Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 76. Encik Rafiq Sakit


__ADS_3

Assalamualaikum Gaeeessss....


Setelah beberapa purnama akhirnya author balik yaakkk...


Ini kita lanjutin cerita nya yaakk...


Muhun Maap karena telah meresahkan para readers semua...


Makasih juga untuk yang masih setia membaca novel author..


I Lop Yu😘


#####


Dengan denyut kepala yang terasa masih begitu berat, Encik Rafiq perlahan membuka mata nya lalu kembali memejamkan nya ketika ruangan terasa sangat menyilaukan.


Perlahan di angkat nya jari sebelah kanan untuk memijit pelan kepalanya yang terasa kesetrum akibat cahaya yang terlalu terang di dalam ruangan tempatnya di rawat.


Dengan sedikit mengernyitkan mata, iya kembali mencoba membuka matanya memandang sekeliling ruangan yang berwarna putih.


Dibagian tangan kirinya terdapat selang infus yang membuat jari nya terasa agak nyeri.


Disudut pelipis sebelah kanan nya juga terdapat luka yang telah di perban dengan kain kassa dan juga menimbulkan rasa nyeri.


Encik Rafiq mencoba membuka mulutnya untuk memanggil Mak Tua yang sedang tertidur di sofa menghadap kearah dirinya.


"Mak Tua.. " ucapnya sangat pelan dengan suara tercekat.


"Mak.. " ucap nya lagi.


Mak Tua terbangun menyadari panggilan Encik Rafiq padanya.

__ADS_1


"Tuan... Alhamdulillah... Tuan udah sadar" sambut Mak Tua seraya berdiri mendekat kearah Encik Rafiq yang masih terbaring lemas.


"Rafiq haus Mak" ucap Encik Rafiq pelan pada Mak Tua.


Mak Tua segera mengambilkan segelas air putih untuk di minum oleh Encik Rafiq.


Dia juga segera memanggil perawat untuk mengecek kondisi kesehatan Encik Rafiq yang baru saja sadar dari pingsan nya.


Mak Tua menangis.


"Mak.. Rafiq minta maaf sudah membuat Mak Tua repot dan risau" Ujar Encik Rafiq sambil memegang tangan kanan Mak Tua.


Mak Tua menggeleng.


"Mengapa Tuan sembunyikan penyakit Tuan? Tuan pingsan hampir 9 jam lama nya.. Mak risau sangat...! kepala Tuan terbentur sudut anak tangga hingga terluka parah dan harus mendapat 6 jahitan.. Mak sangat ketakutan! " ucap Mak Tua lagi sambil menangis terisak.


"Maafkan Rafiq Mak" ucap Encik Rafiq lagi membujuk Mak Tua.


"Waalaikumsalam Dok" jawab Encik Rafiq pelan dengan sebaris senyuman.


"Alhamdulillah Encik Rafiq sudah sadar.. " ujar sang dokter sembari memeriksa kondisi kesehatan Encik Rafiq.


"Seperti yang telah saya sarankan sebelum nya.. Sepertinya kita sudah tidak bisa menunda lagi, Encik Rafiq harus segera melakukan pencucian darah. Kondisi fungsi ginjal Encik Rafiq sudah semakin menurun selama tiga bulan terakhir ini. Dan cuci darah adalah satu-satu nya cara yang bisa kita ambil saat ini untuk mengobati Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang sekarang Encik Rafiq alami, sampai kita menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk Encik Rafiq!" ujar Dokter kepada Encik Rafiq.


"Kapan kita akan melakukannya dok? Tolong lakukan yang terbaik Dok.. Saya belum ingin mati, Saya masih harus melihat bayi saya lahir dulu Dok! " ujar Encik Rafiq pula dengan wajah memelas.


Dokter mengangguk dengan senyuman getir.


"Akan kita lakukan segera.. Saya akan persiapkan semuanya..." jawab Dokter lagi sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Encik Rafiq.


"Mak.. Rafiq mohon jangan beri tahu Nadia tentang saya ya Mak!!? Please... Rafiq tak ingin Dia risau.. " pinta Encik memohon pada Mak Tua agar tidak memberi tahu Nadia tentang penyakit Gagal Ginjal yang di derita nya.

__ADS_1


Mak Tua cuma bisa mengangguk pilu tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Hati nya terasa hancur menyaksikan Encik Rafiq terbaring lemah dengan bantuan alat medis.


Mak Tua yang telah merawat Encik Rafiq dari kecil hingga saat ini, sudah menganggap Encik Rafiq seperti anak nya sendiri.


Dan iya benar-benar tidak kuasa menahan kepedihan ketika mendengar pernyataan dokter mengenai penyakit gagal ginjal stadium akhir yang Encik Rafiq derita saat ini.


"Pantaslah iya selalu muntah-muntah, tubuhnya semakin kurus, nafsu makan menurun drastis dan sering sekali memegang erat bagian perutnya dan ketika saya tanya iya hanya menjawab kalau maag nya kambuh, padahal iya sedang menahan sakit yang diderita nya.." Bisik hati Mak Tua sangat sedih.


Dielusnya lembut kepala Encik Rafiq dengan air mata yang masih berlinang.


Encik Rafiq hanya diam membiarkan nya.


"Sekarang Mak tau alasan kenapa Tuan Muda memilih menceraikan semua istri Tuan.. " ucap Mak pelan.


Encik Rafiq menyunggingkan senyum.


"Mak.. Berjanjilah ini hanya rahasia kita.. Mak mau kan jaga Rafiq?? karna kemungkinan lambat laun penyakit ini akan semakin parah Mak... untuk mendapatkan donor ginjal yang cocok tidaklah mudah.. Dan Rafiq sangat pesimis untuk hal itu.. Cuci darah adalah jalan satu-satu nya untuk rafiq bisa bertahan saat ini Mak.. Tapi lambat laun, ketika tubuh ini sudah mulai lelah maka tidak menutup kemungknan suatu saat nanti cuci darahpun sudah tidak bisa berlaku lagi.. Dan ketika saat itu tiba, Rafiq harap Mak masih mau menjaga Rafiq sampai selesai ya Mak.. Rafiq mohon!! " ucap Encik Rafiq dengan mata berkaca-kaca meminta pada Mak Tua.


Mak Tua cuma bisa menangis terisak memeluk Encik Rafiq tanpa menjawab sepatah katapun lagi.


"Tuan pasti bisa sembuh... " ucapnya kemudian dengan suara tertahan.


"Aamiin.. " jawab Encik Rafiq mencoba mendoakan diri nya sendiri.


"Selain Mak, Cuma Sahrul yang tau tentang ini.. Saya sudah membuat wasiat tentang semua harta yang saya miliki Mak.. Sebagian juga sudah saya bagikan atas nama Mak Tua dan yang lain. Harta Zizi sendiri juga sudah saya kembalikan pada nya. Dan untuk Nadia juga anak kami, juga telah saya pastikan agar mereka tidak kekurangan sedikitpun. Sekarang harapan saya cuma satu Mak.. Bisa melihat Bayi kami lahir dengan selamat.. Dan Rafiq sangat ingin dapat mengumandangkan azan di telinga nya lalu berbisik tentang cinta yang begitu besar yang Rafiq miliki untuknya.. " ucap Encik Rafiq lagi sambil tersenyum membayangkan hayalan nya.


Mak mengangguk mengaminkan harapan Encik Rafiq, masih dengan deraian air mata yang mengalir deras di pelupuk mata tua nya.


"Sehatkan Tuan Muda ya ALLAH.. " bisiknya perih di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2