
Encik Rafiq terdiam menunduk dengan wajah pucat menahan rasa sakit nya.
Dibiarkan nya Mak Nadia memaki dan melampiaskan kemarahan.
Dokter keluar dari kamar operasi.
"Keluarga nyonya Nadia? " tanya nya mendekat kearah mereka.
"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya dok? " tanya Mak memburu.
"Alhamdulillah.. Bayi nyonya Nadia lahir dengan selamat dan berjenis kelamin laki-laki, karena kondisi nya prematur jadi untuk sementara ini sang bayi masih harus kita rawat secara intensif. Dan untuk ibu nya, nyonya Nadia masih menunggu dulu sampai beliau saadarkan diri setelah itu baru bisa kita bawa ke kamar inap ya! " ujar dokter menjelaskan dengan kalimat yang sangat teratur.
Mak Tua, Mak Nadia dan Encik Rafiq hanya mengangguk memberi tanda mengerti tentang penjelasan yang di berikan dokter pada mereka.
"Bapak boleh masuk kedalam untuk mengazankan bayi. Dan yang lain jika ingin melihat sang bayi, nanti masuk kedalam nya bergantian saja ya.. " ujar nya lagi pada Encik Rafiq dan yang lain nya.
Semua kembali mengangguk.
Dokterpun berlalu meninggalkan mereka yang menangis haru biru.
"Mak.. izinkan Rafiq mengumandangkan azan di telinga bayi rafiq Mak!?" pinta Encik Rafiq menangis terisak sembari menciumi kedua tangan Mak Nadia.
Mak Nadia mengangguk memberi izin.
Encik Rafiq berjalan perlahan memasuki kamar rawat intensif, lalu mendekat kearah bayi mungilnya yang sedang tertidur di dalam tabung khusus.
Perawat mendekat lalu mempersilahkan Encik Rafiq duduk di kursi yang berada tidak jauh dari sang bayi.
Encik Rafiq kemudian duduk memangku sang bayi mungil yang baru saja di berikan oleh perawat.
"Bismillah.. " ucap Encik Rafiq dengan gemetar.
__ADS_1
Iya mulai mengumandangkan azan dengan suara yang paling lembut di telinga bayi nya.
Air mata nya tak henti terus berlinangan.
Encik Rafiq begitu bahagia.
"Sayang.. tumbuhlah jadi anak yang sholeh ya nak.. Papa sangat menyayangi mu.. " bisik Encik Rafiq setelah selesai mengazankan sang bayi.
Lama di kecupnya kening sang bayi dengan penuh haru.
"Maafkan Papa ya nak.. " ucap nya lagi sebelum beranjak meninggalkan ruangan.
Tepat di depan pintu, ketika kaki nya melangkah keluar dari ruangan, kepala nya terasa berat dan pemandangan nya mulai berkunang-kunang.
Tenggorokan nya terasa begitu kering.
Iya sudah tidak mampu menahan rasa sakit nya.
Semua kaget memandang kearah nya.
"Tuan Muda...!! " Teriak Mak Tua panik.
Para perawat segera memberikan pertolongan.
Mak Tua panik di penuhi rasa takut dan khawatir.
Mak Nadia terdiam bingung tidak mengerti mengapa Encik Rafiq bisa jatuh pingsan.
Mak Tua segera menghubungi Sahrul dan Abang Sugi.
Lalu menceritakan semua yang sebenarnya terjadi pada Mak Nadia.
__ADS_1
Mak Nadia kaget menyesali perbuatan nya yang begitu jahat telah menampar dan memaki Encik Rafiq.
Mak Nadia dan Mak Tua saling berpelukan dan saling berdoa untuk kesembuhan Encik Rafiq.
Setengah jam kemudian Sahrul, Bang Sugi juga Bik Sari tiba di rumah sakit.
Mereka dengan cemas menanti Encik Rafiq sadar dari pingsan nya.
Tubuh Encik Rafiq di penuhi dengan alat medis.
Perawat memberi kabar tentang Nadia yang telah sadarkan diri dan telah di pindahkan keruang rawat inap.
Semua pergi menuju ruangan Nadia di rawat.
Kecuali Sahrul yang tetap menjaga Encik Rafiq yang masih pingsan.
Nadia masih terlihat sangat lemah pasca operasi.
Mak mendekat memeluk dan mencium kening nya.
Mak menangis terisak.
Dia tidak tau bagaimana cara untuk memberitahu Nadia tentang kondisi Encik Rafiq saat ini.
Nadia bingung karena semua terlihat sedih dan tidak bahagia.
Padahal iya baru saja selesai menjalankan operasi dan melahirkan anak nya dengan selamat.
"Ape hal Mak?? " tanya Nadia bingung dan mulai curiga.
Mak menggeleng dengan kuat membuat Nadia semakin bingung dan curiga.
__ADS_1