
Dua hari sudah Encik Rafiq pergi ke pulau Bintan.
Sebuah pulau yang terdapat di provinsi kepulauan riau yang beribukota di tanjung pinang.
Bintan merupakan salah satu pulau dengan destinasi wisata pantai yang begitu indah dan spektakuler. Dengan luas 23.000 hektar di atas pasir putih yang menghadap kearah laut cina selatan.
Sangat nyaman untuk wisatawan yang ingin menikmati pantai dengan dengan berbagai kegiatan seperti surfing dan ekowisata untuk para pelajar dan bahkan sangat ideal untuk bersantai menikmati indah nya alam dan sejuknya udara.
Nadia merasa sangat kecewa karena sejak kepergian nya, Encik Rafiq belum pernah memberi kabar tentang keberadaan nya di pulau sana.
Bahkan WA dari Nadia yang bertanya tentang kabarnya pun belum di balas sama sekali.
"By.. Diah rindu..!!" ucap Nadia sembari memeluk bantal guling di kamar Encik Rafiq.
Entahlah.
Perasaan Nadia begitu sedih malam ini.
Hujan gerimis yang turun diluar sana membuat suasana kamar semakin sunyi dan sepi.
Nadia benar-benar merindukan Encik Rafiq suaminya.
"Sungguh terlalu.. Teganya kamu gak memberi kabar sedikitpun By...!!! Apa kamu tidak rindu sama Diah By??? Apa cuma Diah aja yang rindu?? Apa kamu sebenar nya cuma mempermainkan perasaan Diah saja??" banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan prasangka buruk yang timbul di benak Nadia karena memikirkan Encik Rafiq yang tidak pernah memberi kabar pada nya.
Nadia akhir nya tertidur dalam tangisan menahan kerinduannya.
Pagi hari nya.
Dengan wajah lesu Nadia menikmati sarapan bersama Datuk Iskandar mertua nya.
"Diah.. kalau tak enak badan.. Tak payahlah pergi kuliah!" ujar Datuk Iskandar yang khawatir melihat wajah lesu sang menantu.
"Takpe lah Tuk.. Diah cuma kurang tidur je.. Tadi malam mata ni tak nak pejam.. padahal dah paksa tapi tak juga dapat tidur.." jawab Nadia dengan logat melayu nya.
"Sebab rindu lah tu.. !!" olok Datuk Iskandar sambil tersenyum.
" Tak payah risau.. Rafiq tu kalau kerja memang sering lupa segalanya.. Maklum aja lah... Nanti pasti akan mengabari Diah kalau kerjaan nya dah agak longgar" ujar Datuk lagi menenangkan Nadia.
__ADS_1
Nadia hanya mengangguk dan tersenyum.
Dan disepanjang perkuliahan Nadia benar-benar tidak dapat berkonsentrasi.
Fikiran nya jauh melayang merindui sang suami.
Kepala nya terasa amat berat.
Setelah jam kuliah selesai, Nadia segera pulang tanpa memperdulikan Lisa sahabatnya.
Dia bahkan sempat berbicara agak kasar ketika Kak Ridwan sang senior, mengajak nya menonton bioskop minggu besok.
"Maaf kak Diah tak bisa. Tolong berhenti mengejar-ngejar Diah!!" ujar nya dengan nada sedikit tinggi.
Kak Ridwan dan beberapa teman nya yang menyaksikan kejadian itu hanya terpana kaget mendengar ucapan Nadia yang kasar.
Bagi mereka ini pertama kali nya Nadia bersikap kasar dan tidak sopan terhadap orang lain.
Nadia tidak perduli.
Kepala nya terasa semakin berdenyut kencang.
Fikiran nya benar-benar kacau tidak karuan.
Sampai di rumah, Nadia segera menuju kedalam kamar nya.
Dan betapa kaget nya iya ketika mendapati Encik Rafiq yang tengah tertidur pulas di temoat tidur sambil memeluk boneka kesayangan nya.
"By...." ucap nya dengan nada tertahan menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata nya.
Encik Rafiq terbangun dari tidur nya.
Iya bangkit dan berjalan mendekat kearah Nadia.
"I Miss You So Much..." ujar nya sembari memeluk erat Nadia.
Nadia tidak lagi mampu menahan bedungan nya.
__ADS_1
Air mata nya tumpah dalam pelukan hangat sang suami.
"Maaf... Pekerjaan disana terlalu padat.. !!" ujar Encik Rafiq sembari menyeka air mata sang istri.
ucapan maaf nya kemudian dengan mudah meluluhkan semua amarah yang bergejolak di hati Nadia.
"By... Diah rindu...!!" ucap Nadia pula masih dalam tangis nya dan kembali memeluk sang suami dengan erat.
Encik Rafiq pun membalasnya dengan hangat.
Lagi dihapus nya air mata sang istri.
Dikecupnya pelan mata Nadia yang sembab.
Kemudian turun menuju bibir yang memang sudah merekah menanti di raup.
Mereka saling *****.
Saling meluahkan kerinduan.
Dan terus berlanjut tanpa jeda.
Saling membalas gigitan.
terus dan terus sembari berjalan kearah tempat tidur.
Kemudian tumpahlah semua hasrat kerinduan yang begitu bergejolak diatara Nadia dan Encik Rafiq.
Sore itu mereka kembali melepaskan pakaian mereka dan membiarkan nya terserak jatuh di atas lantai.
Terus berlanjut di bawah tetesan shower yang terdapat di dalam kamar mandi yang hanya berukuran minimalis.
Saling meluahkan hasrat kerinduan yang terpendam begitu besar.
"I love you" ucap Encik Rafiq lagi sambil mengeringkan rambut Nadia dengan haduk kecil di tangan nya.
"I love you too" jawab Nadia dengan senyum sumeringah bahagia.
__ADS_1
Denyut dikepalanya pun telah hilang bersama rindu yang telah terbayarkan dengan lunas.