Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 71. Semua Telah Berakhir


__ADS_3

Nadia duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.


Tubuh nya terasa begitu lemah.


Seharian ini iya terlalu banyak menangis.


Mata nya sudah sangat terasa panas dan pedih.


Dibukanya perlahan bingkisan yang di berikan Encik Rafiq tadi pada nya.


Ternyata berisi satu paket perhiasan, kartu kredit, buku tabungan, setifikat kepemilikan apartemen atas nama dirinya, dan sepucuk surat.


Perlahan Nadia membuka surat nya.


"Assalamualaikum sayang...


Maaf sebelum nya atas kelancangan Abang menuliskan surat ini.


Abang tau, Diah sekarang pasti sangat membenci Abang..


Tapi Abang mohon, izinkan Abang sedikit bertanggung jawab atas semua kesalah yang telah Abang perbuat.


Semua yang ada di dalam bingkisan itu adalah hak Diah dan Baby kita.. Tolong di terima.


Abang meminta maaf karena sudah membuat Diah menderita.


Abang mengakui semua terjadi karena kesalahan Abang..


Abang mohon maaf..


Terimakasih karena pernah menjadi bahagian terindah dalam hidup Abang.. Dan terimakasih karena sudi mengandung zuriat dari Abang..

__ADS_1


Tolong rawat Baby kita dengan baik.. Dan jika di izinkan tolong selipkan nama Abang pada nama nya agar iya tau betapa sesungguhnya Abang sangat mencintai nya.


Namun jika dirasa tidaklah pantas, Abang mohon perkenalkan lah Dia sedikit tentang siapa Papa nya..


Diah.. Sekali lagi, Maafkan Abang..


Maafkan Abang yang tidak bisa menepati janji...


Wassalam"


Nadia kembali menangis sesungukan setelah selesai membaca surat dari Encik Rafiq.


Dadanya terasa begitu sesak.


"By...!!!!!!!" teriaknya Tertahan memanggil nama Encik Rafiq.


"Aku tidak butuh semua ini By.. Aku butuhnya Kamu.... Aku cuma ingin ada Kamu disini By.. Memberi semangat untuk ku.. Menemaniku membesarkan baby kita.. Aku butuh kamu By... Kenapa kamu begitu tega melakukan semua ini pada Ku dan calon baby kita By..???" ucap Nadia dengan deraian air mata.


Nadia menangisi nasib nya di dalam kamar sunyi yang hanya di dengar oleh dinding yang dingin.


Encik Rafiq yang baru saja meninggalkan apartemen juga menangis sesungukan di dalam mobil nya yang menyala.


Berulang kali dia menghantamkan kedua kepalan tangannya di kepala.


Menangisi semua perbuatan jahatnya terhadap Nadia.


Menyesali semua keputusan nya yang telah menjatuhkan talak satu pada istri yang begitu iya cintai.


Dan tentu saja yang paling di sesalinya adalah ketidak mampuan nya menjadi seorang ayah untuk bay yang sedang di kandung Nadia.


Sekalipun iya begitu menginginkan nya.

__ADS_1


"Ya ALLAH...!!!" ucap Encik Rafiq pula sembari menepuk-nepuk dada nya yang terasa sangat nyeri dan sesak.


Lama iya menangisi dirinya di dalam mobil yang menyala namun tidak beranjak sedikitpun dari parkiran apartemen.


Rasa mual yang hebat kembali muncul seketika.


Setengah berlari Encik Rafiq keluar dari mobilnya menuju sudut bagian belakang parikiran.


Lagi, Iya kembali memuntahkan semua isi perutnya.


Sambil teruyuh Encik Rafiq kembali ke dalam mobil dan melarikan mobilnya perlahan menuju rumah.


Sesampainya dirumah, Encik Rafiq bergegas masuk kedalam kamar dan mengambil obat yang terdapat di laci nakas, lalu meminumnya dengan segera.


"Ya ALLAH..Beri Aku waktu sedikit lagi.. Aku mohon ya ALLAH.." ucap nya berdoa di dalam hati nya.


Encik Rafiq kemudian membaringkan tubuh lemah nya di atas tempat tidur.


Mencoba menetralisir rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuh kekar nya.


"Fik.. Kamu sudah pulang?" terdengar suara khas Zizi memanggil nama nya.


"Sudah" Jawab Encik Rafiq mencoba untuk duduk di tepi ranjang.


Zizi mendekat kearah nya.


"Kamu sakit? wajah kamu pucat sekali?" tanya Zizi sedikit cemas.


"Tidak.. Aku hanya lelah saja," jawab Encik Rafiq menutupi rasa sakitnya.


"Ada apa?" ucap Encik Rafiq pula bertanya.

__ADS_1


"Ini adalah berkas surat cerai kita.. Aku sudah mengurusnya, Tinggal kamu tandatangani saja.. Lusa adalah sidang pertama kita.. Aku harap kamu bisa datang agar semua nya dapat selesai dengan cepat. Dan mulai malam ini Aku akan kembali kerumahku.. Sampai bertemu besok di kantor.. jangan sampai terlambat.. karena besok adalah hari yang penting untuk kita.." Ucap Zizi lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Encik Rafiq yang masih terpaku menatap surat cerai yang berada di kedua tangan nya.


"Ya ALLAH.. Semua nya kini benar-benar berakhir.. Kuatkan Aku ya ALLAH.." bisik pili Encik Rafiq.


__ADS_2