nikah tadi.


"Phuuffhhh.." ujar Encik Rafiq menghembuskan nafas berat.


"Ya ALLAH apa yang harus Aku lakukan sekarang? Aku telah resmi menikahi perempuan polos ini.. Bagaimana seandai nya Zizi tau.. huhhh.." ujarnya sambil memijit pelan kepala nya yang terasa berdenyut sangat kencang.


Encik Rafiq akhir nya tertidur karena kelelahan.


Iya kembali terbangun setelah azan magrib terdengar jelas berkumandang.


Encik Rafiq pun bergegas bangun dan mengerjakan shalat magrib.


Tepat ba'da isya Thamrin datang menggantikan posisi Encik Rsfiq untuk menjaga Tuan Besar di rumah sakit.


Mereka berdua memang selalu bergantian jaga semenjak kondisi kesehatan Tuan Besar mengalami penurunan.

__ADS_1


"Saya pulang dulu ya.. Jika terjadi sesuatu segera hubung saya.." ujar Tuan Muda pamit pada Tahmrin.


"Baik Tuan.." jawab Thamrin singkat.


Sesampainya di rumah, Rafiq segera membersihkan tubuh nya dan mengganti pakaian nya dengan kaos oblong kesukaan nya.


Selesai membersihkan tubuh, perutnya terasa lapar.


Rafiq memang belum makan sejak siang tadi.


Iya terlalu gugup dan di penuhi pemikiran yang berkecamuk sehingga tidak merasa lapar sama sekali.


Tidak di temukan nya Mak Tua ataupun Bik Sari di ruang dapur.


"Mungkin mereka semua lelah setelah beberapa hari ini sibuk mengurus persiapan pernikahanku.. Aku akan buat kopi dan makan roti saja" ujarnya sendiri.


Ketika hendak membuat kopi terdengar oleh nya langkah kecil mendekat ke arah dapur.


"Pak Cik.. nak buat apa??" tanya Nadia dengan gugup ketika melihat Encik Rafiq di dapur.


"Saya lapar.. Boleh tolong buatkan kopi dan roti untuk saya makan?" jawab Encik Rafiq pada Nadia.

__ADS_1


Nadia mengangguk pelan.


Segera di buatkan nya Rafiq segelas kopi pahit dan dua potong roti bakar yang di taburi gula di atas nya sesuai kesukaan Encik Rafiq.


"Terimakasih.." ujar Encik Rafiq ketika menerima kopi dan roti yang di buatkan Nadia.


"Mak tidur dimana? Di atas?" tanya nya lagi kemudian.


"Tidak.. Mak tidur di kamar belakang, kamar bekas Diah dulu.." Jawab Nadia singkat.


"Oh.. baguslah.. artinya Mak tidak melihat foto yang terpajang di dinding tangga kan?" tanya Rafiq lagi.


Nadia menggeleng.


"Tidurlah kalau begitu.. Tak perlu menemani saya makan.. Kamu pasti lelah.. Sekali lagi terimakasih untuk kopi dan roti nya. Selamat malam.." ucap Tuan Rafiq lagi pada Nadia.


Nadia pun berlalu meninggalkan Tuan Muda tanpa membalas ucapan selamat malam nya.


Encik Rafiq kemudian tersenyum membayangkan diri nya dan Nadia.


"Bukan kah ini seharusnya menjadi malam pertama kami sebagai suami istri?? Yaah... Dia sudah melayaniku dengan baik malam ini.. membuatkan kopi dan roti untuk suami nya.. hhahaha" ujar tuan Rafiq sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2