
Nadia tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Lamunannya jauh menerawang.
Iya begitu mengkhawatirkan Encik Rafiq.
Mak yang menyadari hal itu mendekat dan mencoba menenangkan kegundahan hati sang putri.
"Diah.. tidurlah.. berisirahatlah.. Jika ingin melihat Rafiq sembuh, maka Diah mesti sembuh lebih dulu.. Kondisi Diah kan belum pulih, baru saja selesai operasi.. Mesti banyak istirahat dulu. Rafiq disana dijaga dengan sangat intensif oleh dokter dan perawat. Bahkan Mak Tua, Sahrul dan Sugi juga saling bergantian menjaga. Jadi Diah tak payah risau. Istirahatlah agar lekas pulih. Oke?!" ujar Mak menasehatkan.
Diah mengangguk membenarkan ucapan Mak.
"Aku mesti lekas sembuh agar bisa merawat Pakcik" ujar nya dalam hati.
Lalu iya memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Pagi hari nya, seorang perawat perempuan datang untuk membantu Nadia membersihkan tubuh nya dan memberi nya beberapa obat untuk di minum setelah sarapan.
Perawat juga kemudian mengantar Nadia menuju kamar bayi untuk memberikan ASI esklusif pada bayi nya.
"Sayang.. Papa sedang sakit.. Kita doakan sama-sama untuk kesembuhan Papa ya Nak.. " bisik Nadia sembari memberi ASI pada bayi mungilnya.
"Kamu begitu tampan.. Mirip sekali dengan Papa mu.. Tumbuh yang sehat ya Nak... Jadi kebanggaan Mama dan Papa.. Aamiin" ujar nya lagi tersenyum bahagia.
Selesai memberikan ASI pada bayi nya, Nadia langsung menuju ruang rawat Encik Rafiq, diantar oleh sang perawat.
__ADS_1
Dengan perasaan sedikit lega dan bahagia, Nadia duduk di samping Encik Rafiq yang kini mulai membaik.
Jari tangan nya telah mampu iya gerakkan perlahan untuk mengusap lembut pipi wanita yang amat iya cintai.
Nadia membalasnya dengan senyum bahagia.
"By.. Semangat ya.. Lekas sembuh.. Diah dan baby butuh Aby... " ujar Nadia manja pada Encik Rafiq.
Nadia terus menemani Encik Rafiq hingga iya kembali tertidur akibat obat yang di berikan perawat.
Seyelah Encik Rafiq tertidur, barulan Nadia kembali kedalam ruang rawat nya.
Nadia, Mak Tua, Bang Sugi, Sahrul, Bik Sari dan Pak Rital sepakat untuk mencoba melakukan beberapa rangkaian tes guna mendonorkan salah satu ginjal mereka untuk Encik Rafiq.
Semua saling berdoa dan berharap salah satu diantara mereka akan berhasil menjadi pendonor ginjal yang cocok untuk Encik Rafiq.
"Assalamualaikum.. " Mak Ipah datang memberi kejutan pada Nadia dan Mak.
"Waalaikumsalam.. Masyaallah Mak Ipah..!! " ujar Nadia dan Mak hampir bersamaan.
Nadia dan Mak tidak menyangka Mak Ipah akan datang kekota untuk menjenguk nya.
Terakhir ketika Mak memberi kabar tentang Nadia yang telah melahirkan, Mak Ipah berdalih belum dapat berkunjung karena terlalu banyak pekerjaan yang harus iya selesaikan.
"Diah sehat?? " tanya Mak Ipah sembari memberikan pelukan rindu pada Nadia.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat Mak.. Makasih sudah sudi kemari menjenguk Diah" ujar Nadia membalas pelukan Mak Ipah dengan hangat.
Mereka kemudian berbincang-bincang dengan penuh bahagia sebelum Mak Ipah di antar Mak pergi ke ruangan rawat Bayi untuk melihat Bayi Nadia.
"Wajah nya sungguh tampan menggemaskan" ujar Mak Ipah pada Mak.
Mak mengangguk setuju.
"Rafiq sedang sakit... Gagal ginjal" ucap Mak dengan pilu.
Mak Ipah terkejut.
"Lalu dimana iya sekarang? " tanya Mak Ipah pula.
"Di rawat disini juga... di rumah sakit ini" jawab Mak.
"Kalau begitu bawa saya untuk mengunjungi nya.. " ujar Mak Ipah lagi pada Mak Nadia.
Merekapun kemudian menuju kamar rawat Encik Rafiq.
Dan ketika mereka tiba disana Encik Rafiq masih tertidur pulas akibat efek dari obat yang telah iya minum.
"Semoga iya lekas sembuh" doa Mak Ipah dengan tulus.
"Aamiin.. " jawab Mak penuh harap.
__ADS_1
"Sembuhkan menantuku ya ALLAH.. Diah dan Bayi nya sangat membutuhkan Rafiq.. Sehatkan iya kembali seperti sedia kala.. Jadikanlah keluarga anakku, keluarga yang sempurna dan bahagia.. Sudah cukuplah derita yang menimpa mereka sampai saat ini ya ALLAH.. Hanya dengan kuasa mu lah kami memohon.. Aamiin" ucap Mak berdoa lirih di dalam hati nya untuk kesembuhan Encik Rafiq.