
Encik Rafiq duduk dengan gelisah di kursi pesawat yang akan membawanya kembali pulang ketempat asal.
Kabar dari Mak Tua mengenai Nadia yang sedang di rawat dirumah sakit membuatnya gelisah tidak karuan.
Encik Rafiq benar-benar merasa amat bersalah.
"Fik.. Kenapa? ada masalah? gelisah sekali ?" tanya Zizi yang duduk di kursi sebelah nya.
Zizi merasa agak terganggu dengan kelakuan Encik Rafiq yang sedari tadi tidak dapat duduk dengan tenang.
Terlihat jelas wajah kusut dan gelisah tidak menentu.
"Nadia masuk rumah sakit kemarin malam" jawab Encik Rafiq jujur pada Zizi.
"Perempuan itu lagi.. Paling juga akal bulus untuk mencari perhatian darimu" jawab Zizi dengan sinis.
"Dia bukan wanita seperti yang kamu bayangkan. Dia wanita yang sangat sederhana dan baik. Berhentilah membencinya. Cobalah untuk menerima Dia Zi.." ujar Encik Rafiq membela Nadia.
"Aku janji akan berusaha adil untuk kalian berdua.. Please Zi...!!?" ujar Encik Rafiq lagi memohon pada Zizi untuk bisa menerima Nadia sebagai madu nya.
__ADS_1
"Kamu udah Gila ya Fik.. Aku fikir setelah apa yang sudah kita lalui kemarin di Bintan, Kamu akan berubah dan kembali mencintai ku. Aku istri sah kamu Fik..!!! Akulah yang berhak atas kamu. Bukan perempuan itu.!!! Dan sampai kapanpun Aku tidak akan pernah bisa menerima nya sebagai madu ku..!" jawab Nadia pelan tapi sangat tegas dan jelas terdengar di gendang telinga Encik Rafiq.
"Kamu pilih Aku.. Atau perempuan kampung itu!!?? Ingat Fik.. kita baru saja mengumumkan pada dunia kalau kita baik-baik saja dan tidak ada orang ketiga dalam hubungan kita. Aku mau kamu segera menceraikan nya.. Aku lah istri mu. Istri sah kamu.! Cuma Aku yang pantas mendampingi kamu selamanya. Ayolah Fik.. Kita perbaiki semuanya.. kita selesaikan proyek ini dengan lancar dan kita bangun Belibis Group menjadi perusahaan terbesar di negara ini.. Okey..!!" Ujar Zizi lagi panjang lebar.
Tak satupun lagi kata yang keluar dari bibir Encik Rafiq.
Mana mungkin iya sanggup menceraikan Nadia.
Wanita yang begitu tulus mencintai dirinya.
"Phufh..." Encik Menghela nafas dalam.
Fikiran nya benar-benar kacau.
Sejujurnya Dia memang nyaris melupakan Nadia selama 4 hari di Bintan.
Kecantikan dan kepintaran Zizi membuat hatinya kembali luluh dan kembali mengagumi perempuan yang pernah menyakiti dan meninggalkannya bertahun-tahun.
Tetapi itu hanya sejenak.
__ADS_1
Dan kabar dari Mak Tua segera menyadarkan dirinya. Dan Nadia tentu saja ternyata masih menjadi prioritas utama di dalam hati terdalam Encik Rafiq.
Encik Rafiq begitu gelisah dan khawatir.
Dia ingin sekali segera sampai langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi kesehatan Nadia lalu meminta maaf dan mencoba menjelaskan semua nya kepada Nadia termasuk perihal gosip murahan yang akan menjadi boomerang bagi proyek yang sedang dalam tahap pengerjaan sehingga iya terpaksa membawa serta Zizi dalam rapat di proyek Bintan.
Dan iya sungguh berharap Nadia akan mengerti dan memahami dengan penjelasan nya dan mau memaafkan dirinya.
Setiba nya di rumah, Encik Rafiq bergegas untuk membersihkan dirinya dan setelah itu Dia berencana untuk segera kerumah sakit, tempat Nadia dirawat inap.
"Fik.. Kamu mau kemana??" tanya Zizi yang melihat Encik Rafiq sedang bersiap untuk keluar kamar.
"Aku harus jenguk Nadia" jawab Encik Rafiq singkat.
"Fik... Kamu gak bisa ke sana.. Apa kata orang nanti nya?? Kita baru saja memperbaiki gosip miring tentang keluarga kita.. Dan sekarang kamu mau pergi jenguk perempuan itu lagi..?? Rumah sakit itu tempat umum Fik.. Disana banyak orang.. Bisa saja satu dari mereka memperhatikanmu lalu semua yang sudah kita usahakan menjadi sia-sia... Please gak usah pergi..!" Ujar Zizi pula.
Encik Rafiq terpaku terdiam.
Langkah nya terhenti.
__ADS_1
Omongan Zizi ada benar nya dan iya tidak ingin kerja kerasnya selama di Bintan sia-sia.
Akhirnya Encik Rafiq mengurungkan niat nya menjenguk Nadia di rumah sakit.