Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 39. Restoran


__ADS_3

Nadia duduk termenung di atas sofa panjang yang menghadap kearah televisi.


Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Ocehan Zizi terus saja terngiang di ingatan nya.


Nadia kaget dan tersadar dari lamunan ketika pintu apartemen nya terbuka.


Encik Rafiq masuk kedalam apartemen.


Berjalan perlahan kearah sofa lalu mencium lembut kening Nadia istrinya.


"Sayang.. Lagi apa?" tanya nya membuka bicara.


Nadia hanya menggeleng pelan dan menyunggingkan sebaris senyum pada sang suami.


"Kita dinner di luar yuk.. " ajak Encik Rafiq lagi pada Nadia.


Nadia diam tidak menjawab.


"Ayolah.. Biar kamu fresh... lagipula sudah lama kita gak makan malam di luar.. Ba'da magrib kita berangkat ya..!!" ajak Encik Rafiq lagi membujuk sang istri.


Nadia akhirnya mengangguk pelan.


Setelah shalat magrib berjamaah, Encik Rafiq menggandeng mesra sang istri menuju parkiran untuk pergi makan malam di sebuah restoran favorit Encik Rafiq.


"Sayang... Mau makan apa?" tanya Encik Rafiq ketika mereka sudah sampai di restoran.

__ADS_1


Nadia kemudian memilih menu steak untuk iya makan.


Sejujurnya iya tidak merasa lapar sama sekali.


Fikiran nya masih saja kacau.


Dan iya agak merasa aneh melihat sikap Encik Rafiq yang begitu santai seolah-olah tidak ada masalah sama sekali.


Encik Rafiq memilih restoran yang tepat untuk menikmati makan malam di antara kegalauan hati Nadia.


Sebuah restoran yang berdiri tepat di tepi sungai.


Angin semilir membelai lembut tubuh Nadia.


Suara deru kendaraan terdengar sama-samar melintasi jembatan yang berdiri kokoh tidak jauh dari restoran.


Seorang pramusaji kemudian datang menyajikan makanan yang mereka pesan dengan sangat sopan.


"Terimakasih" ujar Encik Rafiq pada nya.


Dia hanya menbalas ucapan Encik Rafiq dengan sebuah senyuman manis.


Encik Rafiq dan Nadia pun memulai makan malam mereka tanpa suara sedikitpun hingga selesai.


Pelan Encik Rafiq menyeruput kopi espresso yang masih cukup hangat di gelasnya.


"Sayang.. Kamu masih marah??" tanya nya pada Nadia.

__ADS_1


"Entahlah By.." jawab Nadia singkat.


"Sayang... Abang kan sudah minta maaf.. Tak bisakah kita lupakan saja kejadian kemarin?? kita buka lembaran baru.." ujar Encik Rafiq lagi.


"Lembaran baru seperti apa By..?? Masalah ini masih belum selesai... Apa Abang sudah bertemu Zizi? Apa kalian sudah mengambil keputusan?" tanya Nadia balik pada Encik Rafiq.


"Abang sudah menemui Zizi tadi pagi di rumah. Dia menangis meminta maaf dan memohon untuk tidak di ceraikan. Dia menagih janji Abang yang tidak akan pernah meninggalkan nya.." cerita Encik Rafiq pelan-pelan.


"Kalau begitu Diah lah yang akan menyerah. Pernikahan kita memang hanyalah sebatas pernikahan siri. Tidak sulit untuk Abang melepaskan Diah. Tinggal jatuhkan talak, maka hubungan kita selesai.." Ujar Nadia dengan air mata yang mulai berlinang.


"Tidak sayang... Abang tidak akan pernah melepaskan mu..!!! Abang Cinta sama Nadia... Abang tidak pernah membayangkan bagaimana Abang tanpa sayang..!!" jawab Encik Rafiq lagi.


"Lalu? Jangan bilang Abang bermaksud untuk memiliki kami berdua?? iya??!" tanya Nadia yang mulai paham arah maksud penjelasan Encik Rafiq.


Encik Rafiq terdiam.


"Tidak salah bukan??" jawab nya kemudian.


Nadia kaget dan menggeleng kuat.


"Abang tidak bisa menceraikan Zizi karena terikat dengan janji.. Sementara Abang juga tidak bisa melepaskan mu karena Abang mencintaimu. Sayang... Please.. cobalah untuk memahami posisi Abang.." ujar nya lagi membujuk Nadia.


Nadia hanya menangis terisak tanpa menjawab sedikitpun.


Dia tahu benar, Zizi tidak mungkin mau menerima nya sebagai istri kedua dari Encik Rafiq.


Ucapan Encik Rafiq semakin membuat nya merasa tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2